My Love Story

My Love Story
Bab 78



Mobil berhenti di sebuah parkiran, pria itu mematikan mesin mobil lalu menatap Alvis.


"Hufff, pantas saja sudah ngak bicara lagi ternya sudah tidur"


Pria itu turun dari mobil, sambil mengendong Alvis yang sudah tertidur pulas.


Terus melangkah melewati beberapa karyawan yang tampak berbisik-bisik saat melihat pria itu mengendong seorang anak.


"Wah ternyata dia sudah menikah"


"Apa itu anaknya?"


"Pengen punya suami kaya dia, pergi kerja ngak malu bawah anak"


"Contoh ayah yang baik"


Begitu kiranya yang keluar dari mulut para karyawan. Namun hal itu tidak di pedulikan oleh pria itu, tentap berjalan gaga dan masuk ke dalam lift.


Beberapa menit kemudian pintu lift kembali terbuka, seorang wanita yang melihat itu mengerutkan dahi binggung.


"Apa bapak perlu bantuan?" pria itu mengguk "Tolong bantu bukakan pintu!"


"Baik pak" wanita itu berjalan mendekati pintu.


Tok...tok..


"Permisi" ucapnya sambil membuka pintu.


"Terima kasih" ucap pria itu lalu berjalan masuk.


"Sama-sama pak" wanita itu kembali menutup pintu ruanganya.


"Kau apakan dia?" Arsenio menatap tajam Rangga.


"Tidak saya apa-apakan tuan" sahut Rangga. Ya pria yang menculik Alvis adalah Rangga, dia melakukan itu atas dasar perintah tuannya.


"Dia tertidur saat di mobil, karena itu aku menggendongnya" lanjut Rangga.


Arsenio berjalan mendekati Rangga "Ya sudah tidurkan dia di sofa!" Rangga menggangguk "Baik tuan" Rangga berjalan menuju sofa dan di susul oleh Arsenio.


Setelah sampai dengan hati-hati Rangga menurunkan Alvis di sofa. Alvis tampak mengeliat saat tubuhnya menyentuh sofa, Rangga yang melihat itu segera menepuk-nepuk lembut bahu Alvis.


Rangga kembali berdiri dengan gaga saat Alvis sudah terlelap. Sementara Arsenio terdiam tatapannya terus tertuju pada Alvis.


"Bukankah dia sangat mirip denganku?" Arsenio masih menatap Alvis.


"Ya tuan, dia sanggat mirip dengan anda" ucap Rangga.


"Saya seperti sedang melihat diriku saat masih kecil" ucap Arsenio lagi. "Apakah dia anakku?"


Rangga yang mendengarnya menatap sekilas Arsenio sebelum kembali menatap Alvis.


"Sudah semirip itu, masa iya bukan anakmu๐Ÿ˜‘" pikir Rangga. "Hmm, kalau soal itu saya kurang tahu. Tuan bisa menanyakan langsung hal ini pada nona Ana" ucap Rangga.


Arsenio duduk di samping Alvis, ditatapnya lekat wajahnya dan


Cup.


Arsenio mengecup lembut alis Alvin. "Aku tidak akan membirkan kamu dan mamamu pergi dari sisiku lagi, Sesulit apapun caranya aku akan melakukannya agar kalian tetep berada disisiku!" pikir Arsenio.


"Semoga dengan kehadiran tuan kecil, dapat membuka hati tuan Nicholas dan nyonya Alin" pikir Rangga.


"Apa kau yakin temannya itu mengenalimu?" Arsenio menatap Rangga.


"Sepertinya begitu tuan" jawab Rangga.


"Bagus!" ucap Arsenio lalu kembali menatap Alvis, terus mengelus rambut Alvis dan tampak beberapa kali dia terus mengecup alis Alvis.


"Pemandangan ini sangat adem, semoga seterusnya akan seperti ini" pikir Rangga.


"Kamu boleh istirahat sebentar di sofa!" ucap Arsenio sekilas menatap Rangga sebelum tatapannya kembali fokus pada Alvin.


"Terima kasih tuan" Rangga berjalan menuju sofa yang di maksud tuannya, membaringkan tubuhnya di sana namun tidak untuk tidur, ia hanya ingin meluruskan pinggang saja.


