My Love Story

My Love Story
Bab 103



Semuannya tampak diam, asik dengan pikirannya masing-masing, tatapan Arsenio tertuju pada Rangga yang dimama Rangga saat ini masih memeluk Alvis.


Rangga yang sadar akan hal itu pun membujuk Alvis agar mau di turunkan.


"Itu aunt, Alvis mau pergi sama aunt?, kalau mau uncle antar" ucap Rangga.


Kana Sarah Gibran dan Rany pun ikut menatap Rangga dan juga Alvis.


"Aku ngak mau 'sambil menggelengkan kepalanya' Oma tadi marah-marah Alvis kan masih takut, maunya sama uncle saja" sahut Alvis.


"Atau Alvis mau sama daddy?" tanya Rangga lagi,


Seketika semua mata beralih pada Arsenio termasuk Alvis.


"Ayo sini sayang sama daddy" ucap Arsenio lalu duduk berjongkok dengan kedua tanganya diluruskan kedepan.


"Alvis mau?" tanya Rangga memastikan.


Alvis menggangguk "Iya uncle" sahutnya, Rangga yang mendengarnya pun menutunkan Alvis.


Alvis berlari dan langsung memeluk Arsenio.


"Uh sayang anak daddy" Arsenio kembali berdiri dengan Alvis yang sudah berada di pelukannya.


"Alvis mau lihat mommy?, kita bisa lihat mommy dari sini, tuh lihatnya lewat kaca" ucap Arsenio.


"Mau... mau, aku mau daddy" sahut Alvis girang.


"Baiklah, kita lihat mommy ya" Arsenio berjalan mendekati jendela menuntun Alvis agar mendekatkan wajahnya ke kaca jendela.


"Bisa ngak lihat mommynya?" tanya Arsenio yang juga ikut mendekatkan wajahnya ke kaca jendela.


"Bisa daddy, tuh mommy lagi tidur" jawab Alvis.


"Sepertinya aku harus memastikan langsung, apa benar Clarissa yang telah menculik Ana" pikir Nicholas.


Pandangan Nicholas beralih pada putrinya yang duduk bersampingan dengan suaminya. Nicholas berjalan menghamlirinya, menarik tangan Alin agar segerah berdiri.


"Ada apa pa?" Alin menatap Ayahnya dengan posisi sudah berdiri.


"Kamu harus ikut papa" ucap Nicholas.


"Memangnya kita mau ke mana?" tanya Alin lagi.


"Udah ikut saja, nanti di mobil baru papa beritahu" ucap Nicholas dengan terus mengengam tangan putrinya.


"Tapi pa... Aku kan masih..in" Nicholas menarik tangan Alin sebelum Alin menyelesaikan ucapannya, mereka tampak berjalan keluar.


Sementara yang lainnya hanya bisa menatap kepergian mereka tanpa bertanya.


Arsenio yang juga ikut mendengar percakapan kakek dan ibunya segerah menoleh ke arah Rangga.


"Rangga" pangil Arsenio.


"Iya tuan" sahut Rangga sambil berjalan menghpirinya.


"Kau ikuti mereka, dan beritahu saya apa yang mereka lakukan!" pinta Arsenio.


"Baik tuan" sahut Rangga sedikit menundukan kepalannya.


"Dan satu lagi, kau sekalian pergi ke kantor polisi pastikan semuanya berjalan sesuai rencana" lanjut Arsenio dengan suara pelan.


"Baik tuan" sahut Rangga lagi. Rangga pun berbalik dan berlalu pergi.


"Daddy" pagil Alvis dengan posisi yang sama.


"Iya sayang, ada apa?"


"Kenapa aku ngak bisa masuk?, aku kan ingin menjaga mommy"


"Siapa bilang anak daddy ngak bisa masuk?. Alvis bisa masuk ko, tapi bukan sekarang waktunya, mommy kan masih istirahat" ucap Arsenio.


"Oooo, nanti mommy sudah selesai istirahatnya baru itu aku bisa masuk?"


"Iya sayang" Arsenio menepuk lembut kepala putranya.


Kana menghela nafas panjang "Hmm, pemandangan yang indah" pikir Kana dengan tatapan tertuju pada Arsenio dan juga Alvis.


Sementara Rany menatap Sarah dari samping "Sepertinya sudah saatnya menjawab pertanyaanku" ujar Rany.


Sarah, Kana dan Gibran pun menatap kearahnya.


"Oh tentu saja, pertanyaan apapun itu saya pasti akan menjawabnya" jawab Sarah.


"Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi!, kenapa anak saya bisa masuk rumah sakit?" ucap Rany serius.


