My Love Story

My Love Story
Bab 148



Rangga meraih kedua tangan Kana lalu digengamnya, tatapannya lurus kepada Kana dan dengan sedikit rasa gugup Rangga berkata.


"Menikalah denganku minggu depan"


Deg.


Kana terkejut, mulutnya terasa kaku, tangannya tiba-tiba terasa dingin dan jantungnya berdetak tidak beraturan.


"Bukankah ini terlalu cepat?, aku bahakan tidak tahu apakah aku punya perasaan terhadapnya atau tidak"


"Mungkin ini terlalu cepat untukmu namun, tidak denganku. Aku bahkan sudah menunggu lama waktu ini"


"Aku juga tahu, jika kamu belum mencintaiku. Tapi aku sangat yakin jika kita sudah menikah rasa itu akan tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu" lanjut Rangga.


Di meja makan.


"Mommy" pangil Alvis dengan pandangan menatap hampir seluruh makanan yang ada di atas meja.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Ana sambil membelai rambut putranya.


"Kita sudah dari tadi sampai disini, tapi kenapa kita belum juga makan?, padahal tadi mommy buru-buru takut semua makanan ini dingin" ucap Alvis cemberut.


Ana dan Arsenio yang mendengarnya saling melempar pandangan. Tak lupa Ana memberi isyrat agar Arsenio segera menjawab pertanyaan putranya.


"Ehem ehem. Sayang...sini lihat ke arah daddy!" kata Arsenio di awal ucapanya.


Alvis menoleh dengan wajah cemberutnya "Anak daddy sudah lapar ya?" Alvis menggangguk "Pengen cepat makan?" Alvis kembali menggangguk.


Arsenio tersenyum "Kita boleh makan semua makanan yang ada disini kecuali aunty dan uncle sudah ada disini duduk bersama kita" ucap Arsenio sementara Ana memantau keduanya.


"Hmm, gitu ya?🤔. Kalau begitu aku pangil aunty dan uncle saja kesini dengan begitu kita bisa mulai makan malamnya"


"Nah pintar anak daddy"


"Loh, mau ke mana sayang?" tanya Ana panik saat Alvis bergerak turun dan akan segera menyusul Kana dan juga Rangga.


"Mas, ko dibiarin sih?. Bagaimana kalau dia menggaggu waktu ngobrol mereka?. Ngak bisa nih, aku harus menceganya"


Arsenio yang melihat itu segera memegang tangan istrinya "Tidak perlu sayang, aku yakin mereka sudah selesai membicarakan apa yang harus dibicarakan" ucap Arsenio.


"Tapi mas.."


"Udah, kamu tunggu aja disini. Dikit lagi juga mereka datang" lanjut Arsenio.


Diwaktu yang sama..


"Aunty..... " pangil Alvis dari jauh, Kana yang mendengar itu segera melepaskan tanganya dari gengaman Rangga dan menoleh ke arahnya.


"Iya sayang, kok belum makan?" tanya Kana setelah Alvis sampai.


"Kata daddy, kita boleh makan kecuali aunty dan uncle sudah ada disana. Makannya aku datang kesini mau manggil aunty dan uncle"


"Nih Cacing-cacing di perutku sudah pada berantem minta di kasih makan" lanjut Alvis.


Hal itu sontak membuat Kana tertawa, lalu mencubit pipi Alvis karena merasa gemes dengan tingkahnya.


"Iya sayang, ayo kita beri makan Cacing-cacing di perutmu ini biar semuanya pada akur😂" ucap Kana sambil menujuk perut rata Alvis.


Alvis berganti menatap Rangga "Ayo uncle, daddy dan mommy sudah menunggu" ucapnya.


"Ya, kita kesana sekarang" jawab Rangga.


Alvis pun berjalan lebih dulu dan disusul oleh Kana dan Rangga.


"Aku ak...."


"Ssttttt, kita sudah mau sampai" ucap Kana sebelum Rangga menyelesaikan ucapannya.


"Maaf sudah menunggu lama" ucap Kana setelah sampai.


"Ya ngak apa-apa" sahut Ana sambil tersenyum.


Kana yang hendak menarik kursi pun kalah cepat dengan Rangga, Rangga lebih dulu menarik kursi untuknya lalu mempersilaka dia duduk.


"Terima kasih pak" sahut Kana dengan senyum sedikit di paksakan.


"Apa kalian sudah selesai ngobrolnya?" tanya Arsenio to the point.


"Sudah tuan" sahut Rangga sambil menarik kursi yang ada di samping Kana lalu duduk sementara Kana hanya bisa melihatnya tanpa berkomentar.


"Oh iya silakan, silakan di cicipi makannyanya" ucap Kana mempersilakan.