Jarum jam seakan berputar sangat cepat, Alvis sudah tidur satu jam lebih, hal itu membuatnya berlahan-lahan membuka matanya.


Saat pandanganya sudah jelas, Alvis terkejut saat melihat sosok pria yang duduk di sampingnya dengan pandangan ke layar ponselnya.


"Wajahnya kenapa bisa sama persis dengan wajahku?. apa uncle ini melakukan operasi plastic? agar bisa mirip dengaku. Kalau iya, berarti uncle ini pengemarku dong๐Ÿค”" pikir Alvis.


Alvis segera bagun dari tidurnya membuat sedikit pergerakan di sofa, hal itu berhasil mencuri perhatian Arsenio.


"Kamu sudah bangun?" tanya Arsenio hendak meletakan tanganya ke atas kepala Alvis, namun sebelum tanganya menyentu kepala, Alvis lebih dulu menahan tangan Arsenio lalu menjauhkan darinya.


"Mommy tidak mengizinkan orang yang tidak di kenal menyentuhku!" ucap Alvis dengan tatapan dingin.


Entah mengapa Arsenio yang melihat itu pun tertawa besar, membuat Rangga segera bagun dan berjalan menghampirinya.


"Lihat Rangga!, bukankah dia sangat mirip denganku?" tanya Arsenio yang masih tertawa.


"Aku tidak pernah melihat tawa ini sebelumnya" pikir Rangga.


"Cara dia berbicara sampai cara dia menatapku sangatlah mirip denganku" lanjut Arsenio.


"Anda benar tuan, dia sangat mirip dengan anda"


Alvis tampak tidak memperdulikan ucapan Arsenio, tatapannya kini beralih pada sosok Rangga yang berdiri gaga tak jauh dari mereka.


"Plis jangan katakan yang aneh-aneh!" pikir Rangga saat menyadari Alvis menatap kearahnya.


"Uncle...apakah uncle sudah mempertimbangkan tawaranku?" tanya Alvis.


Arsenio bergantian menatap Rangga dan Alvis secara bergantian.


"Mati aku!๐Ÿ˜ฅ" pikir Rangga.


"Bukan apa-apa tuan" sahut Rangga cepat.


Rangga menoleh pada Rangga "Aku tidak sedang bertanya padamu!" Arsenio kembali dengan tatapan dinginnya.


"Aku ingin uncle itu menikah dengan mommyku" jawab Alvis sambil menunjuk Rangga.


Yakin dan percaya saat ini tubuh Rangga gemetar.


Arsenio yang mendengar itu, segera bangkit dari duduknya kedua tangannya di gempal, rangnya mengeras dengan tatapan membunuh di tunjukan pada Rangga.


"Apa benar apa yang dikatakan dia barusan?" bentak Arsenio.


"Benar tuan, tapi itu dia sendiri yang menawarkan kepada saya namun... " jawab Rangga.


Arsenio berjalan menghampiri Rangga dan memgang kerak baju Rangga "Apa kau sudah bosan hidup!" ucap Arsenio pelan namun kata-katanya berhasil membuat lutut Rangga gemetar.


"Tuan mohon tenang dulu!, izinkan aku menjelaskannya" ucap Rangga.


"Cepat katakan apa yang ingin kau katakan!, sebelum aku meleyapkan kau dari muka bumi ini!" bentak Arsenio.


"Dia memang menawarkan hal itu padaku namun saya tidak mungkin menerima tawaran itu tuan, saya benar-benar tidak berani bahkan membayangkannya pun saya tidak berani" jelas Rangga.


"Bagus kalau kau mengerti!" Arsenio melepaskan cengkramannya sementara Rangga tampak bernafas dengan lega.


"Kenapa berantem?, kata mommy ngak bisa berantem!" ucap Alvin.


Arsenio segera menghampiri Alvin "kami tidak berantem, saya sedang memujinya" ucap Arsenio lembut.


"Sedang memujiku?๐Ÿ™„. Bukankah barusan kau hampir saja ingin membunuhku?๐Ÿ˜" batin Rangga.


