
Jarum jam menunjukkan pukul 02.00, dimana semua tamu sudah kembali ke rumah masing-masing begitu juga dengan Nicholas, Sarah, Alin, Gibran dan juga Rany.
Kini Arsenio Ana dan Alvis pun berpamitan.
Ana tergerak untuk memeluk Kana "Selamat sayang, hadiah dariku dan Mas Arsenio akan menyusul besok" bisik Ana.
Kana pun membalas pelukan Ana "Terima kasih sudah membantuku dalam mempersiapkan ini semua" ucap Kana.
"Sama-sama" ucap Ana dan melepaskan pelukannya.
Ana Berali berdiri di depan Rangga lalu mengulurkan tangannya "Selamat pak atas pernikahannya"
“Ya, terima kasih, nona,” kata Rangga sambil meraih tangan Ana.
"Tolong jaga baik-baik sahabatku, pak, ingat jangan pernah menyakiti hatinya!" lanjut Ana.
"Saya akan berusaha keras untuk itu," jawab Rangga.
Ana pun berpamitan dengan Pak Rudi dan Bu Melinda.
"Paman, bibi. Ana pamit, maaf tidak bisa lama, karena Alvis sudah ngantuk," kata Ana.
"Tidak apa-apa nak, terima kasih telah membantu Kana dalam banyak hal," kata Rudi dan Melinda hampir bersamaan.
"Sama-sama," jawab Ana sambil tersenyum.
Kini giliran Arsenio yang berpamitan dengan paman dan bibi Kana, lalu berpamitan pada Kana dan terakhir pada Rangga, asisten pribadinya.
“Selamat bro, akhirnya usahamu tidak sia-sia. Ingatlah untuk menjaga istrimu dengan baik!” Bisik Arsenio sambil memeluk Rangga.
"Ya, saya akan berusaha keras untuk itu dan terima kasih telah banyak membantu saya" jawab Rangga.
"Oh, janga sungkan-sungkan, kamu juga banyak membantu saya, jadi hitung-hitung kita impas," kata Arsenio sambil tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu kita pamit mau kembali ke rumah" lanjut Arsenio.
"Ya hati-hati di jalan" ucap Kana, Rangga, Rudi dan Melinda.
Arsenio, Alvis dan Ana berjalan keluar gedung, meninggalkan Rudi, Melinda Kana dan juga Rangga disana.
"Paman, apakah kamu yakin ingin kembali sekarang?, tidak ingin tinggal di sini selama beberapa hari?" Kana bertanya bergantian menatap paman dan bibinya.
Melinda berjalan mendekati Kana, meraih tangannya dan menepuknya dengan lembut.
"Tidak bisa sayang, paman dan bibi harus kembali, ada beberapa pekerjaan yang benar-benar tidak bisa tinggal. Kami benar-benar minta maaf tentang ini" katanya lembut.
Sementara Rudi juga menghampiri Kana "Jangan khawatir Nak, paman berjanji bahwa setelah pekerjaan paman selesai, paman dan bibi akan kembali ke sini untuk mengunjungimu dan juga Rangga" kata Rudi.
"Benarkah?" Kana bertanya untuk memastikan.
"Ya, kami akan kembali setelah pekerjaan paman selesai," kata Melinda membenarkan kata-kata suaminya.
Rudi melihat jam di tangan kirinya. "Kita harus secepatnya ke bandara, kita hanya punya waktu dua jam untuk sampai ke bandara," kata Rudi.
"Bolehkah aku ikut ke bandara?"
"Boleh ya, boleh kan?" Kana memohon.
Rudi dan Melinda saling berpandangan.
"Ya, kita akan mengantar paman dan bibi ke bandara" kata Rangga.
Rudi, Melinda dan Kana menoleh ke arah Rangga.
"Apakah kalian tidak merasa lelah?" tanya Rudi yang langsung dibalas dengan gelengan kepala oleh Kana dan juga Rangga.
Melinda menghela nafas "Oke, kamu bisa ikut dengan kami ke bandara. Tapi sebelum kita pergi kamu harus ganti baju dulu" kata Melinda.