"Iya" sahut Ana lalu mengambilkan makanan untuk suaminya, anaknya dan serta terakhir untuk dirinya.


"Ya sama-sama mas" jawab Ana yang juga tersenyum sementara itu ada dua pasang mata yang terus menatap ke arah mereka.


Ana yang menyadari itu segera bertanya "Kalian belum mau makan ya?"


"Ah itu.., ini sudah mau makan kok" ucap Kana cepat lalu mengambil beberapa sendok nasi dan meletakan ke piringnya.


Sementara itu Rangga menatap Kana lalu berkata.


"Ambilkan aku sekalian!"


Ana, Arsenio dan Kana bersamaan menoleh kearahnya.


"Siapa?, a.. aku?" ucap Kana menunjuk ke arahnya.


Rangga menggangguk "Ya, tidak mungkin nona Ana yang mengambilkannya untuku" jawab Rangga dengan eksperesi datarnya.


Kana melihat kearah Ana dan juga Arsenio lalu tersenyum "Ya, saya bantu ambilkan" ucapnya.


"Wah, apa kamu sedang cemburu denganku?, karena ada yang mengambilkan makanan untuku" ucap Arsenio tak percaya.


"Ya, bisa dibilang seperti itu" sahut Rangga.


Mendengar itu sontak membuat Arsenio tertawa terbahak-bahak, Ana sendiri yang melihatnya terkejut. Karena baru kali ini melihat suaminya tertawa seperti sekarang ini.


"Ahaha, sekarang aku punya teman" ucap Arsenio di selah-selah tawanya.


"Maksudnya?, sekarang mas punya teman?" Ana menyeringitkan dahi binggung begitu juga dengan Kana yang tak kalah binggungnya.


"Udah,, udah kalian perempuan ngak perlu tahu. Biarkan aku dan Rangga saja yang tahu. Iya kan Rangga?"


"Benar tuan"


"Wah, akhirnya kamu juga merasakannya" ucap Arsenio sebelum kembali menikmati makanannya.


"Sayang kalau besar nanti jangan ikut seperti daddy atau pun uncle. Mereka benar-benar aneh" ucap Ana pada Alvis yang lansung mendapat anggukan kepala dari putranya.


"Apa sih yang mereka maksud?, aku benar-benar ngak mengerti" gumam Kana dalam hati.


"Ayo di makan makanannya" ucap Rangga menatap Kana.


"Iya pak" jawab Kana.


Semuanya tampak menikmati makan malamnya, sementara terlihat Rangga sesekali menatap Kana di selah-selah makannya.


"Tuan, nona" pangil Rangga.


"Hmm" sahut Arsenio dan Ana bersamaan sementara Kana melihat kearah mereka.


"Saya akan menikahi Kana minggu depan" ucap Rangga.


"Uhuuhuu"


"Sayang, hati-hati dong makannya, ini minumnya. Di minum dulu" ucap Arsenio memberikan segelas air minum pada istrinya.


"Ya tuhan, dia serius mau menikahiku?😲" batin Kana.


Ana meminum beberapa teguk lalu meletakan kembali gelas ke tempanya, tatapanya kini tertuju pada Kana yang juga terlihat kaget.


"Apakah itu benar?" tanya Ana penuh selidik. Sementara Arsenio ikut melihat kearahnya dengan tatapan yang sama.


"A..ah itu.. " Kana menoleh kearah Rangga "Saya kan belum menjawab apa-apa apalagi menyetujuinya" ucap Kana meminta penjelasan dari Rangga.


"Kamu meminta bukti keseriusanku padamu, maka pernikahan adalah bukti keseriusanku" ucap Rangga.


"Tapi kan...."


"Kamu yang meminta aku untuk membuktikan keseriusanku. Sekarang aku sudah membuktikannya, jadi bukankah kamu harus menerimanya?"


"Situasi macam apa ini?, kok aku merasa sedang di paksa menikah denganya" batin Kana.


Arsenio menyandarkan tubuhnya di kursi lalu menatap Rangga "Jika kamu serius dengan ucapanmu. Aku akan kosongkan jadwalku selama seminggu ke depan, aku akan membantu menyiapkan acara pernikahamu" ucap Arsenio.


"Tentu saja saya serius dengan ucapanku tuan" ucap Rangg menatap tuannya.


"Bagus!, aku akan mengirimkan pesan pada sekertarisku untuk segera mengosongkan jadwalku" Arsenio mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan pada sekertarisnya.


Kana menghela nafas panjang sambil menyapu kasar wajahnya "Apakah, aku benar-benar menikah denganya" batin Kana.


"Aku izin bicara dengan Kana" Ana bangkit dari duduknya lalu berjalan menjauh dari meja makan.


Sementara Kana yang mendengarnya ikut bangkit dan berjalan menyusul Ana.