My Love Story

My Love Story
Bab 51



"Siapa?" tanya Rany sambil membuka pintu.


Rany membulatkan matanya, mentap pria yang kini berdiri berhadapan denganya.


"Kamu??" ucap Rany.


"Ya aku" sahut Gibran.


Ya pria itu adalah Gibran mantan suami Rany dulu.


Rany dengan cepat masuk dan hendak menutup kembali pintunya namun lebih dulu di tahan oleh Gibran.


"Tunggu!, aku mau bicara sebentar" ucap Gibran.


"Ngak ada lagi yang harus dibicarakan, semuanya sudah jelas, jadi tolong kamu pergi dari sini!" ungkap Rany serius.


"Aku mohon beri aku waktu sebentar saja untuk bertanya!" ucap Gibran.


"Saya tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaanmu itu!" ucap Rany lalu menutup pintu dengan keras, menyandarkan tubuhnya di pintu.


"Aku tau kamu masih mendengarkanku, mohon jawab dengan jujur!. Apa Ana adalah anakku?" ucap Gibran.


Rany yang masih berada di belakang pintu pun mendengar pertanyaan yang di lontarkan matan suaminya.


"Bukan, Ana bukan Anakmu!" jawab Rany di balik pintu.


"Apa yang kamu tanyakan sudah kamu dapatkan jawabannya, sekarang juga kamu pergi dari rumah saya!" sambung Rany.


Gibran yang mendengarnya pun berbalik berjalan kembali ke mobil dan sesekali melihat ke belakang.


"Aku tidak mudah percaya dengan perkatanmu, aku akan mencari tau sendiri!" ucap Gibran dalam hati lalu masuk ke dalam mobil.


Tanpak Rany melihatnya melalu jendela, mobil Gibran melaju dan berlahan hilang dari pandanganya.


"Bagaimana aku bisa melupakan luka yang telah kamu ukir di masa lalu?, sementara kamu sering kali muncul dalam kehidupanku!" batin Rany.


Di waktu yang bersamaan, tanpak Ana dan Kana merapikan buku-buku yang telah selesai di gunakan dan memasukannya ke dalam tas.


"Kamu bawah mobil ya?" tanya Kana menatap Ana dari samping.


Ana yang mendemgarnya pun mengganguk.


"Iya bawah" sahut Ana.


"Oh iya Na, semalam apa mamaku menghubungimu??" tanya Ana.


"Aku menunggunya sampai jam 11.00 malam loh, tapi mamamu ngak pernah tuh menelfonku" sahut Kana.


"Hmm syukurlah, jadi kamu ngak perlu berbohong" ucap Ana.


"Memangnya kamu ngak pulang?" tanya Kana.


"Ya, aku pulang jam 04.00 pagi" sahut Ana.


"Ha...jam 04.00 pagi?, gila lo ya?. Kalau ada begal gimana?, siapa yang akan menolongmu?" ucap Kana.


Ana diam menatap lurus Kana.


"Ko perkataanmu bisa sama persis sama perkataan mamaku?, benaran ngak ada bedanya lo" ungkap Ana terheran-heran.


"Is.. orang lagi panik, kamu malah bahas itu sih😑" ucap Kana sambil menepuk pelan bahu Ana.


"Asli kamu sama persis dengan mamaku yang selalu panikan. Aku ngak apa-apa lo, lihat saja sekarang aku masih baik-baik aja!" ucap Ana santai.


"Tau ah, kamu tuh selalu buat orang panik tau" ucap Kana lalu bagikit dari duduknya, berjalan keluar lebih dulu dari Ana.


"Kana... tunggu! , aku kan hanya bercanda. Gitu aja marah" ucap Ana sedikit berteriak, segera bangkit dari duduknya dan berjalan menyusul Kana.


"Ko aku di tinggal sih?" ucap Ana setelah berhasil mengejar Kana.


"Siapa suruh lama!, cuma memasukan buku ke dalam tas sampai memakan waktu hampir satu jam" ucap Kana asal.


Keduanya berjalan menuju parkiran.


"Oh iya An, aku mau mampir ke situ mau ambil barang" ucap Kana sambil menunjuk arah yang di maksudnya.


"Kalau kamu mau dulan juga ngak apa-apa" sambung Kana.


"Hmm, ya udah kamu ambil saja sana. Aku duluan ya?, soalnya mamaku lagi kurang nyaman jadi harus cepat-cepat pulang" ucap Ana.


"Oh iya, kamu hati-hati ya!" ucap Kana


Ana pun menggaguk sebagai jawaban, lalu berjalan menuju mobilnya sementara Kana berjalan menuju tepat yang dimaksudnya.


Beberapa menit kemudian Kana kembali dengan membawa dua dos sekaligus.


"Sini biar aku bantu!" ucap Roby yang entah kapan ia berada di situ.


"Ya udah nih" ucap Kana sambil memberikan ke dua dos pada Roby.


Keduanya berjalan menuju tempat dimana Kana memarkir mobilnya.


Setelah sampai Kana segera membuka bagasi mobilnya dan Roby memasukan ke dua dos tersebut ke dalam bagasi lalu menutup kembali.


"Makasih ya" ucap Kana sambil tersenyum.


"Hmm sama-sama" sahut Roby.


"Oh iya, kamu ngapai berdiri di situ?" tanya Kana.


"Nungguin kamu!" jawab Roby.


"Nungguin aku?" tanya Kana tak percaya.


Roby menggaguk mengiayakn uacapanya.


"Ana sudah pulang ya?" tanya Roby sambil melihat ke arah yang biasanya digunakan Ana untuk memarkir mobilnya.


"Hmm, pasti mau tanya tentang Ana" tebak Kana dalam hati.


"Iya dia udah pulang duluan" sahut Kana.


Roby kembali menatap Kana dengan tatapan serius.


"Apa Ana tidak pernah cerita mengenai aku atau curhat soal perasaanku padanya?" tanya Roby.


"Maaf, tapi sepertinya Ana ngak pernah cerita atau curhat padaku soal kamu" jawab Kana jujur.


Roby yang mendengarnya pun diam. Kana yang melihatnya pun menatapnya iba.


"Terkadang seorang wanita tidak akan mengatakan apa yang dia rasakan, seorang wanita akan selalu mengekspresikan perasaannya melalui tindakan" ucap Kana.


"Maksudnya?" tanya Roby.


"Setelah kamu menggungkapkan persaanmu padanya. Apa dia menunjukan suatu sikap yang menunjukan bahwa dia punya perasaan yang sama dengan kamu rasakan padanya?" ucap Kana.


Roby yang mendengarnya pun mengelengkan kepalannya.


"Untuk sejauh ini, aku melihat Ana bersikap seperti biasanya saat aku belum menggungkapkan perasaanku padanya" jawab Roby.


Kana yang mendengarnya pun menatap serius Roby.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Kana.


"Silakan tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan!" jawab Roby mempersilakan.


"Apakah kamu tidak bisa menggangap Ana sebagai teman saja?" ucap Kana sedikit menjeda ucapanya.


"Kamu juga tau sendiri bahwa Ana telah menikah, ya walau pun dalam waktu dekat ini mereka akan bercerai. Namun, sepertinya Ana belum bisa membuka hati untuk siapapun dalam waktu dekat ini" sambung Kana.


"Kalau soal itu sepertinya aku ngak bisa!. Sulit rasanya bagiku menggangapnya hanya seorang teman, dengan dia yang telah membuatku jatuh cinta" ujar Roby.