My Love Story

My Love Story
Bab 133



Apartment Rangga


Tanpak Rangga masuk ke dalam kamarnya menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Suara notifikasi membuatnya segera memeriksa ponselnya. Rangga pun tersenyum mendapatkan pesan dari orang suruhannya yang berisi sesuatu yang dimintanya untuk dicari.


Rangga tampak serius melihat semua pesan yang dikirimkan oleh orang suruhanya.


"Ow, ternyata hanya seorang CEO sementara" ucap Rangga membaca salah satu artikel yang dikrimkan oleh orang suruhannya.


Semua data serta informasi mengenai Reza yang ingin di ketahuinya telah dikirimkan oleh orang-orang suruhannya. Rangga terus memerikasa dan membaca satu persatu data serta informasi tersebut.


Sampai dimana Rangga membuka pesan dan membacanya pesan terakhir yang di krimkan orang-orang suruhannya.


Rangga pun di buat terkejut dengan isi artikel yang dibacanya, saking terkejut dan tak percayanya Rangga segera bagun dari tidurnya lalu duduk dan mencoba membaca kembali artikel tersebut.


"Alfero Rezardan atau sering di kenal dengan Reza, yang merupakan CEO sementara di salah satu perusahaan Q diketahui telah melangsungkan pernikahannya dengan wanita yang dicintainya sejak tahun kemarin. Namun, sampai saat ini ada banyak media yang tidak mengetahui hal ini, pernikahan Rezardan seakan ditutupi oleh pihak yang bersangkutan dan sampai saat ini belum ada alasan pasti kenapa pernikahan Rezardan tidak begitu banyak diketahu oleh awak media"


Rangga lagi-lagi terkejut setelah membaca berita itu, melemparkan ponselnya ke atas kasur lalu bangkit dari duduknya.


"Sial!, laki-laki itu mencoba membohongi Kana. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi" ujar Rangga.


"Sudah punya istri tapi masih saja ga**l ke perempuan lain" gerutu Rangga.


Entah mengapa amarahnya terpancing setelah mengetahui berita tersebut.


Kediaman Arsenio.


Semua terlihat telah selesai dengan ritual makannya, Art yang melihat itu segera merapikan meja makan sementara Rany dan lainnya kembali ke ruang keluarga.


"Oma, ko daddy dan mommy belum juga bangun?, aku kan harus secepatnya berangkat ke sekolah, nanti telat loh. Aku ngak mau di tertawain teman-teman hanya karena telat datang ke sekolah" ucap Alvis.


"Iya nih, mommy dan daddymu kenapa sih lama sekali bangunnya. Nanti kalau bangun terus turun ke sini oma jewer telinganya biar tahu mereka kalau mereka telah bangun kesiangan" ucap Alin.


"Iya, aku juga mau ikut, nanti oma jewer telinga daddy dan aku jewer telinga mommy" ucap Alvis.


"Jangan dong, nanti daddy dan mommynya nangis loh" ucap Gibran.


"Biarin, siapa suruh telat bagun, kan Alvis jadi telat berangkat kesekolahnya" ucap Alvis cemberut.


"Sudah sini biar oma saja yang bantu Alvis bersiap-siap biar ngak telat berangkat sekolahnya, Alvis mau di bantu oma siap-siap?" ucap Rany.


"Dari pada aku telat ke sekolahnya, mending sama oma aja" jawab Avis.


"Ya udah ayo kita siap-siap" ajak Rany sambil mengulurkan tangannya ke arah Alvis yang langsung diraih oleh Alvis.


Rany berganti menatap Alin, Gibran, Sarah dan Nicholas "Sebentar ya, saya bantu Alvis dulu siap-siap" ucap Rany.


"Ya silakan" jawab mereka hampir bersamaan.


Rany dan Alvis pun berjalan menuju kamar Alvis.


Sementara itu, di waktu yang sama terlihat Arsenio menyudahi aksinya dan menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Ana.


"Terima kasih sayang" ucap Arsenio mengecup lembut kening istrinya.


"Hmm" ucap Ana tak berani menatap wajah suaminya.


Arsenio yang melihat itu pun tersenyum "Kenapa wajahnya di tutup?"


"Malu" ucap Ana pelan namun masih dapat di dengar oleh Arsenio.


Arsenio segera melepaskan tangan Ana yang diletakannya di depan wajahnya "Kenapa malu?. Kita kan sepasang suami istri. Itu adalah hal yang biasa dilakukan oleh sepasanya suami istri" ucap Arsenio lalu kembali mengecup alis istrinya hal itu membuat wajah Ana bertambah memerah.


