My Love Story

My Love Story
Bab 57



Roby bergerak mundur, lalu mengambil beberapa buku yang digunakan Kana dan juga Ana untuk melemparnya.


"Kasihan bukunya loh, jadi jatuh kan dia" Roby mengembalikan buku-buku itu kepada Ana dan juga Kana.


"Semua itu karena kamu" ujar Kana kesal.


"Loh ko aku sih? yang melempar buku-buku itu kan kalian bukan aku"


"Tapi kan kamu yang membuat kami meleparkan buku itu, coba saja tadi kamu tidak menguping pembicaraan kami, kami ngak akan mungkin melempar buku-buku ini"


"Sudah...sudah, bertengkar mulu sih kalian. Sana balik ke tempat dudukmu!, dan lain kali jangan pernah menguping pembicaraan kita lagi" ujar Ana.


"Dengar tuh apa yang di bilang Ana, cepat sana kembali ke tempat dudukmu" sambung Kana.


Roby pun berjalan kembali ke tempat duduknya.


"Tapi aku suka ko mendengar topik pembicaraan yang seperti itu" Roby menoleh ke belakang menatap Ana dan juga Kana.


"Roby..!" teriak Ana dan Kana bersamaan.


"Hahaha namanya juga laki-laki, ya kali ngak suka dengan hal-hal begituan"


"Sekali lagi kamu bicara, aku lakban mulutmu biar ngak bisa ngomong lagi" ujar Kana kesal.


"Idih takut" Roby terkekeh.


"Sudah biarin saja dia, jika di ladeni terus makin melunjak dianya" Ana mencegah Kana berdiri dari duduknya.


Dosen mata kuliah hari itu pun datang, memberikan materi pelajaran hingga jam pelajaran berakhir.


"Oh iya besok kan hari ulang tahunmu. Kamu minta kado apa dariku?" ucap kana di selah-selah langkah mereka.


"Apa saja, kalau itu dari kamu pasti aku suka" Ana menatap Kana lalu tersenyum.


"Hmm baiklah, aku pasti akan memberikan hadiah yang pastinya kamu butuhkan" ucap Kana.


Ana tiba-tiba menghentikan langkahnya, tangan kanannya memegang perutnya.


"Eh kamu kenapa An?" tanya Kana yang juga menghentikan langkahnya.


"Perutku kram" sahut Ana.


"Loh, ko bisa sih?. Aku bawah ke rumah sakit ya?" Kana mulai terlihat panik.


Ana mengelengkan kepalanya dengan tangan masih terus memegang perutnya.


"Tidak, aku ngak mau ke rumah sakit"


"Kenapa?. Apa kamu akan terus menahanya seperti ini?"


"Iya, sepertinya aku masih bisa menahanya. Kita langsung pulang saja"


"Ya udah aku antar pulang ya?, pakai mobil aku saja" Kana membantu Ana berjalan.


"Terus mobil aku gimana?" tanya Ana.


"Iss itu masalah gampang, yang terpenting kamu sekarang. Ngak mungkin kan kamu bawah mobil dalam kondisi seperti ini"


"Udah nurut saja padaku!"


Kana membuka pintu mobil dan membantu Ana masuk, Kana berjalan mengelilingi mobil lalu masuk dan duduk di depan setir.


Deruh kendaraan membawah mereka menjauh dari halaman kampus. Ana tampak menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil memejamkan mata sambil memegang perutnya.


"Kamu yakin ngak apa-apa?, atau kita ke rumah sakit saja ya?" Kana sesekali menatap Ana dari samping.


"Aku ngak apa-apa ko, langsung pulang saja" sahut Ana dengan mata masih terpejam.


"Kamu lagi dapet ya?" selidik Kana.


Ana tampak mengelengkan kepalanya.


"Atau kamu belum makan dari pagi?"


Lagi-lagi Ana mengelengkan kepalanya.


"Belum makan, ngak. Lagi dapet juga, ngak. Terus kenapa bisa sakit" gumam Kana dalam hati. Pandanganya kembali fokus menatap jalan dan sesekali melirik Ana memastikan dia baik-baik saja.


Kana menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Ana, mematikan mesin mobil lalu menatap Ana.


"Ana... Ana" pagil Kana sambil menepuk lembut pundaknya.


"Hmm"


"Kita sudah sampai"


Ana berlahan membuka matanya berusaha mengumpulkan kesadaranya.


"Oh sudah sampai ya?"


"Iya An, kamu tidur ya?".


Ana mengagguk sebagai jawaban.


"Terima kasih ya sudah mengatarku. Terus mobil aku gimana?" Ana menatap Kana.


"Ayo aku antar sampai di dalam!" Kana bergerak turun, mengintari mobil lalu membantu Ana membuka pintu mobil.


