
Keesokan harinya, matahari mulai menampakan dirinya dengan malu-malu, sinarnya sebagian masuk diselah-selah horden. Tampak Rany mengeliat meregangkan tangan dan badannya.
Rany bernjak dari tempat tidur dan langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersikan diri. Lima menit kemudian dia keluar lalu tatapannya tertuju pada jam dinding yang sudah menunjukan pukul 07.00.
"Ana sudah bangun apa belum ya?" Rany berjalan keluar kamar sekilas menatap pintu kamar Ana yang masih tertutup dengan rapat.
"Tumben jam begini dia belum bagun, biasanya juga jam begini dia telah subuk di dapur" Rany berjalan menuju dapur dan menyiapkan sarapan pagi.
Triing....
Bel pintu berdering, Rany menoleh ke belakang."Siapa ya?" ucap Rany pelan.
Rany berjalan sesekitar lima langkah lalu berhenti setelah dia dapat melihat pintu dengan jelas.
"Siapa?" tanya Rany sedikit berteriak agar dapat di dengar.
"Kana tante" sahut Kana dari luar.
"Oh Kana, tunggu sebentar ya! " Rany berjalan menuju pintu.
"Pagi tante" sapa Kana setelah pintu berhasil dibuka.
"Pagi. Ayo masuk!" jawab Rany sambil tersenyum.
"Pagi-pagi sudah rapi saja, kalian mau keluar ya?" tanya Rany diselah-selah langkah mereka.
"Iya nih, aku ingin mengajak Ana keluar jalan-jalan berharap Ana sedikit melupakan masalahnya" jawab Kana.
"Hmm, kamu benar. Tante setuju dengan idemu".
"Ana sudah bangun ya?" Rany mengeleng "Belum, kamu langsung ke kamarnya saja!. Tante mau lanjut masak"
"Baiklah" Kana berjalan menuju kamar Ana sementara Rany kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertuda.
Tok.... Tok
"Ana....." pangil Kana di depan pintu. "Apa masih dia masih tidur?" batin Kana.
"Ana aku masuk ya?" Kana meraih gagang pintu memutarnya dan pintu berhasil dibuka.
Kana berjalan masuk lalu menyalakan lampu kamar Ana. Lampu berhasil menyala menerangi kamar yang nampak kosong dan juga rapi.
"Loh ngak ada, tadi kata tante dia masih tidur. Apa dia lagi mandi ya?" Kana berjalan menuju kamar mandi untuk mengecek apakah Ana berada disana.
"Ana... kamu di dalam?" ucap Kana dibalik pintu. Mendengar tidak ada sahutan dari dalam Kana memutuskan untuk melihatnya langsung.
"Kamar mandi juga kosong. Lah terus Ana kemana?" Kana berjalan keluar tak lupa kembali mematikan lampu kamar dan menutup pintu.
"Gimana?, apa Ananya masih tidur?" tanya Rany sambil mengatur beberapa jenis masakan di atas meja makan.
"Ana ngak ada di kamar tante" sahut Kana dengan kedua tanganya menyanggah di meja makan.
"Masa sih?" Rany menatap Kana tak percaya.
"Benar tente, aku bahkan sudah melihatnya di kamar mandi tapi Ananya ngak ada juga" sahut Kana berusaha meyakinkan Rany.
"Tapi Ana belum ke kamana-mana loh, dia kalau mau pergi pasti pamit sama tente dulu" ucap Rany.
Deg
Kana menatap Rany serius perasaannya mulai tidak enak.
"Apa kita cek kembali ke kamarnya?, mungkin saja Ana sudah kembali" ucap Kana langsung mendapat anggukan kepala dari Rany.
Keduanya melangkah menuju kamar Ana. Rany lebih dulu masuk dan disusul oleh Kana dari belakang. Kana kembali menyalakan lampu kamar Ana.
"Loh, kemana perginya anak itu?" Rany berjalan menuju kamar mandi sementara Kana berjalan mendekati meja yang berada di dekat tempat tidur.
"Kertas apa ini?" Kana meraih kertas di atas meja.
"Tante, sepertinya ada surat" ucap Kana menoleh ke arah Rany.
"Surat?" Rany binggung "Iya, nih tante lihat" sahut Kana menunjukan selembar kertas di tangan kanannya. Rany yang melihat itu segera berjalan menghampirinya.
"Surat apa?, sini biar tante lihat!" Rany mengambil surat dari tangan Kana lalu secara bersamaan mereka membaca isi surat.
Ma, jika mama menemukan surat ini. Itu berati aku telah pergi. Maafkan aku ma. Aku sudah banyak menyusahkan mama, membuat mama malu, dan masih banyak kesalahan-kesalahan aku yang akan memakan waktu jika dihitung satu persatu. Oh iya ma, jika mama membaca surat ini, mama jangan nangis ya!, apalagi khawatir, kerena aku akan sedih jika mnegetahui itu. Mama tidak perlu khawatir aku pasti baik-baik saja.
Ana
Deg.
"Ngak, ngak mungkin, Ana.....kamu jangan tinggalin mama" teriak Rany histeris.
