
Ana diam, menatap serius suaminya yang juga nampak serius dengan ucapannya.
Arsenio pun mulai menceritakan semua kejadian sebenarnya pada istrinya.
"Sejak awal kepergianmu, kakek dan mama menjodohkan aku dengan anak kerabat kakek. Dia adalah Clarissa teman kuliah kamu"
"Aku sangat menentang perjodohan itu, karena aku yakin kamu pasti kembali. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana kakek dan juga mama jika sudah memutuskan sesuatu?"
"Walaupun aku sudah menentangnya namun mereka terus melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, mereka menyiapkan segalanya hingga sampai tahap dimana kami akan menikah"
"Saat itu aku benar-benar ngak bisa berbuat apa-apa, sempat berpikir mungkin aku dan kamu memang tidak berjodoh"
"Namun seketika pikiran itu hilang saat mendapat telefon dari orang-orang kepercayaanku yang mengatakan kamu telah kembali"
"Aku langsung menyuruh mereka menutup bandara untuk beberapa waktu"
"Tampa menunggu lama aku dan Rangga langsung pergi ke bandara. Namun sesampainya di sana, aku tidak menemukam keberadaanmu"
"Aku berlikir keras saat itu, bagimana pun caranya aku harus menemukanmu, aku menyuruh semua orang-orang kepercayaanmu untuk mencari keberadaanmu sampai dimana mereka mendapatkan segala yang aku perintahkan termasuk mendapatkan alamat sekolah di mana Alvis bersekolah"
"Aku benar-benar minta maaf karena membawah Alvis pergi!. Tapi aku ngak berniat untuk mengambil Alvis darimu"
"Saat itu aku berpikir hanya Alvis satu-satunya yang bisa membantuku untuk kembali bersamamu"
"Aku menyusun semua rencana hingga sampai di tahap dimana kita menikah lagi"
"Namun, malam itu aku benar-benar tidak tahu bagaimana kakek dan mama bisa datang ke pernikahan itu. Padahal aku sama sekali tidak memberitahukan mereka. Karena apa? Jika mereka tahu sudah pasti mereka akan menentang pernikahan itu"
"Dan benar saja, walau pun mereka tahu kita telah menikah lagi itu tidak membuat mereka membatalkan pernikahanku dengan Clarissa"
"Aku yang mendengar berita itu pun hendak pergi untuk membatalkannya namun, sebelum pergi membatalkan itu aku menyusulmu pergi menjemput Alvis"
"Di perjalanan pergi menyusulmu, kami menemukan mobilmu di pinggir jalan, aku dan Rangga segera keluar dari mobil untuk memeriksa ke dalam mobil, namun kita tidak menemukanmu di sana"
"Tanpa menunggu lama aku dan Rangga segera menyuruh orang-orang kepercayaanku untuk mencari keberadaanmu. Setelah berbagai usaha di lakukan akhirnya kita menemukan dimana titik yang kami curigai"
"Tanpa menunggu lama, kita segerah ke tempat itu untuk menyelamatkanmu dan membawahmu ke rumah sakit"
"Saat berada di rumah sakit, aku mendapat telefon dari kakek bahwa pernikahan aku dan Clarissa dilaksanakan ke esokan paginya"
"Dan aku menuruti keinginan kakek untuk datang ke pernikahan itu. Namun tidak untuk menikah dengan Clarissa"
"Aku datang ke acara pernikahan itu semata-mata hanya untuk datang menangkap orang yang telah menculikmu"
"Namun semua orang bahkan media beranggapan aku benar-benar datang untuk melangsungkan pernikahan dengan Clarissa.
Maka dari itu berbagai berita, tentang pernikahanku banyak tersebar di berbagai sosial media" jelas Arsenio panjang lebar.
"Memangnya Roby datang ke acara pernikahan itu?" tanya Ana yang serius mendengarkan penjelasan suaminya.
Arsenio meletakan jari telunjuknya di depan bibir istrinya "Aku pikir, ini kali terakhirnya aku mendengar kamu menyebut nama laki-laki itu!" ucap Arsenio.
"Loh, memangnya kenapa?" tanya Ana binggung.
"Aku ngak suka!. Pokoknya ini terakhir kalinya aku mendengar kamu menyebut nama itu!"
"Idih... mulut-mulut aku, terserah aku lah mau yebut nama siapa😏" ucap Ana.
"Terserah kamu saja, tapi jika aku mendengar kamu menyebut nama itu lagi, akan aku pastikan kamu mendapat hukuman dariku" ucap Arsenio.
