My Love Story

My Love Story
Bab 142



"Terserah alasan bapak apa, tapi aku mohon kedepannya bapak tidak perlu mengkhawatirkan saya, saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri" ucap Kana lalu bangkit dari duduknya dan hendak pergi.


"Aku suka sama kamu Na!" teriak Rangga berhasil menghentikan langkahnya.


Hal itu membuat Kana terkejut. Sementara Ana juga tak kalah terkejutnya namun tidak dengan Arsenio.


"Sudah kuduga, akan seperti ini jadinya" ucap Arsenio menghentikan langkahnya begitu juga dengan Ana.


"Aku bilang, aku suka sama kamu Na" ucap Rangga lagi.


Kana segerah berbalik, berjalan menghampiri Rangga dan menutup mulutnya.


"Berhenti pak!, semua orang melihat kesini" ucap Kana panik.


Rangga membuka tangan Kana yang menghalangi mulutnya.


"Aku ngak peduli!, aku hanya ingin kamu tahu kalau aku suka sama kamu, aku cinta sama kamu!" ucap Rangga dengan suara lantang.


Ana membulatkan matanya, bahkan sampai menjatuhkan tas miliknya, tak percaya dengan sosok Rangga yang di lihatnya sekarang.


"Ternyata, pak Rangga bisa jatuh cinta juga ya?😲" ucap Ana tak percaya.


Arsenio yang mendengarnya menatapnya dari samping "Lah dia juga kan manusia, tentu saja bisa merasakan jatuh cinta😂" ucap Arsenio.


Sementara Kana kembali menutupi mulut Rangga"Iya., iya aku tahu, sekarang berhentilah bicara!" ucap Kana.


Rangga membulatkan matanya, melepaskan tangan Kana lagi "Kamu tahu?, kalau aku suka sama kamu?"


"Ya tahu lah, kan bapak baru saja mengatakan itu" jawab Kana.


"Oh iya ya" jawab Rangga sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


Kana hendak beranjak pergi namun segera di tahan oleh Rangga.


"Mau kemana?"


"Ya mau pergilah pak, bapak masih mau berdiri disini?, lihat orang-orang pada lihatin kita" ucap Kana.


Rangga menatap sekeliling namun tidak melihat keberadaan Arsenio dan Ana.


"Ayo pak" Kana menarik tangan Rangga dan keduanya berlalu pergi meninggalkan orang-orang disana yang tampak berbisik-bisik.


"Sebaiknya kita tidak menyusul mereka" ucap Arsenio menatap Kana dan Rangga yang perlahan menghilang dari pandangan mereka.


"Benar mas, kita akan menanyakan nanti kelanjutan kisah percintaan mereka nanti, jujur aku sangat penasaran mas" ucap Ana.


"Baiklah, nanti kamu akan menayakan pada sahabatmu dan aku akan menanyakan pada asistenku" ucap Arsenio.


Keduanya pun kembali ke meja mereka.


"Loh, Cuma daddy dan mommy?, aunty dan uncle mana?, ngak kesini?" tanya Alvis setelah Ana dan Arsenio sampai.


"Aunty sama uncle lagi ada urusan sedikit, makannya ngak ikut kesini" sahut Ana sambil menarik kursi lalu duduk.


"Ya, padahal aku kangen sama aunty, sudah lama ngak ketemu dan main barrng aunty" ucap Avis sedih.


"Sayang, lain kali aja ya? aunty dan uncle lagi sibuk, tapi daddy janji akan mengajak mereka ke rumah jadi kamu bisa main bersama mereka" bujuk Arsenio.


"Janji ya?"


"Iya sayang daddy janji" ucap Arsenio tersenyum.


"Ya udah, di habiskan makanannya ya? . Kalau tidak di sabiskan nanti makanannya nangis" lanjut Arsenio.


"Iya daddy" ucap Alvis.


"Sayang, kamu ngak mau pesan lagi?" Asenio menatap istrinya.


Ana mengeleng "Ngak mas, aku sudah kenyang" sahut Ana.


Di waktu yang sama tampak Rangga dan Kana kembali memasuki mobil.


Deru kendaraan membawah mereka menjauh dari restoran tersebut dan akan kembali menuju kantor Kana.


Kana diam, rasa canggung mulai menyilimuti dirinya, ia masih ngak percaya aja, sosok Rangga ternyata menyukainya.


Rangga menatapnya sebelum kembali fokus menyetir "Maaf" ucap Rangga.


Kana menoleh ke arahnya "Maaf untuk apa?" tanya Kana curiga.


"Ya mau minta maaf aja" sahut Rangga.


