
"Mas, sepertinya kamu terlalu erat memeluku, aku sudah hampir kehabisan nafas loh" ucap Ana yang membuat Arsenio segera melepaskan pelukannya.
"Maaf sayang, maaf. Habisnya aku senang sekali" ucap Arsenio.
"Sayang, aku ngak sedang bermimpi kana?" tanya Arsenio, sementara Ana mengelengkan kepalanya.
"Kamu tidak bermimpi sayang, ini nyata" sahut Ana.
"Apa... apa, boleh di ulangi kata yang barusan kamu ucapakan?"
"Kamu tidak bermimpi, ini nyata" ucap Ana mengulanginya lagi.
Arsenio mengelengkan kepala "Ngak sayang, ada satu kata yang terlupakan, coba di sebutkan lagi!"
"Ini nyata?"
"Bukan sayang"
"Bermimpi?"
"Bukan"
Ana mengerutkan dahi bingung "Lalu apa?, Sayang?" ucap Ana.
"Nah itu dia, bisa di ulangi lagi, aku ingin mendengarnya, ucapkan lebih panjang"
Ana menghela nafas lalu menuruti keinginan suaminya.
"Saaayaaaaang" ucap Ana.
Arsenio kembali memeluk Ana, namun kali ini ia tidak memperat pelukannya mengingat Ana akan kesulitan bernafas.
"Aku ingin kamu memangilku dengan sebutan itu, bisa kan?" bisik Arsenio.
Ana melepaskan pelukannya "Ngak, aku ngak mau" ucap Ana lalu berjalan keluar dari ruangan suaminya.
"Loh kenapa?, kenapa ngak mau?" ucap Arsenio namun tidak di pedulikan oleh Ana.
"Hey sayang mau kemana?, tungguin aku dong" ujar Arsenio lalu ikut menyusul istrinya.
Di waktu yang bersamaan tampak Rangga melajukan mobilnya menuju kantor di mana Kana bekerja, setelah beberapa menit dalam perjalanan ia pun sampai dan segera mematikan mesin mobilnya.
Dikeluarkanya benda kecil dari sakunya lalu segera melakukan pangilan.
📞"Halo, selamat sore" ucap Rangga setelah sambungan telefon terhubung.
📞"Sore pak" sahut Kana dari seberang.
📞"Saya sudah di depan" ucap Rangga.
📞"Baik pak, saya kesana sekarang"
Sambungan telefon pun terputus Rangga tampak kembali memasukan ponselnya ke sakunya.
Selang beberapa menit, tampak Kana berjalan keluar dari kantornya, namun seseorang dari belakang segera menceganya, hal itu tak luput dari pandangan Rangga.
"Eh bapak, ada apa ya?" tanya Ana menoleh ke arah pria yang mencegahnya keluar.
"Mau pulang ya?" tanya pria itu.
Kana menggangguk "Iya pak. maaf pak tangan saya" ucap Kana sambil melihat ke arah tanganya yang masih terus di genggam oleh pria itu.
Pria itu adalah Reza yang merupakan CEO di kantornya.
"Sepertinya kamu tidak bawah mobil" ucap Reza dengan pandangan ke tempat parkiran dimana Kana sering memarkir mobilnya di sana.
"Benar pak, mobil saya memiliki sedikit kerusakan, lagi saya masukan ke bengkel" sahut Kana.
"Kalau begitu biar saya antar pulang" ucap Reza menatap Kana.
"Ya tuhan, demi apa ini pak Reza mau antar aku pulang" pikir Kana.
"Helo Kana!" ucap Reza yang menyadarkan lamunannya.
"Aduh gimana ya pak. Terima kasih sudah mengajak saya tapi.."
"Tapi kenapa?" tanya Reza menunggu jawaban dari Karyawannya itu.
"Tapi saya sudah ada jemputan" lanjut Kana sambil melihat ke arah mobil Rangga yang dimana Rangga juga berdiri di samping mobilnya sementara Reza pun ikut menatap ke arah yang sama.
Reza kembali menatap Kana "Apa dia pacarmu?" tanya Reza serius.
"Bukan pak, bukan. Dia bukan pacar saya ko" ucap Kana cepat.
Reza kembali meraih rangan Kana lalu berkata "Kenapa tidak pulang bareng saya saja?, toh yang jemput bukan pacar kamu"
"Mau ngapai pria itu?, apa jangan-jangan dia mau macam-macam lagi sama si cerewet itu" ucap Rangga lalu perlahan berjalan menghampiri mereka.
Karena jarak mereka cukup dekat maka Rangga masih dapat mendengar ucapan pria itu segera mempercepat langkahnya.
"Ngak bisa, dia harus pulang bersama saya!" ucap Rangga yang langsung merangkul Kana hal itu membuat Kana terkejut.
"Dan tangannya sudah bisa di lepas" lanjut Rangga.
Sementara Reza tidak bergeming sedikitpun dan hanya menatap Rangga dengan tatapan tidak suka.
"Sepertinya pria ini tidak begitu asing, aku sering kali melihatnya. Tapi di mana ya?" pikir Reza.
"Eh ngak mau di lepas, malah ngelamun" pikir Rangga yang langsung melepaskan tangan Reza dari tangan Kana.
"Apa-apaan ini, kamu siapa berani-beraninya bersikap seperti itu padaku. Toh anda bukan pacarnya" ucap Reza dengan tatapan tidak suka.
"Aduh kenapa jadi begini sih🤦, ini lagi pak Rangga ngapai pakai acara merangkulku segala?. Bisa-bisa pak Reza salah paham nih" pikir Kana lalu hendak bergerak menjauh namun segera di cegah oleh Rangga.
"Siapa bilang saya bukan pacarnya?, kami berdua baru saja jadian, jadi saya punya hak lebih dari pada bapak" ucap Rangga yang membuat Kana terperangah.
Mendengar itu Reza segera menatap Kana yang nampak terkejut dengan ucapan Rangga.
"Apa benar apa yang dikatakan dia barusan?, bukannya tadi kamu bilang.... "
"Bilang kalau saya bukan pacarnya?. Maaf dia memang suka begitu kalau lagi ngambek, suka ngak ngaku kalau sudah punya pacar" ucap Rangga sebelum Reza menyelesaikan ucapannya. Hal itu lagi-lagi membuat Kana terkejut.
"Ngak bisa diam nih!, harus di perjelas" pikir Kana.
"Sepertinya... "
"Sudah sayang, ngak perlu di jelasin, dia sudah paham ko. Karena semuanya sudah jelas, kami pamit pergi" ucap Rangga lalu menarik tangan Kana.
Sementara Kana menoleh ke belakang "Maaf pak saya harus pergi" ucap Kana namun Reza nampak diam dan hanya menatap mereka hingga mobil yang di kendarai Rangga hilang dari pandanganya.