"Ya" jawab Kana dan Rangga bersamaan.
"Tunggu sebentar, seseorang akan datang membawa baju ganti untuk kita," kata Rangga.
Beberapa menit kemudian orang kepercayaan Rangga datang dengan membawah pakaian untuk Rangga dan Kana.
"Terima kasih," kata Rangga kepada orang kepercayaannya.
"Sama-sama pak" ucapnya lalu berpamitan dan pergi.
Rangga menatap Kana "Nih punyamu" Kana mengambil tas belanjaan dari tangan Rangga.
"Terima kasih" ucap Kana yang langsung mendapat anggukan dari Rangga.
"Bibi, bisakah bibi membantu aku?" Melinda mengangguk "Iya sayang"
Kedua wanita itu berjalan ke kamar kecil di gedung, sementara Rangga berpamitan kepada Rudi untuk berganti pakaian di toilet.
Setelah beberapa menit mereka kembali, dengan pakaian yang berbeda.
"Karena kalian sudah selesai ganti baju, sekarang kita pergi, aku khawatir kita akan ketinggalan pesawat," kata Rudi.
Mereka berempat berjalan keluar dari gedung dan masuk ke mobil.
Rangga, duduk di kursi pengemudi, dan Rudi duduk di sampingnya sementara Kana dan Melinda duduk di kursi baris tengah.
Deru kendaraan membawa mereka menjauh dari halaman gedung dan menuju bandara.
Setelah menempuh perjalanan jauh, mobil yang dikendarai Rangga memasuki area bandara dan berhenti setelah berhasil diparkir.
Mereka berempat tampak turun dari mobil secara bersamaan dan berjalan menuju bandara, sedangkan Kana tampak menempel pada bibinya seolah enggan berpisah.
Sesampainya di bandara, Rudi dan Melinda melakukan check-in di loket maskapai.
"Sayang, jaga kesehatan kamu, ingat! Jangan sampai sembarangan jajanan nanti sakit," kata Melinda sambil memeluk Kana.
"Iya bibi, bibi juga di sana jaga kesehatan, jangan sakit-sakitan nanti Kana sedih loh" ucap Kana dengan kedua sudut matanya sudah menganak sungai dan perlahan air matanya jatuh mengenai pipinya.
Melinda yang menyadari itu segera melepas pelukannya dan menghapus air mata Kana.
"Jangan menangis sayang, nanti cantiknya berkurang" ucapnya sambil tersenyum.
Pandangan Kana beralih pada pamannya, dan berjalan menghampirinya lalu memeluknya.
"Paman janji ya, setelah pekerjaan paman selesai paman akan datang ke sini menjengguku" ucap Kana.
"Iya Nak, paman janji" ucap Rudi yang juga membalas pelukan Kana.
Sementara Melinda tampak mendekati Rangga "Nak, bibi serahkan Kana kepadamu. Dijaga baik-baik keponakan bibi" ucap Melinda.
"Terima kasih telah memilih saya untuk menjaga Kana, saya akan berusaha untuk selalu ada dan menjaganya" ucap Rangga.
Melinda tersenyum "Ya udah bibi pamit ya" lanjut Melinda yang langsung mendapat anggukan kepala dari Rangga.
Setelah itu giliran Rudi yang berjalan mendekati Rangga "Paman percaya kamu bisa menjaga Kana dengan baik dan tentu saja menyanginya. Paman titip Kana ya?"
"Ya, terima kasih telah mempercayai saya menjaga keponakan paman. Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa paman, tapi saya hanya ingin paman tau bahwa, saya begitu mencintai dan menyayanginya keponakan paman" ucap Rangga.
Rudi tersenyum mendengarnya "Paman tahu itu, berusahalah lebih keras agar bisa dengan cepat mendapatkan hatinya" ucap Rudi di akhir percakapannya sebelum beranjak pergi.
"Pasti paman" jawab Rangga yang juga ikut tersenyum.
Rudi dan Melinda pun berpamitan yang ke sekian kalinya lalu pergi.
