
Setelah cukup lama dalam perjalanan, mobil Ana pun berhenti tepat di depan pintu pagar kediaman Keluarga Saguna. Sekuriti yang bertugas berjaga di depan pun segera membuka pintu pagar dan menghampiri Ana yang juga keluar dari mobil.
"Nona Ana" sekuriti terkejut saat tahu yang datang adalah mantan istri tuan muda.
"Pak Arsenionya ada?" tanya Ana menyadarkan sekuriti yang berdiri di depannya.
"Maaf nona, tuan Arsenio lagi tidak ada di rumah" jawab sekuriti.
"Tadi sih ada nona, cuma pergi lagi" sambung sekuriti.
"Apa bapak lihat, pak Arsenio membawah seorang anak kecil yang usiannya mendekati 4 tahun?" tanya Ana.
"Maaf nona, kalau itu saya kurang tahu" jawab sekuriti lagi.
"Ya tuhan kamu dimana sih nak?" batin Ana.
"Oh iya makasih ya pak, permisi" Ana berjalan dan kembali masuk ke dalam mobil.
"Iya sama-sama nona" sahut sekuriti yang masih dapat didengar oleh Ana.
"Aku harus telefon Kana siapa tahu dia yang datang menjemput Alvis" Ana mengeluarkan ponselnya lalu menelefon Kana.
Disaat yang sama tampak Kana sedang berada di kantin bersama, Fino dan juga Lastri.
"Tunggu sebentar ya, Ana menelfon" ucap Kana yang langsung mendapat anggukan kepala dari Fino dan Lastri.
📞"Halo An"
📞"Na, apa kamu menjemput Alvis di sekolahnya?" tanya Ana to the point.
📞"Tidak, aku tidak menjemputnya. Memangnya kenapa An?"
📞"Alvis ngak ada di sekolah, kata ibu gurunya dia telah di jemput ayahnya, terus aku sudah cek di rumah pak Arsenio namun pak Arsenio tidak ada dirumah, aku juga sudah tanya sama sekuriti di rumah ini tapi dia juga ngak tahu Na" jelas Ana
📞"Kamu tenang ya!, aku kesana sekarang!" ucap Kana.
📞"Iya, kamu hati-hati ya"
Sambungan telefon terputus, Kana bangkit dari duduknya.
"Loh mau kemana kamu?" tanya Fino dan Lastri bersamaan.
"Maaf aku harus pergi, keponakannku hilang dan aku harus membantu Ana mencarinya " ucap Kana lalu melangkah pergi.
Setenga jam Ana menunggu, akhirnya Kana sampai, Ana dan Kana pun Sama-sama keluar dari mobilnya masing-masing.
"Kana... " ucap Ana berlari memeluk Kana.
"Aku takut Na, aku benar-benar takut kehilangan Alvis" ucap Ana dengan isak tangsis. Sekuriti yang melihat itu pun mengerutkan dahi binggung.
"Kamu tenang dulu, kenapa kamu tidak coba hubungi ayahmu siapa tahu saja dia yang menjemput Alvis disekolah" ucap Kana.
Ana yang mendengarnya segera melepaskan pelukannya dan langsung menghapus air matanya "Kamu benar, aku harus menelefon papa" ucap Ana lalu dengan cepat menghubungi ayahnya.
Di rumah sakit, semua terihat masih terus menunggu kabar dokter selesai memiksa keadaan Nicholas, dering ponsel Gibran membuat Alin, Sarah dan juga Clarissa melihat kearahnya. Gibran yang mendengarnya segera mengeluarkan ponselnya dari sakunya menatap nama yang terterah di layar ponselnya "Ana" gumam Gibran dalam hati.
Gibran bergantian menatap Alin dan juga Sarah "Aku angkat telefon sebentar" ucap Gibran lalu berjalan sedikit lebih jauh dari Alin, Sarah dan juha Clarissa.
📞"Halo nak" ucap Gibran.
📞"Halo pa, papa yang jemput Alvis ya di sekolahnya?"
"Jadi Arsenio tidak memberitahukan Ana kalau dia telah menjemput Alvis" pikir Gibran.
📞"Halo pa, papa dengar kan apa yang Ana katakan barusan?"
📞"Iya Nak, papa dengar kok. Bukan papa yang menjemput Alvis tapi Arsenio. Tadi Arsenio membawah Alvis ke rumah" jawab Gibran
📞"Jadi maksud papa Alvis ada di rumah pak Arsenio?"
📞"Tadi sih gitu, tapi Arsenio membawah Alvis pergi, papa pikir dia pergi ingin membawah Alvis pulang"
📞"Apa aku cek dulu di rumah ya pa?" tanya Ana.
📞"Sebaiknya begitu, tapi kamu tidak perlu khawatir, papa yakin Alvis pasti aman bersama Arsenio"
📞"Ya udah pa aku mau cek Alvis ke rumah" ucap Ana.
📞"Iya"
"Siapa yang menelfon?" tanya Alin curiga.
"Aku harus menjawab jujur agar mereka tahu kalau Arsenio menggambil Alvis tanpa izin Ana" pikir Gibran.