"Sebelumnya saya minta maaf, beberapa hari lalu Ana di culik"


"Di culik?" ucap Rany dan Kana terkejut.


Sarah menggangguk "Benar, tapi jangan khawatir kami sudah menemukan pelaku dari penculikan itu, sekarang mereka masih dalam penanganan polisi" jelas Sarah.


"Ya tuhan, siapa sih yang tega menculik Ana, dan lagi satu memangnya Ana salah apa sampai-sampai mereka menculik Ana?" ucap Kana tak habis pikir.


"Terus kenapa tidak bemberitahu saya kalau Ana di culik, saya kan ibunya saya juga berhak tahu keadaan anak saya" ucap Rany yang mulai tersulut emosi.


"Kalau soal itu, saya kurang tahu. Kami pun baru tahu setelah Ana masuk rumah sakit" sahut Sarah.


Rany yang mendengarnya menyapu kasar wajahnya, kini tatapannya tertuju pada sosok Arsenio yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Ini semua salahmu!" Rany bangkit dari duduknya berjalan menghampiri Arsenio.


Sarah, Kana dan juga Gibran yang melihatnya pun ikut bangkit dari duduknya.


Sementara Arsenio yang mendengar suara mertuanya pun menoleh ke belakang, ia pun terkejut mendapati Rany sudah berdiri di dekatnya.


"Ana seperti sekarang ini, itu semua karena kamu!" ucap Rany lagi.


"Sayang, pergi sama opa dulu ya!" ucap Arsenio dengan suara selembut mungkin,


Arsenio berganti menatap mertuanya "Saya memang salah dalam hal ini, maka dari itu izinkan saya meminta maaf papa mama" ucap Arsenio sambil meraih tangan mertuanya.


Alin menepis tanganya "Memangnya semudah itu aku memaafkanmu setelah apa yang kamu lakukan pada anak saya!" pekik Rany.


"Aku tahu ma, tapi aku mohon tolong maafkan aku, aku janji akan melakukan apapun asalkan mama mau memaafkanku" ucap Arsenio kembali meraih tangan mertunya.


Rany diam tatapan tajam terus tertuju pada Arsenio "Plis ma, tolong maafkan aku"


"Kamu mau aku memaafkanmu?" tanya Rany.


Arsenio menggangguk "Mau ma"


"Aku akan memaafkanmu bahkan akan melupakan semua kesalahan yang pernah kau lakukan pada Ana tapi dengan satu syarat" ucap Rany serius.


"Aku pasti menyanggupi syaratnya. Apa syaratnya ma?" tanya Arsenio antusias.


Sarah, Gibran dan Kana pun ikut serius, penasaran dengan syarat yang akan di minta oleh Rany.


Rany melepaskan tangan Arsenio yang memegang tangannya lalu menjawab "Lepaskan Ana!"


"Biarkan Ana menjalani sisah hidupnya tanpa wayangan-bayanganmu!" lanjut Rany.


Ucapan Rany seketika membuat Arsenio terkejut, raut wajah Arsenio beruba pucat sementara Sarah, Kana dan Gibran yang juga ikut mendengarnya pun tak kalah terkejutnya.


"Kamu kan sudah bilang akan menyanggupi syarat yang aku berikan, jadi buktikan bahwa kamu sanggup melakukan syarat yang telah aku ucapkan tadi" lanjut Rany.


Arsenio mengeleng "Ngak ma, kalau itu aku ngak bisa melakukannya" ucap Arsenio.


"Kenapa ngak bisa?, kamu bahkan bisa menikah dengan wanita lain dengan kondisi Ana yang sedang sakit. Aku pikir syarat bagiku sanggat mudah kamu sanggupi" ucap Rany.


"Oh soal pernikahan itu, aku bisa jelaskan ma. itu tidak seperti apa yang mama lihat di media sosial, aku tidak benar-benar menikah ma" ucap Arsenio berusaha menjelaskan.


"Apa yang di katakan Arsenio benar Rany, kamu harus mempercayainya" ucap Sarah yang juga ikut menyakinkan Rany.


Rany mengelengkan kepalanya "Sudah cukup!, lakukan apa yang sudah menjadi syaratnya!"


"Sekarang juga kalian bisa pergi!" lanjut Rany.


"Tapi ma, aku ngak bisa!, aku benar-benar ngak bisa melepaskan Ana, aku sangat mencintainya ma" ucap Arsenio.


"Kana tolong pangil sekuriti, dan suruh bawah mereka keluar!" pinta Rany.


"Baik tante" sahut Kana dan pergi memanggil sekuriti sesuai perintah.