Tampak kedua sudut matanya sudah menganak sungai, menjatuhkan selembar kertas di tanganya, tubuhnya gemetar lalu terjatuh.
"Tante, tante ngak apa-apa kan?" Kana dengan segenap kekuatanya menahan tubuh Rany agar tidak jatuh ke lantai dan membantu Rany duduk di atas tempat tidur.
"Sebentar ya, Kana ambilkan minum" Kana berlari menuju dapur, selang beberapa menit Kana kembali membawah segelas air putih di tangan kanannya.
"Nih tante minum dulu biar tenang" ucap Kana memberikan segelas air putih.
Kana mengeluarkan ponsel dari tasnya, menyalakan layar ponselnya dan menekan aplikasi kontak. Setelah berhasil menemukan kontak Ana, Kana pun mencoba menghubunginya.
Nomor yang anda tujuh sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan cobalah beberapa saat lagi.
"Anaa... kamu di mana sih?" gumam Kana lalu kembali menghubunginya namun hasilnya sama.
"Bagaiaman Na?, apa nomornya aktif?! Rany menatap Kana. Kana mengelengkan kepala "Nomonya sudah tidak aktif tante" sahut Kana.
"Ya ampun Ana..., kamu mau kemana sih?" ucap Rany khawatir. "Aku ngak bisa diam begini aku harus mencarinya" batin Rany.
Rany bangkit dari duduknya tak lupa menghapus air matanya.
"Loh tante mau kemana?" Kana berusaha mencega Rany.
"Kana... ayo kita cari Ana dia pasti belum jauh dari sini!" ucap Rany lalu menarik tangan Kana agar segera ikut denganya.
"Pakai mobil aku saja tante" ucap Kana, Rany menganguk "Ya udah ayo!, sebelum Ana jauh" ucap Rany.
Keduanya berjalan menuju mobil dan masuk. Deru kendaraan membawa jauh dari halaman rumah Ana.
"Ana....kamu ke mana sih?, ngapai pakai acara pergi dari rumah sih?. Buat mama khawatir saja, apa lagi kamu sedang hamil bagaimana bisa mama ngak khawatir coba? "ucap Rany tatapannya menyusuri jalan berharap dia dapat melihat putrinya.
"Tante, apa tante punya kerabat terdekat?, siapa tahu saja Ana pergi ke sana untuk menenangkan pikirannya" ucap Kana sesekali melihat jalan dan juga Rany yang duduk di sampingnya.
"Ngak ada, nenek Ana juga sudah lama meninggal jadi kita tidak punya kerabat lain" sahut Rany mulai panik.
"Tante tenang dulu ya, kita pasti bisa menemui Ana" ucap Kana berusaha menenangkan Rany, ya walaupun dia sendiri tidak yakin dengan apa yang di ucapkannya.
"Apa kalian punya tempat-tempat yang biaa kalian kunjungi saat pergi berdua?" tanya Rany menatap Kana dari samping.
"Hmm, kami bisanya hanya pergi berkunjung ke tempat wisata terdekat, tapi kalau ngak salah ingat tahun kemarin kita pergi ke puncak lalu menginap disana" sahut Kana.
"Puncak?" Kana mengagguk "Benar tante, kita menginap di sana sekitar 3 hari" sahut Kana lagi.
"Ya udah, kenapa kita tidak kesana saja?, siapa tahu Ana pergi ke sana untuk menenangkan diri" ucap Rany.
"Biasa jadi gitu tante" ucap Kana sedikit berpikir.
"Bisa kan kamu temani tante ke sana mencari Ana?"
"Tentu saja tente!, Kana akan menemani tante mencari Ana. Kita kesana sekarang" Kana melajukan mobilnya menuju puncak.
"Terima kasih Na" Kana tersenyum"Sama-sama tente"
Keduanya diam, Kana sesekali melirik Rany, sangat jelas terlihat rasa khawatir di raut wajahnya, terus memandangi jalan berharap bisa menemukan Ana di sana.
"Ana,...semoga kamu ada di sana!, kasihan tente jika terus mengkhawatirkanmu" gumam Kana dalam hati.
4 jam telah berlalu, Rany menatap Kana yang masih terlihat fokus mengemudi.
"Apa tempatnya jauh?" Kana menangguk "Malam kita akan sampai di sana" sahut Kana. "Tante tidur saja jika sudah mengantuk!" sambung Kana.
"Tante belum mengantuk nak, kamu pasti sudah lapar, bagaimana kalau kita mampir sebentar untuk makan?, perjalanan kita masih jauh loh" ucap Rany.
"Aku ngak selerah makan tente, tapi jika tante ingin makan kita mampir sebentar dulu" sahut Kana.
"Sama tante juga ngak selerah makan, tente terus kepikiran sama Ana, dia belum pernah pergi jauh-jauh seorang sendiri" ucap Rany khawatir.
Kana diam, mencoba mengingat tempat yang mungkin Ana bisa kunjungi, namun seberapa kuat dia berpikir, puncaklah satu-satunya tempat yang terus ada di pikirannya.