"Pa jawab!, siapa yang menelfon barusan?" Clarissa dan Sarah pun ikut menatap Gibran.
"Ana" jawab Gibran.
"Ana?" ucap Alin, Sarah dan Clarissa bersamaan.
"Benar, ternyata Arsenio mengambil Alvis di sekolahnya tanpa sepengetahuan Ana, dan sekarang Ana sedang mencari Arsenio untuk mengambil Alvis" jelas Gibran.
"Aku ngak bisa biarin wanita m**h*an itu terus-terusan bertemu dengan Arsenio!. Aku harus secepatnya menyingkirkan Ana kalau perlu dengan anaknya sekalian" pikir Clarissa.
"Sial, tapi aku masih terjebak disini!, menunggu kakek tua itu. Kenapa ngak sekalian mati saja, menyusahkan sekali!" pikir Clarissa lagi.
"Itu pasti hanya akal-akalan wanita itu, agar bisa bertemu Arsenio. Dasar perempuan penggoda!" ucap Alin.
"Cukup!" bentak Gibran
Alin dan Sarah dan Clarissa pun terkejut.
"Bisa ngak sekali saja kamu tidak menilai buruk Ana?" lanjut Gibran.
"Kenapa?, apa kamu juga sekarang sudah menyukai wanita itu?, apa dia telah mengodamu juga?" ucap Alin yang kembali tersulut emosi.
"Cukup!, aku bilang cukup!. Orang tua mana yang ngak sakit hati jika anaknya terus-terusan di hina!" ucap Gibran dengan wajah memerah karena mencoba menahan emosinya.
"Maksud omongan pak Gibran apa?" Clarissa mengerutkan dahi binggung.
"Oh jadi Ana itu anakmu!, pantas saja kamu selalu diam saat topik pembicaraan tentang Ana" ucap Sarah.
"Jadi benar, Ana itu anak kamu dengan Rany?" tanya Alin yang kini sedah menarik kerak baju suaminya.
"Alin mohon jaga sikapmu, kita lagi di rumah sakit!" ucap Sarah.
"Apa-apaan ini, ko aku makin ngak ngerti?" pikir Clarissa.
"Iya dia anakku, yang aku tinggal waktu dia masih dalam kandungan hanya untuk menyelamatkan kamu!" jawab Gibran.
Alin yang mendengarnya seketika seluruh tubuhnya lemas, berlahan-lahan melepaskan kerak baju Gibran, pandanganya berlahan-lahan buram dan pada akhirnya terjatuh tak sadarkan diri.
"Chii, dasar keluarga penyakitan!. Dengar berita besar dikit pingsan, terus masuk rumah sakit, sungguh menyusahkan" batin Clarissa lalu menghela nafas panjang.
"Alin.. " pangil Sarah berusaha membangunkan putrinya. Sementara Gibran pergi memangil suster.
"Ma...mama kenapa?, mama harus bangun" ucap Clarissa yang juga ikut membangunkan Alin.
Gibran kembali bersama beberapa suster dan Alin pun segera di bawah masuk ke ruang rawat.
"Maafkan aku ma" ucap Gibran pada Sarah.
"Ngak apa-apa, bukan salah kamu kok!" ucap Sarah.
"Terlalu banyak darama di keluarga ini!" batin Clarissa lalu berjalan sedikit menjauh dari Sarah dan Gibran, segera mengeluarkan ponselnya lalu menelfon seseorang.
Diwaktu yang sama Ana dan Kana tampak keluar dari rumah Ana. Ana terus saja berjalan kesana-kemari hal itu membuat Kana pusing.
"Sudahlah jangan jalan kesana-kemari terus!, apa kamu gak lelah?" ucap Kana.
"Na aku lagi panik loh, bagaimana kalau Arsenio tidak mengembalikan Alvis lagi?, aku bisa gila tahu!" ucap Ana.
"Aku yakin, Arsenio tidak akan berlama-lama dengan Alvis karena aku yakin Alvis akan terus-terusan memintanya untuk membawahnya pulang" ucap Kana berusaha menenangkan Ana.
"Siapa tahu dia hanya, ingin membawa Alvis jalan-jalan, dikit lagi sore pasti Arsenio akan membawahnya pulang" lanjut Kana.
Ana yang mendengar itu pun akhiranya berhenti berjalan kesana-kemari lalu duduk di kursi yang ada di depan rumah Kana yang melihat itu pun juga ikut duduk.
"Apa tante sudah mau bicara dengamu?" tanya Kana menatap Ana dari samping.
Ana mengeleng "Belum Na, bahkan mama belum juga keluar kamar, mungkin pernah keluar, tapi bertepatan aku lagi gak ada di rumah" jelas Ana.
"Kamu yang sabar ya, aku yakin tante akan memaafkanmu hanya saja dia membutukan waktu untuk bisa memaafkanmu" ucap Kana sambil mengelus-ngelus bahu Ana.
"Terima kasih, kamu selalu berhasil menenagkan aku, aku ngak bisa bayangkan kalau kamu ngak ada disini pasti aku sudah panik dan tidak tahu harus berbuat apa"
"Iya sama-sama" jawab Kana sambil tersenyum.