
Di hari berikutnya, tampak Sarah dan Gibran berdiri di samping hospital bad, menatap lurus Nocholas yang masih terbaring lemah.
"Arsenio mana?" tanya Nicholas bergantian menatap istrinya dan juga Gibran.
"Apa anak itu tidak pernah datang kesini?" tebak Nicholas, Sementara Sarah dan Gibran tetap diam.
"Anak itu benar-benar telah di cuci otaknya oleh wanita itu!" lanjut Nicholas.
"Bukan wanita itu yang salah, cucumulah yang baru menyadari kalau dia mencintai Ana, makannya sekarang dia masih memperjuangkan cintanya" jelas Sarah yang akhirnya membuka suara.
Nicholas memalingkan pandanganya menatap dinding yang ada di sebelahnya "Aku tuh suka heran, kenapa kamu selalu membela wanita itu?, padahal dia sudah banyak menyusahkan bahkan membuat nama keluarga kita rusak di mata masyarakat" ucap Nicholas tak mau menatap Gibran dan juga Sarah.
"Karena Ana anak yang baik, dia tidak salah dalam hal ini!, seharusnya kitalah yang sadar. Semua yang terjadi di antara Ana dan Arsenio berawal dari pernikahan yang kamu buat tanpa mau mendengar alasan apapun dari mereka. Dan lagi satu, sekalipun pernikahan mereka tidak di dasarkan oleh cinta tapi aku sangat yakin Ana tidak akan selingkuh!" ujar Sarah.
Nicholas kembali menatap istrinya "Apa yang membuatmu yakin kalau wanita itu tidak selingkuh?. Aku pikir video yang beredar di berbagai sosial media cukup membuktikan kalau wanita itu berselingkuh dengan teman kuliahnya" ucap Nicholas.
"Papa berpikir seperti itu karena papa melihat video itu hanya sebagian saja, coba saja papa mau melihat videonya dari awal, aku yakin papa tidak mungkin berpikir seperti itu" ucap Sarah.
"Di keluarga ini hanya mamalah satu-satunya orang yang tidak pernah perpikir buruk soal Ana" batin Gibran.
"Tau ah, malas sekali berdebat dengamu"
"Tapi kamu harus ingat, aku tidak akan pernah berhenti memaksa Arsenio menikah dengan Clarissa!, Clarissalah anak yang baik buat Arsenio bukan wanita itu " lanjut Nicholas.
"Hmm, jika begitu berusahalah lebih keras agar keinginanmu tercapai" ucap Sarah.
"Kalau soal itu kamu tidak perlu mengajariku, aku telah terlati mengurus hal-hal seperti ini" Jawab Nicholas.
"Semoga berhasil!" Sarah berjalan menuju sofa lalu duduk.
"Dia sungguh meremehkan kemampuanku!" pikir Nicholas menatap istrinya.
"Pergilah jaga istrimu!, papa biar mama yang jaga" ucap Sarah pada Gibran.
"Iya ma" sahut Gibran berjalan keluar.
"Tunggu!" ucap Nicholas berhasil menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap ayah mertuannya.
"Ada apa dengan Alin?, apa dia masuk rumah sakit juga?" tanya Nicholas berurutan, tatapannya terus bergantian menatap Sarah dan juga Gibran.
"Ya dia lagi di rawat di ruang sebelah, biasalah terlalu banyak pikiran, jadi penyakitnya kambuh" jawab Sarah.
"Kalian saja yang membuat diri kalian susah!, coba saja kalian biarkan Arsenio memilih jalan hidupnya sendiri pasti kalian tidak akan seperti ini" lanjut Sarah.
"Sudah sana pergi jaga saja istrimu!" Sarah mematap Gibran. Gibran menggangguk lalu melanjutkan langkahnya keruar dari ruang rawat mertuanya.
Kediaman Ana
Rangga tampak duduk di ruang tamu berhadapan langsung dengan Rany dan juga Ana.
"Dimana tuanmu itu membawah anakku?, cepat katakan padanya agar segera mengembalikan anakku!" ucap Ana menatap Rangga yang duduk berhadapan dengannya.
"Aku bisa saja melaporkannya ke polisi atas khasus penculikan anak" lanjut Ana.
"Ana tolong tenang dulu, biarkan Rangga bicara dulu!" bentak Rany.
Ana terdiam, menatap ibunya yang belum juga memaafkannya, ibunya mau duduk bersamannya hanya karena ibunya tahu kalau cucunya lagi di tahan oleh Arsenio.
"Terima kasih telah memberi waktu saya bicara" ucap Rangga.
"Makasud kedatangan saya kesini yaitu, ingin menyampaikan pesan dari tuan muda pada nona Ana dan nyonya Rany. Untuk lebih jelasnya silakan dibaca!" lanjut Rangga meletakan sebuah map yang berisi beberapa kertas di dalamnya.