"Ma... aku mohon ma, aku bisa menyanggupi berapapun syaratnya asalkan jangan suruh aku melepaskan Ana, aku benar-benar mencintai Ana aku ngak mau kehilangan Ana lagi" ucap Arsenio, tampa sadar kedua sudut matanya mulai menganak sungai.


"Rany tolong pertimbangkan penjelasan Arsenio, dan mohon beri dia kesempatan satu kali lagi aku yakin cucuku akan menjaga Ana dengan baik dan tentu saja dia sangat menyanginya" bujuk Sarah.


"Tapi keputusan saya sudah bulat, tolong hargai keputusan saya!" ucap Rany.


Karena Kana telah memanggil sekuriti, tiga sekuriti akhirnya datang.


"Pak tolong bawah mereka keluar, mereka mengganggu istirahat anak saya!" ucap Rany.


"Baik ibu"


"Kana kamu ambil Alvis!" pinta Rany lagi, Kana pun menggangguk setuju, berjalan menghampiri Gibran dan mengambil Alvis darinya.


"Ma.... tolonglah beri aku kesempatan lagi" ucap Arsenio.


"Ayo ikut kami keluar!"


Sekuriti pun membawah mereka keluar.


Arsenio sempat melawan sebelum akhirnya mengikuti sekuriti berjalan keluar.


Rany menghela nafas panjang lalu kembali duduk, sementara Kana yang melihatnya pun ikut duduk di sampingnya dengan memposisikan Alvis duduk di pangkuannya.


Di luar Arsenio bersikeras untuk kembali masuk namun ketiga sekuriti terus menghalanginya.


"Pak tolong biarkan saya masuk!"


"Maaf tapi bapak tidak boleh masuk, karena akan mengganggu pasien yang sedang di rawat"


"Tapi pak, istri saya di rawat di sana aku harus menjaganya!"


"Tetap saja bapak tidak di izinkan masuk!"


Arsenio yang mendengarnya pun menyapu kasar wajahnya "Sepertinya ngak bisa di lawan dengan kelembutan" pikirnya.


Arsenio diam sejenak dan di menit kemudia Arsenio menatap tajam ketiga sekuriti yang berdiri di depannya secara bergantian.


"Sepertinya kalian tidak mengenaliku, biar aku beritahu, Arsenio saguna saya pikir kalian tahu siapa dia orang itu"


Ketiga sekuriti di depannya terkejut "Saya bisa saja menutup rumah sakit ini dalam waktu yang singkat, kalian pasti bisa bayangkan semudah apa aku membuat kalian kehilangan pekerjaan seumur hidup!"


Ucapan Arsenio seketika membuat raut wajah mereka berubah memucat, ucapan Arseni berhasil membuat nyali mereka menciut.


"Maafkan kami tuan" ucap mereka bersamaan dengan suara gemetar.


Gibran yang melihat itu berjalan mendekatinya, menepuk lebut pundak putranya "Mereka hanya menjalankan perintah yang memang sudah menjadi tugas mereka, jangan pernah melampiaskan amarahmu pada orang lain yang tidak tahu apa-apa soal masalahmu"


Arsenio berbalik menatap Ayahnya "Tapi pa, jika tidak begitu mereka tidak akan mengizinkanku masuk. Aku harus menjelaskan pada mertuaku, aku ngak mau kehilangan Ana pa, aku sangat mencintainya"


Gibran menggagguk "Papa tahu itu, tapi waktunya bukan sekarang!, kamu kan lihat sendiri semarah apa mertuamu, dengan kondisi seperti itu kamu tidak bisa membuat mertuamu menerima keinginanmu, itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi"


"Beri waktu untuk mertuamu menenang dirinya, setelah mertuamu tenang, kamu bisa mencobanya lagi" lajut Gibran.


"Benar Nak, bukan cuma mertuamu yang butuh ketenangan kamu pun membutuhkannya. Kamu tidak perlu khawatir!, nenek yakin kamu dan Ana akan tetap bersama" sambung Sarah.


"Tuh kamu dengar sendiri apa kata nenekmu, nenek saja yakin apalagi papa, papa juga yakin kamu akan hidup bahagia bersama Ana, kalian akan bersama-sama membesarkan Alvis anak kamu dengan Ana" ucap Gibran.


"Sebaiknya kita pulang dulu, biarkan dirimu tenang, setelah itu kita balik ke sini lagi" ucap Sarah.


Arsenio yang mendengarnya pun setuju dengan apa yang di katakan ayah dan juga neneknya, mereka pun berjalan menghampiri mobil bersama-sama.