Rangga bisa jengan jelas melihat kesedihan di raut wajah istrinya yang terus menatap paman dan juga bibinya sampai keduanya hilang dari pandangannya.
"Kita pulang ya?, kamu pasti sangat lelah" ucap Rangga sementara Kana hanya menggangguk sebagai jawaban.
Rangga meraih tangan Kana lalu membawahnya keluar dari bandara dan langsung masuk ke dalam mobil setelah mereka sampai.
Rangga kembali melanjukan mobilnya, mobil yang di kendarai Rangga terus bergerak menjauh dari bandara.
"Kita pulang ke apartment ya?" ujar Rangga menatap Kana yang sedari tadi diam.
"Ya" jawabnya singkat.
Rangga yang mendengar itu pun kembali fokus menyetir.
Setelah cukup panjang perjalanan Rangga dan Kana tiba di apartment setelah jam sudah menunjukan pukul 18.30.
Karena ini pertama kalinya Kana pergi ke apartment Rangga, maka Kana perlu intruksi dari Rangga.
Keduanya tampak memasuki lift "Lantai berapa?, biar saya pencet" tanya Kana menatap Rangga yang kini sedang memegang makan malam yang mereka beli sewaktu di perjalan pulang ke apartemen.
"Yang paling atas" jawab Rangga yang langsung di pencet oleh Kana.
Lift bergerak naik dan berhenti setelah sampai. Kana dan Rangga pun keluar dari lift. Namun baru beberapa saja langkah keluar dari lift Rangga pun menerima pangilan telefon yang membuatnya segera menggangkatnya.
Semntara Kana tampak diam, dan hanya bisa menunggu Rangga selesai menelfon. Hal itu tak luput dari pandangan Rangga.
Rangga segera memberikan isyarat agar Kana segera membuka pintu yang berada tak jauh dari mereka.
"Ini?" tanya Kana sambil menunjuk pintu yang di maksud Rangga. Sementara Rangga tampak menggangguk mengiyakan.
Kana berjalan lebih dekat lagi dan kembali menoleh ke arah Rangga karena dia harus menekan beberapa anggka agar pintu bisa di buka.
"Passwordnya apa pak?" tanya Kana.
Rangga yang mendengarnya menoleh ke arahnya lalu sedikit menjauhkan lonselnya dan menjawab.
"Tanggal lahirmu" sahutnya lalu kembali menelefon sementara Kana yang mendengarnya terkejut.
"Masa sih dia menggunakan tanggal lahirku sebagai password apartmentnya" ucap Kana sambil menekan satu persatu angga sesuai dengan tanggal lahirnya.
Dan benar saja pintu berhasil terbuka setelah Kana memasukan angka yang menunjukan angka kelahiranya.
"Wah benar kebuka dong" batin Kana masih tak percaya.
Sementara Rangga yang telah selesai menelfon pun segera menghampirinya.
"Kenapa belum masuk?" tanya Rangga yang membuat Kana buru-buru menoleh kearahnya.
"Ini baru mau masuk" jawab Kana sambil tersenyum.
Keduanya pun berjalan masuk, Rangga meletakan semua makan yang telah di belinya di atas meja makan sementara Kana masih tampak meihat-lihat hampir setiap sudut ruangan yang ada di sana.
"Sini makan dulu!, setelah itu baru lanjut lihat-lihatnya" ucap Rangga pada Kana.
"Bapak sudah lama ya tinggal di sini?" tanya Kana seraya menarik kursi dan duduk.
"Ya, semenjak aku bekerja sebagai asistennya tuan Arsenio, aku sudah membelinya dan tinggal di sini"
"Sendirian?" tanya Kana lagi.
"Ya itu dulu, tapi sekarang nggak lagi. Kan sudah ada istri" jawab Rangga sambil tersenyum, sementara Kana yang mendengarnya hanya bisa ikut tersenyum.
"Ayo, dimakan, sebelum makanannya dingin!" lanjut Rangga.
"Ya" jawab Rangga.
Keduanya tampak menikmati makan malam bersama untuk yang pertama kalinya.