"Coba saja kalau berani!" ucap Ana menantang.
"Oh jadi ceritanya mau nantangin aku ya?" Arsenio menarik tangan Ana membuatnya kembali masuk ke dalam pelukannya.
Cup
Arsenio mencium bi**r istiranya, Ana memukul-mukul punggung suaminya beraharap Arsenio segera menghentikan aksinya namun bukannya menghentikan aksinya Arsenio malah semakin buas menikmati bi**r istrinya.
Arsenio melakukan itu sangatlah lama, hal itu membuat Ana hampir ke habisan nafas. Arsenio yang menyadari hal itu pun segera menghentikan aksinya dengan nafas yang masih memburu sementara Ana tampak bersusah paya mengatur nafasnya.
Plak
"Ya maaf, habisnya kamu menantangku sih, tapi.. " ucap Arsenio.
"Tapi apa?"
"Boleh ngak sekali lagi?" tanya Arsenio.
"Ngak!. Dasar mesum" ucap Ana melemparkan bantal guling ke arah Arsenio namun dengan sigap Arsenio langsung menangkapnya.
"Biarin, asalkan mesumnya sama istri sendri😜" ucap Arsenio.
"Dasar gila!" Ana bergerak turun dari ranjang namun segera di cegah oleh Arsenio.
"Mau kemana?" tanya Arsenio.
"Sudah larut malam, aku mau tidur" sahut Ana.
"Memangnya mau tidur di mana?, ini kan kamar kamu" ujar Arsenio masih menahan tangan istrinya.
"Lepaskan tanganku!, aku mau tidur di kamar Alvis" kata Ana.
"Lah kamu mau tinggalin aku di sini sendirian?, aku kan lagi sakit. Tega ya kamu!😢" ucap Arsenio dengan wajah sedih yang di buat-buat.
Ana bergerak mendekati Arsenio meletakan tangan kanannya di dahi suaminya "Panasnya sudah turun" ucap Ana.
Arsenio menatap istrinya sambil tersenyum "Ngapain senyum-senyum?" Ana mengerutkan dahi binggung.
Bukannya menjawab Arsenio melingkarkan ke dua tanganya di pinggang istrinya lalu dengan cepat membaringkan tubuhnya ke tempat tidur, hal itu membuat Ana pun ikut berbaring.
"Lepaskan tanganmu!, aku mau pergi tidur" ucap Ana, namun tidak di pedulikan oleh Arsenio.
"Temanin aku tidur disini ya?. Sudah lama loh ngak di temanin tidur" bisik Arsenio yang membuat Ana merinding.
"Jangan macam-macam!" ucap Ana hendak bergerak bangun. Namun lagi-lagi di cegah oleh Arsenio.
"Aku janji ngak akan macam-macam. Asalkan kamu mau nemanin aku tidur" ucap Arsenio.
Ana diam, dia tampak berpikir keras. Setelah cukup lama berpikir Ana pun memutuskan untuk menemani suaminya.
"Baik, aku akan tidur disini. Tapi mas jangan macam-macam ya!" ucap Ana.
Arsenio terseyum "Iya janji" sahut Arsenio.
Ana pun berbalik, memposisikan Arsenio berada di belakangnya.
Arsenio yang melihatnya pun menghela nafas panjang "Sepertinya aku harus menahan diri untuk beberapa waktu ke depan. Semoga bisa tahan" pikir Arsenio.
Arsenio bergerak mendekati Ana dan memeluknya dari belakang, hal itu membuat Ana terkejut dan segera berbalik ke arahnya "Mas mau ngapai?. Mas kan sudah janji ngak macam-macam sama aku"
"Hanya mau peluk kok, bisa kan? " sahut Arsenio.
"Kan ada bantal guling" kata Ana
Arsenio mendorong bantal guling di belakangnya yang membuat bantal guling jatuh ke lantai.
"Bantal gulingnya hilang, udah hanya mau peluk saja ngak lebih kok"
"Ko bisa hilang sih?, perasaan tadi ada di sini" pikir Ana binggung.
"Janji ya, hanya peluk saja!" ucap Ana.
"Iya sayang, aku janji" sahut Arsenio.
Ana pun menghela nafas lega dan kembali berbalik memposisikan Arsenio di belakangnya sementara Arsenio memeluknya dari belakang.
"Sabar... Arsenio sabar" gumam Arsenio dalam hati.
Karena malam semakin larut, tak perlu waktu lama, keduanya pun memasuki alam mimpi.