"Uncle II sepertinya ngak setuju ya kalau aku menjodohkan mommmyku dengan unle I?, atau Uncle II suka sama mommyku? karena itu uncle II marah" ucap Alvin panjang lebar.


Mendengar itu Arsenio dan Rangga pun diam, tak ada satupun yang menjawab pertanyaannya.


Ketiganya di kagetkan dengan suara bising dari ruang ruangan.


"Cepat katakan padaku dimana ruangannya!"


"Maaf nona, apakah nona sudah membuat janji?" tanya Bila.


"Aku ngak perlu buat janjian jika ingin bertemu denganya!, Cepat katakan dimana ruanganya!. Kamu tahu bossmu itu telah menculik anak saya jadi cepat tunjukan dimana ruanganya!"


Beberapa karyawan yang menyakaikan itu kembali berbisik-bisik.


"Apa benar tuan mencuri anaknya?"


"Memangnya siapa wanita ini?, kok tampangnya ngak asing ya"


"Jadi anak yang di gendong pak Rangga adalah anak wanita ini"


"Masa iya sih tuan Arsenio menculik anaknya"


Begitu kiranya ucapan para karyawan.


Sementara Bila tampak berpikir ia juga ikut menyaksikan Rangga membawa masuk seorang anak.


"Ya ampun mba ngapain ngelamun sih?, cepat tunjukan pada saya dimana ruangan boss kalian itu!"


"Ah iya maaf mba, ruangannya yang ada di samping saya" jawab Bila.


Tanpa menunggu lama Ana langsung membuka pintu ruangan dengan keras hal itu membuat orang-orang yang berada di dalam terkejut begitu juga dengan orang-orang yang berada di luar ruangan.


"Mommy" pangil Alvis turun dari sofa dan berlari menghampiri ibunya.


Rangga sedari tadi terus melirik tuannya yang tampak diam dan menatap lurus Ana. Rangga dapat merasakan tatapan penuh arti yang di berikan Arsenio pada Ana.


"Sayang.. kamu ngak apa-apa kan?, ada yang luka ngak?, sini biar mommy lihat!" ucap Ana memeriksa beberapa bagian tubuh putranya.


"Aku ngak apa-apa, kenapa mommy bisa tahu aku ada disini?" tanya Alvis.


"Tentu saja mommy tahu, aunt Kana yang memberitahukan mommy" jawab Ana.


Alvia menatap Kana yang berdiri di belakang ibunya.


"Ini bukan salah aku aunt. Salahkan uncle I" Alvis menunjuk Rangga yang membuat si empu kaget.


"Loh kok aku sih?" pikir Rangga.


"Ya tentu saja uncle yang salah buka aku!" ucap Alvis seakan dapat membaca pikiran Rangga.


"Uncle yang mangatakan padaku kalau dia telah meminta izin pada aunt dan aunt mengizinkan aku ikut denganya" jelas Alvis.


Ana berganti menatap Rangga, ini kali pertama Ana menatap tajam kearah Rangga.


"Kana, tolong bawah Alvis keluar!, aku ingin berbicara dengan mereka!" ucap Ana bergantian menatap Arsenio dan Rangga.


"Iya An, ayo sayang ikut aunt ya!" Kana meraih tangan Alvis dan membawahnya keluar dari ruangan.


"Kamu juga boleh keluar!. Pastikan tidak ada orang yang masuk!" ucap Arsenio menatap Rangga.


"Baik tuan" jawab Rangga berjalan menuju pintu.


"Berhenti!" ucap Ana yang membuat Rangga menghentikan langkahnya tepat di depan pintu dan menoleh kearah Ana.


Ana berbalik menatap Rangga "Kamu belum menjelaskan padaku kenapa menculik anak saya!" ucap Ana.


"Aku yang menyuruhnya!" jawab Arsenio.


Ana berbalik menatap Arsenio "Maksudmu apa? menyuruh dia menculik anak saya" tanya Ana.


Arsenio memberikan isyarat pada Rangga, dan Rangga pun segera keluar tak lupa menutup pintu.


Arsenio yang melihat itu, segera berjalan menghampiri Ana dan memeluknya dengan erat.