Kana mengehela nafas panjang "Ya saya tahu ko" ucap Kana.


Rangga menatapnya dari samping "Tahu apa?"


"Ya saya tahu, kalau bapak mau minta maaf karena tadi tidak bermaksud berkata seperti itu padaku" jawab Kana.


Rangga yang mendengarnya segera menginjak rem mobil, yang membuat mobil seketika berhenti.


"Tidak Kana, apa yang aku katakan tadi adalah benar. Aku ngak lagi bercanda Kana!" ucap Rangga serius.


Kana diam "Jadi dia beneran suka ya sama aku?, masa iya sih?" gumam Kana dalam hati.


"Kana, kamu dengar kan apa yang aku katakan?" tanya Rangga saat melihat Kana hanya diam tidak meresponnya.


"Ya aku dengar pak" sahut Kana.


"Lalu apa jawabanmu?" tanya Rangga.


"Ha?"


"Aku bilang, apa jawababmu?" ucap Rangga lagi.


"Aduh jawab apa nih?, aku ngak tahu apakah aku menyukainnya atau tidak" pikir Kana.


Kana menghela nafas panjang, sedikit merubah posisi duduknya agar dia bisa berhadapan lurus dengan Rangga, dan memberanikan diri menatap Rangga.


"Jika bapak benar menyukai saya, saya ingin tahu apa alasan bapak menyukai saya?"


"Jangan sampai, hanya karena kamu merasa kasihan padaku yang telah dibohongi pak Reza, makannya kamu mengatakan kalau Kamu mencintai saya" lanjut Kana dalam hati.


"Kalau soal itu aku ngak tahu jawabannya" ucap Rangga sedikit menjeda ucapannya.


"Aku benar-benar ngak tahu alasan kenapa aku suka sama kamu. Yang aku tahu, aku nyaman berada di dekatmu, aku suka jika berada di dekatmu tapi, ada satu yang aku paling ngak suka"


"Aku ngak suka lihat kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain. Kamu tahu?, jika lihat kamu bersama laki-laki lain bawaannya pengen membuat laki-laki itu segera menghilang dari muka bumi" lanjut Rangga.


Kana diam, tidak tahu harus merespon dengan apa, pikirannya bercampur aduk dan itu membuatnya sulit berpikir dengan jerni.


"Jika aku di tolak sekarang" Rangga menjeda ucapannya, sementara Kana menatapnya curiga.


"Jangan bilang, dia mau mengancamku seperti tadi😥" gumam Kana dalam hati.


"Tentu saja aku tidak akan menyerah!" lanjut Rangga.


Kana yang mendengarnya menghela nafas lega.


"Jika aku benaran di tolak, aku ingin mendengar lebih dulu alasanmu kenapa tidak mau menerimaku" ucap Rangga.


"Cukup pak!. Jangan bicara dulu, beri aku waktu untuk memikirkan apa yang terjadi hari ini, sungguh aku tidak bisa berpikir dengan baik sekarang, jadi jangan maksa saya menjawanya sekarang!" ucap Kana.


Rangga yang mendengarnya diam, lalu kembali melajukan mobilnya.


"Sekarang mau balik kantor atau?" tanya Rangga.


"Mau langsung pulang aja, nanti aku telefon Lastri untuk mengantar balik tas saya ke rumah" jawab Kana.


"Baik, saya akan memgantarmu pulang" ucap Rangga kembali fokus menyetir.


Beberapa menit kemudian Kana terkejut, mereka telah sampai ke daerah dimana dia tinggal.


"Lihat!, dia bahkan tahu dimana aku tinggal padahal aku belum memeberitahunya" gumam Kana dalam hati.


"Kalau masalah ini, bukanlah hal yang sulit bagiku untuk mengetahuinya" ucap Rangga yang seakan tahu apa yang ada di pikiran Kana.


Kana yang mendengarnya pun merinding "Gila apa sekarang, dia juga punya kekuatan membaca pikiran orang?. Apa kamu benar-benar manusia?" gumam Kana dalam hati.


"Jangan terlalu banyak berpikir!, cukup pikirkan saja jawaban apa yang akan kamu berikan padaku" ujar Rangga.


"Nah, kita sudah sampai" lanjut Rangga lalu menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang lumayan besar dengan pagar menjulang tinggi ke atas.


"Terima kasih, sudah mengantar saya pulang" ucap Kana lalu dengan cepat turun dari mobil, berjalan dan membuka pintu pagar lalu masuk.


Sementara Rangga tampak kembali melajukan mobilnya yang perlahan bergerak menjauh dari kediaman Kana.