My Love Story

My Love Story
Bab 149



Ana dan Kana berjalan melewati beberapa ruangan, dan berhenti melangkah setelah merasa jarak mereka dengan Arseno dan Rangga sudah cukup jauh.


Ana menoleh menatap Kana yang berjarak sekitar dua langkah darinya.


"Langsung ke intinya saja. Apa kamu benar-benar serius menikah dengan Rangga?" tanya Ana.


Kana menghela nafas "Soal itu, aku sendiri tidak tahu An,. Aku hanya menyuruhnya membuktikan keseriusannya namun aku tidak pernah memintanya untuk membuktikan keseriusannya dalam bentuk pernikahan" jawab Kana.


"Bahkan aku sampai kaget dia memintaku untuk menikah dengannya sementara, hatiku..... "


"Hatimu kenapa?, masih mau mengharapkan pria itu?" Ana langsung to the point.


"Bukan itu, aku hanya belum bisa membuka hati untuk siap-siapa, kamu mengerti kan maksud aku?"


Ana diam, dia tahu apa yang baru saja di alami sahabatnya itu. Tapi dia tidak mau melihat sahabtnya akan terus-terusan menutup hatinya.


Ana berjalan selangkah mendekati Kana, tatapanya lurus dengan wajah serius.


"Aku mengerti perasaanmu, aku juga mengerti perasaan Rangga yang benar-benar menginginkanmu"


"Aku berdiri disini bukan untuk memaksamu menerima Rangga. Soal menerima atau tidak menerimanya itu seutuhnya hakmu"


"Aku hanya sendikit menceritakan bagaimana keseriusan Rangga padamu" Ana menjeda ucapannya sementara Kana terlihat menunggu kelanjutan cerita Ana.


"Selama aku bersama Arsenio selama itu pula aku ngak pernah melihat Rangga yang seperti sekarang. Kamu tahu?, beberapa hari kemarin dia menelfon suamiku dengan tujuan meminta izin cuti dan cutinya dimulai dari hari itu juga. Hal itu sangat terburu-buru bahkan tanpa perencanaan terlebih dahulu"


"Awalnya aku dan suami ngak ambil pusing, soal permintaan cuti yang terburu-buru itu. Namun beberapa hari kemudian seseorang memeberitahukan suamiku soal alasan kenapa Rangga mengambil cuti yang sebelum-sebelumnya tidak pernah dia lakukan"


"Apa kamu tahu apa alasannya?" Kana mengeleng "Aku sendiri masih tak percaya sampai sekarang. Ternyata rasa suka, rasa cinta, bisa merubah perilaku seseorang dalam waktu yang singkat"


"Memangnya apa alasannya?" tanya Kana antusias dengan jawabannya.


"Alasannya adalah kamu" jawab Ana.


"A.. aku" Kana menunjuk ke dirinya.


Ana menggangguk "Ya, alasannya adalah kamu"


"Rangga meminta cuti hanya untuk menyelidiki siap-siapa saja yang dekat denganmu dan tentu saja itu bukan hal yang sulit baginya.


Mungkin itu salah satu alasan kenapa Rangga bisa mengetahui semua latar belakang pak Reza"


"Ya menurutku, dari situ kita sudah bisa tahu seberapa pedulinya dia kepadamu" ucap Ana mengakhiri ceritanya.


"Aku percaya sama satu kalimat yang menyatakan bahwa, cinta akan tumbuh sendirinya seiring berjalannya waktu" bisik Ana.


Ana bergerak mundur lalu tersenyum "Keputusan ada di tanganmu Na, dan kamu harus ingat!. Apapun keputusanmu nantinya aku pasti selalu berada dipihakmu"


"Aku duluan ya, mau ngisi perut. Tadi sih udah tapi belum full makannya harus di isi lagi" lanjut Ana yang langsung mendapat anggukan kepala dari Kana.


Ana berjalan kembali ke meja makan sementara Kana masih diam di tempat dengan pikirannya sendiri.


"Mommy dari mana?" tanya Alvis ketika Ana sampai.


"Tuh dari sebelah" jawab Ana lalu kembali duduk "Sayang sudah selesai ya makannya?" Ana balik bertanya.


"Sudah ko mommy, nih lihat perutku sudah sebesar ini karena telah makan banyak" ucap Alvis sambil menunjukan perutnya yang terlihat sedikit membuncit.


"Wah, sudah buncit nih perutnya" ucap Ana memegang perut putranya sementara Alvis tertawa karena geli.


"Sayang... " pangil Arsenio.


"Hmm" sahut Ana menatap suaminya


"Apa yang kamu bicarakan dengan Kana?" tanya Arsenio yang sedari tadi ingin menanyakan hal itu pada istrinya, sementara itu terlihat Rangga juga ikut menatap Ana menunggu jawaban yang akan di berikan Ana pada suaminya.


Ana melihat Rangga lalu kembali melihat suaminya "Entalah, hanya sekedar basa-basi sesama perempuan" sahut Ana lalu kembali melanjutkan makannya.


"Tetus Kana diamana?, kenapa belum kembali?, dia kan harus melanjutkan makannya" ucap Rangga.


"Dia masih disan.., eh itu sudah datang" ucap Ana menatap ke arah datanganya Kana.


Rangga, Arsenio dan Alvis pun ikut melihat ke arah yang di lihat Ana. Dan benar saja, Kana sedang berjalan menghampiri mereka.


"Duduk, dimakan makananya nanti keburu dingin" ucap Rangga menatap Kana yang kini sudah berdiri tak jauh darinya.


"Ya" sahut Kana lalu kembali duduk.


Ana dan Kana kembali melanjutkan makannya sementara Arsenio, Alvis dan Rangga berpamitan mau kembali ke ruang tamu.


Setelah selesai makan, keduanya pun berjalan menyusul yang lainnya di ruang tamu.


Semuanya tampak membicarakan sesuatu sebelum Arsenio, Ana, Alvis dan Rangga perpamitan pulang.