"Gimana?, perunya masih kram?" tanya Kana di selah-selah langkah menuju pintu masuk.


"Kramnya masih terasa tapi sudah ngak seperti waktu di kampus" sahut Ana.


Dari dalam rumah tampak Rany yang juga ikut mendengar suara mobil pun segera berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Eh sudah pulang" Rany menatap Ana dan jiga Kana.


"Iya tante" jawab Kana tersenyum.


Rany menatap sekeliling mencari keberadaan mobil Ana.


"Lo mobil kamu mana?" tanya Rany pada putrinya.


"Mobilnya kami tinggal di kampus ma, aku pulang di antar Kana"


"Benar tante, habisnya di kampus perut Ana tiba-tiba kram. Jadi mobilnya kami tinggal" sambung Kana.


"Perut kamu kram?, mama bawah ke rumah sakit ya" ucap Rany panik.


"Aku ngak apa-apa ma, tidak perlulah ke rumah sakit"


"Tapi kalau dede bayinya kenapa-kenapa gimana?. Kita ke rumah sakit ya"


Seketika raut wajah Ana bias mendengar ibunya akan membawahnya ke rumah sakit. Bukan dia takut untuk pergi ke rumah sakit, dia hanya takut kehamilan pura-puranya di ketahui ibunya, sesungguhnya dia belum siap akan hal itu.


Sementara di lain sisi ada Kana yang terkejut mendengar soal kehamilan Ana.


"Dede bayi?" ucap Kana.


Ana dan Rany menatapnya secara bersamaan.


"Iya dede bayi, apa Ana belum memberitahumu kalau dia sedang hamil?" ucap Rany.


Ana mengelengkan kepalanya mengisyaratkan agar tidak mempercayainya.


"Belum tante, Ana belum memberitahuku. Wah selamat ya An" Kana bejalan mendekat lalu memeluk Ana.


"Yes sebentar lagi aku jadi bibi, ngak sabar deh lihat keponakanku lahir" ucap Kana.


"Iya keponakan?, mungkin maksudmu keponakan dalam mimpi kali" gumam Ana dalam hati.


Kana melepaskan pelukannya menatap Ana yang sedari tadi diam.


"Kamu ko ngak beritahu aku?, aku kan bisa siap siaga menjaga kamu dan calon keponakanku setiap menit bahkan setiap detik jika kita lagi di kampus"


"Jangan ngadi-ngadi kamu Na!. Baiklah ayo luruskan saja dulu, nanti baru beritahu dia".


"Heheh, maaf aku lupa memberitahumu. Habisnya tugas kita banyak. Jadi aku lupa memberitahumu"


"Lihat dari mana kamu dapatkan bakat aktingmu ini, aktingmu bahkan bisa mengalakan akting para artis papan atas"


"Iya ya, akhir-akhir ini tugas kita menumpuk. Aku sampai pusing mau kerjakan yang mana dulu"


"Jangan percaya apa yang aku omongin barusan Na!"


"Haha aku pun begitu"


"Ets, kamu jangan sampai pusing-pusing apalagi sampai stres!, kasihan keponakanku"


"Cukup Kana!, tidak ada keponakanmu di perutku, yang ada tuh hanya sisa makanan yang aku makan siang tadi"


"Jangan khawatir, aku akan menjaga keponakanmu dengan baik" ucap Ana memaksakan terseyum.


"Ayo masuk dulu, biar tante buatin minum" ucap Rany.


"Terima kasih tante, tapi sepertinya aku belum bisa, soalnya aku harus balik ke kampus mengurus mobil Ana yang tertinggal di sana" ucap Kana sambil tersenyum.


"Oh gitu ya, maaf telah merepotkanmu" ucap Rany.


"Oh ngak apa-apa tante, aku sama sekali tidak merasa di repotkan"


"Ya udah tante aku pamit ya mau balik ke kampus" ucap Kana menyalimi Rany.


"Iya, kamu hati-hati ya"


Kana mengagguk sebagai jawaban, tatapan Kana beralih pada Ana lalu tersenyum penuh arti.


"Apa..? jangan berpikir macam-macam ya!. Cepat sana pergi! jangan memeluku lagi?!"


"Aku pergi ya An" ucap Kana sambil memeluk Ana.


"Cie yang punya dede bayi, ngak jadi cerai dong sama mas tampan" bisik Kana lalu melepaskan pelukannya.


"Kana....!"


Kana tertawa puas karena berhasil menjahili sahabatnya itu, sementara Rany menatap binggung kedua wanita di depanya.


"Ya udah aku pergi ya" Kana berjalan keluar dari pekarangan rumah Ana dan masuk ke dalam mobilnya. Mobilnya melaju menjauh dari rumah Ana dan akan kembali menuju kampus.