"Surat perjanjian?" batin Ana membaca tulisan awal di kertas itu.
Ana kembali membaca tulisan lainnya, ia tampak membulatkan matanya saat mengetahui isi perjanjian itu.
"Ngak!. Aku tidak akan setujuh dan tidak akan mau menandatangani surat perjanjian ini!" ucap Ana lalu meletakan kembali map tersebut di tempat awalnya dengan sedikit membanting map tersebut.
"Cepat kembalikan anakku!, dia anakku bukan anak dia!, jadi mohon katakan padanya kembalikan anakku!" ucap Ana yang kini kedua matanya sudah menganak sungai.
Rany yang melihat reaksi Ana setelah membaca kertas di balik map itu, segera ikut membuka dan membacanya, dan ia pun dibuat terkejut dengan isi perjanjian itu.
"Arsenio akan mengembalikan Alvis dengan syarat Ana harus kembali menikah dengannya?" Rany menatap Rangga dengan map masih berada di tanganya.
"Benar nyonya" ucap Rangga membenarkan.
"Ngak!, kalau soal ini kami tidak akan menerima syaratnya. Kami akan melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib atas khasus penculikan anak!" ucap Sarah serius, meletakan kembali map di tempat semula.
Rangga diam sejenak, dia tampak tenang menanggapi penolakan Ana dan juga ibunya.
"Tuan Arsenio tidak mempernasalahkan jika nona Ana melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib. Justru tuan Arsenio akan senang jika mendengar nona Ana akan melaporkannya" ucap Rangga di awal pembicaraannya.
Ana dan Rany yang mendengarnya mengerutkan dahi binggung.
"Saya pikir nona Ana dan nyonya Rany sudah cukup mengenal siapa tuan Arsenio"
"Sebelum tuan melakukan tindakannya yakin dan percaya dia telah menyiapkan semuanya secara matang" lanjut Rangga.
Ana yang mendengarnya tampak bersusah paya menelan salivanya, ucapan Rangga berhasil membuat nyalinya menciut.
Siapa sih yang tidak mengenal seorang Arsenio dengan segala kekuasaannya?.
"Dan, jika nona Ana benar melaporkan tuan muda kepada pihak yang berwajib, dan terbukti tuan Arsenio tidak bersalah dalam hal ini, Maka dimana hari nona Ana bertemu dengan Alvis dihari itu juga nona Ana terakhir kalinya melihatnya. Karena tuan Arsenio akan membawah Alvis pergi" sambung Rangga.
Rany yang mendengarnya pun menyapu kasar wajahnya "Kenapa Arsenio melakukan hal ini pada kami?" tanya Rany.
"Alasannya cuma satu, karena tuan ingin nona Ana kembali menjadi istrinya" batin Rangga.
"Maaf, kalau soal itu saya kurang tahu" jawab Rangga.
"Ma... bagaimana ini?, aku ngak bisa kehilangan Alvis tapi aku juga tidak ingin menikah lagi dengan pak Arsenio, bahkan membayangkannya aku tidak berani" ucap Ana pada ibunya.
Kejadian di kampus 4 tahun lalu kembali terputar dengan jelas diingatan Ana.
"Ngak, aku ngak mungkin menikah lagi denganya" ucap Ana dengan ke dua matanya terus mengeluarkan air mata.
Rangga sangat jelas melihat rasa ketakutan di wajah Ana "Nona Ana takut kehilangan Alvis atau takut pada tuan Arsenio?" pikir Rangga.
"Jika nona Ana menyetujuinya, saya akan mengirimkan alamat dimana tuan Arsenio dan Alvis berada. Namun nona Ana akan diizinkan bertemu dengan Alvis setelah nona Ana sah menjadi istri tuan Arsenio" ucap Rangga.
"Tuan Arsenio memberikan waktu 5 jam untuk berpikir, waktunya di mulai dari sekarang!" lanjut Rangga.
"Ha 5 jam?" ucap Ana dan Rany bersamaan.
"Benar nona, karena di jam berikutnya jika nona tidak menyetujuinya, maka tuan Arsenio akan membawah Alvis pergi ke tempat yang saya sendiri juga tidak di beri tahu, karena tuan Arsenio sendiri yang menyiapkan semuanya termasuk tiket pesawat" ungkap Rangga.
Ana yang mendengarnya seketika tubuhnya lemas "Kamu benar-benar jahat!, aku telah memenuhi permintaanmu agar tidak muncul lagi di hadapanmu dan mengganggu kehidupanmu. Tapi kenapa kamu melakukan ini padaku?, mengambil Alvis dariku, Alvis adalah satu-satunya alsan mengapa aku bisa bertahan hidup sampai saat ini?" batin Ana dengan isak tangsis.
"Saya akan kembali lagi jika waktu yang telah di tetapkan telah berakhir" Rangga bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar.