My Love Story

My Love Story
Bab 143



Tiga hari telah berlalu, selama itu pula Kana tidak pernah menampakan dirinya di kantor bahkan Lastri dan Fino pun tak tahu alasan pasti Kana tidak masuk selama tiga hari.


Pagi itu, seperti biasanya Lastri sudah dengan computernya, menyelesaikan tugasnya yang bertambah banyak.


"Pagi" sapa Fino yang baru saja datang.


"Pagi" jawab Lastri tanpa memalingkan pandangannya dari layar computernya.


Fino berjalan mendekati meja kerjanya lalu duduk, pandanganya beralih pada meja Kana yang nampak kosong "Kana belum masuk juga ya?" tanya Fino.


"Ya seperti yang kamu lihat, dia bahkan tidak ada kabar sama sekali" jawab Lastri menatap Fino sekilas sebelum kembali menatap layar computernya.


Fino menghela nafas "Kapan terakhir kali kamu bertemu dengannya?" tanya Fino.


Lastri menoleh menatap Fino yang juga menatapnya "Terakhir ketemu dia itu, tiga hari yang lalu, itu pun aku datang langsung ke rumahnya karena mengantarkan tas untuknya" jawab Lastri.


Keduanya tampak berpikir keras soal Kana yang tidak menampakan dirinya ataupun sekedar memberi kabar.


"Apa Kana belum masuk juga?" tanya Reza yang entah sejak kapan dia berdiri di depan pintu.


Lastri dan Fino yang mendengarnya segera menoleh ke arahnya "Belum pak" jawab keduanya bersamaan.


"Sial, apa dia berusaha menghindariku?, bahkan telefon dariku tidak pernah diterima olehnya" batin Reza menatap lurus meja kerja Kana.


"Apa kalian sudah coba menghubunginya?" tanya Reza lagi.


"Sudah pak, bahkan setiap harinya aku selalu menghubunginya namun tidak pernah ada jawaban darinya" sahut Lastri.


"Kana sebelumnya tidak pernah seperti ini" ucap Fino yang membuat Reza dan Lastri melihat kearahnya.


"Jika dia punya urusan atau apapun itu pasti dia selalu menyempatkan untuk menghubungi salah satu dari kita, walaupun hanya sekedar meminta untuk menghendel pekerjaannya selama dia tidak ada"


"Benar pak" ucap Lastri membenarkan ucapan Fino.


Dari kejauhan tampak seseorang berjalan kearah mereka, dan berhenti tepat di samping Reza.


"Selamat pagi pak" sapa Kana dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Lastri dan Fino yang melihat itu segera bangkit dari duduknya.


"Kana?" ucap mereka bersamaan.


"Pagi" sahut Reza menatap Kana. dahinya tampak mengerut saat melihat tampilan Kana yang berbeda dari biasanya.


"Ya ampun Kana, kamu dari mana aja sih?, aku khawatir loh, kamu tiba-tiba hilang kabar" ucap Lastri berjalan menghampiri Kana.


Kana terseyum "Maaf, telah membuatmu khawatir" ucap Kana menatap temannya itu.


Lastri mendekati Kana menatap dari kepala hingga kaki.


"Tunggu, sepertinya ada sedikit perubahan. Kenapa kamu ngak pakai baju kantor seperti biasanya?" ucap Lastri menyeringitkan dahi binggung.


"Ke ruangan saya sekarang!" ucap Reza lalu pergi.


"Baik pak" sahut Kana yang masih dapat di dengar oleh Reza.


"Aku ke ruangan pak Reza dulu ya" ucap Kana lalu ikut menyusul Reza.


"Tapi kan, kamu belum menjawab pertanyaanku" ucap Lastri sedikit berteriak.


Kan menoleh ke belekang tanpa menghentikan langkahnya "Aku akan kembali nanti" ucap Kana.


Lastri menghela nafas lalu berjalan kembali ke meja kerjanya.


"Dia selalu membuatku penasaran" ucap Lastri menarik kursi lalu duduk.


"Sepertinya sesuatu telah terjadi" ucap Fino dengan pandangan lurus menatap Kana yang perlahan hilang dari pandanganya.


"Memangnya terjadi apa?, paling hanya dapat sedikit teguran dari pak Reza" ucap Lastri.


"Ini kali pertamanya Kana ke sini tidak dengan pakaian kantor. Aku berharap tidak akan mendengar kabar yang kurang baik nantinya" lanjut Fino.


"Udah, santai aja kali, mungkin Kana datang kesini bukan untuk kerja melainkan mengurus surat izin" ucap Lastri.


"Mengurus surat izin?, memanya dia mau kemana?, pakai ngurus surat izin segala" tanya Fino


"Ya kali aja dia lagi ada urusan penting, yang mengharuskan dia mengambil cuti" sahut Lastri.


"Semoga seperti itu" ujar Fino lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Tok.. Tok, Kana mengetuk pintu.


"Masuk!" pinta Reza dari dalam.


Mendengar itu, Kana segera membuka pintu dan masuk. Di dalam tampak Reza berada di meja kerjanya dengan tatapan dinginnya ditunjukan pada Kana.


Sementara Kana berjalan mendekati meja kerja Reza dan berhenti setelah sampai.


Mereka tampak diam untuk beberapa saat sebelum mulai bicara.


"Kemana perginya kamu selama tiga hari terakhir? sampai-sampai tidak bisa menerima pangilan dariku padahal hpmu selalu aktif jika di hubungi"


Kana diam, pandanganya sedikit ditundukan menatap sesuatu yang ada di tangan kanannya.


"Hey!, kenapa diam?, bukankah aku sedang bertanya?" ucap Reza yang mulai tersulut emosi.


Kana mengangkat pendanganya, menatap lekat wajah yang selama ini dia kagumi, dengan eksperesi yang sulit di tebak Kana berucap "Maaf, atas kelalayan saya dalam bekerja"


"Tapi, bapak tidak perlu khawatir. Karena saya akan menerima kesekuensi atas kesalahan yang telah saya buat" lanjut Kana


"Saya tidak sedang membicarakan soal pekerjaan!. Sekarang saya minta pertanyaan saya tadi segera dijawab!"


"Seperti inikah sesengguhnya dirimu?. Sepertinya aku telah salah dalam memilih orang untuk di kagumi" batin Kana.


Kana menghela nafas "Baiklah, saya akan menjawab pertanyaan bapak. Tapi sebelum itu, silakan bapak terima surat pengunduran diri saya" ucap Kana meletakan surat yang di maksudnya.


Reza yang mendengarnya pun terkejut bergantian menatap surat tersebut dan juga Kana.


Reza bangkit dari duduknya "Tunggu... tunggu!, apa maksud semua ini?" Reza melemparkan surat tersebut kepada Kana.


Sementara Kana tampak tenang dan kembali meletakan surat pengunduran dirinya di atas meja "Saya pikir sudah jelas, surat ini merupakan surat menggunduran diri saya. Dan soal pertanyaan bapak dan tuduhan bapak terhadapku aku akan menjawabnya"


"Tiga hari kemarin saya tidak kemana-mana dan hanya berada dirumah untuk menenangkan diri serta pikiran saya. Saya sama sekali tidak berusaha menghindari bapak sebagaimana yang bapak tuduhkan kepada saya"


"Justru saya datang kesini selain mengantar surat pengunduran diri, saya juga datang untuk memberikan jawaban yang bapak inginkan, tapi sebelumnya saya minta maaf atas kelewatan waktunya"


"Jawaban saya... " Kana menatap wajah Reza yang nampak menunggunya jawaban darinya "Maaf, saya ngak bisa" lanjut Kana.


Bruuuk...


Reza memukul meja dengan keras hal itu sontak membuat Kana kaget. Reza berjalan mengintari meja dan berhenti di depan Kana.


Diraihnya tanganya, lalu mengengamnya dengan erat. "Jadi kamu menolaku?, bukankah kamu tahu saya sangat membenci sebuah penolakan?" ucap Reza dengan sorotan mata tajam.


"Kenapa?, kenapa menolaku?. Oh aku tahu, kamu sedang menyukai seseorang bukan? Maka dari itu kamu berani menolaku. Sekarang katakan siapa orangnya"


"Ayo katakan!" bentak Reza.


"Ya tuhan, kirimkan seseorang untuk menolongku" batin Kana, seluruh tubuhnya gemetar karena takut.


"Aku tidak sedang menyukai siapa-siapa" ucap Kana yang akhirnya memberanikan diri untuk kembali berbicara.


"Oh, tidak sedang menyukai siapa-siapa ya?"


"Lalu kenapa kamu menolaku!" teriak Reza tepat di depan wajah Kana yang membuat Kana segera memejamkan matanya dengan rasa penuh ketakutan.


"Kana kamu harus berani!, sekarang tidak ada yang bisa menolongmu selain dirimu sendiri" batin Kana berusaha menguatkan dirinya.


Setelah merasa cukup kuat Kana kembali membuka matanya lalu berkata "Karena aku tidak mau mempunyai hubungan dengan laki-laki yang telah beristri!" teriak Kana sekuat mungkin.


Reza yang mendengarnya terbelalak lalu melepasakan tangan Kana dengan satu langkah bergerak mundur.


"Kamu tahu itu?" ucap Reza dengan nada suara menurun.


"Ya saya tahu, saya tahu semua tentangmu" ucap Kana dengan nada tegas.


"Baiklah Kana, tetaplah seperti ini! kamu akan segera lolos" pikir Kana.


Reza yang mendengar pengakuan Kana kembali bergerak mundur.


"Bagaimana Kana bisa tahu?. Sunggu ini di luar kendaliku, aku terlalu meremehkan dia" gumam Reza dalam hati.


Kana tersenyum tipis, sepertinya dia telah berhasil.


Kana bergerak maju, satu persatu langkahnya akan memangkas jarak di antara mereka.


"Saya tahu semuanya pak, saya tahu bapak sudah menikah, saya tahu bapak menyembunyikan soal ini dari semua jenis media, saya juga tahu alasan bapak melakukan itu" ucap Kana lalu menghentikan langkahnya setelah jaraknya cukup dekat dengan Reza.


Reza tampak bersusah paya menelan salivanya.


"Baiklah, selangkah lagi Kana!" gumam Kana dalam hati.


Kana mengeluarkan sesuatu dari tasnya lalu meletakannya ke atas meja kerja Reza.


"Bagaimana jika foto-foto ini sampai ke tangan wartawan?" ucap Kana.


Hal itu seketika membuat wajah Reza berubah, Kana yang melihat itu pun tak mau menunggu lama lagi.


"Tapi, bapak tidak perlu khawatir. Bapak cukup diam di tempat dan jangan coba menghalagi saya pergi, maka saya akan pastikan foto-foto ini tidak akan sampai ke tangan mereka" ucap Kana.


Melihat tidak ada respon dari Reza melainkan diam di tempat, Kana mengunakan waktu itu sebaik mungkin untuk kabur.


Kana berhasil keluar dan menyandarkan tubuhnya di dinding, perlahan tubuhnya bergerak turun dan berakhir duduk di lantai.


"Kamu berhasil Kana" ucapnya bersamaan dengan tetesan air yang keluar dari sudut matanya.


Kana mengangkat kedua tanganya menatap jari-jemarinya yang nampak gemetar.


Diwaktu yang sama sesorang berjalan hendak memasuki ruang kerja namun langkahnya terhenti saat melihat Kana.


"Kana?" pangilnya sementara Kana yang mendengarnya segera menoleh kearahnya.