"Ngak tahu mas, bawaannya malu aja" ucap Ana kembali menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Arsenio yang melihat itu hanya bisa tersenyum lalu memeluk Ana dengan lembut.


"Istirahatlah beberapa menit, setelah itu kita mandi terus turun sarapan" ucap Arsenio sedikit menjeda ucapannya.


"Mereka pasti telah menunggu di bawah" lanjut Arsenio.


Sementara di kamar Alvis, terlihat Rany sibuk membantu Alvis memakaikan seragam sekolahnya.


"Nah selasai, sekarang tinggal berangkat deh" ucap Rany setelah menyelesaikan tugasnya.


"Jum berangkat ke sekolah" ujar Alvis bersemangat.


"Jumm" sahut Rany.


Keduanya tampak keluar dari kamar dan kembali menuju ruang keluarga. Disana telah berdiri dua pria yang di kenalkan Alvis saat berada di meja makan.


"Aduh, anak siapa nih yang tampan?" ucap Alin berjalan menghampiri Alvis.


"Anak daddy dan mommy" sahut Alvis sambil tersenyum.


"Ow pantas, daddy dan mommynya juga tampan dan cantik jadi ngak perlu di ragukan lagu soal ketampannya cucu oma" ucap Alin.


"Alvis" pangil Gibran, Alvis menoleh kearahnya "Ya opa"


"Baik opa"


"Ayo berpamitan dulu sama opa dan juga oma" ucap Rany yang langsung dilakukan oleh Alvis.


"Pak tolong di jaga baik-baik cucu saya" ucap Sarah pada kedua pria yang bertugas menjaga Alvis dan mengantarnya ke sekolah.


"Baik nyonya" sahut mereka bersamaan.


"Oma, opa aku berangkat ya?" ucap Alvis.


"Iya sayang, belajar yang rajin ya" ucap Rany, Sarah, Gibran, Nicholas dan Alin bersamaan yang langsung mendapat anggukan kepala dari Alvis sebagai jawaban.


Alvis dan kedua pria itu pun berlalu pergi, meninggalkan yang lainnya di ruang keluarga.


"Ma, sepertinya kita harus pulang sekarang. Soalnya aku harus ke kantor Ada beberapa dokumen yang harus di tanda tanggani" ucap Gibran menatap Alin.


"Ya, aku juga sepertinya juga harus pulang karena ada metting di kantor jam 10.00" ucap Rany.


"Ya udah, sebelum pulang kita beritahu salah satu Art disini untuk menyampaikan pada Arsenio dan Ana kalau kita sudah pamit pulang" ucap Nicholas.


"Nah aku setuju dengan papa" ucap Alin.


"Ya udah, tunggu apa lagi? Ayo! Semua pada mau ke kantor kan?" ucap Sarah yang membuat semuanya bangkit dari duduknya.


Semuanya tampak menghampiri salah satu Art untuk memberitahukan Ana dan Arsenio bahwa mereka telah pulang.


Setelah selesai mereka pun berjalan keluar dan masuk ke mobilnya masing-masing, dimana Sarah dan Nicholas satu mobil, Alin dan Gibran juga satu mobil dan Rany pun masuk ke mobilnya.


Ketiga mobil melaju keluar dimana pak satpam telah membuka pintu pagar dengan lebar setelah ketiga mobil berhasil keluar pak satpam pun kembali menutup pintu pagar.


Diwaktu yang sama, tampak Ana dan Arsenio telah selesai membersikan diri dan juga mengganti pakaian, mereka bersiap-siap keluar kamar.


"Mas, aku sudah selesai nih" ucap Ana.


Arsenio yang duduk di sofa pun segera bangkit dari duduknya "Ya udah ayo" ucap Arsenio.


Keduanya berjalan menuju pintu. Baru saja hendang meraih daun pintu, ponsel Arsenio berdering membuatnya menunda membuka pintu kamarnya.


"Sebentar sayang, ada telefon" ucap Arsenio lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celanannya.


"Telefon dari siapa?" tanya Ana yang juga ikut menatap layar ponsel suaminya.


"Rangga" jawab Arsenio.


"Ya udah buruan di anggkat, siapa tahu saja penting, sekalian tanya kalau dia telah mengantarkan Kana" ucap Ana.


"Iya sayang, aku angkat sekarang"


πŸ“ž"Selamat pagi tuan, maaf menggangu waktunya" ucap Rangga dari seberang.


πŸ“ž"Pagi" sahut Arsenio.


πŸ“ž"Begini tuan, saya ingin meminta izin untuk mengambil cuti, apakah bisa tuan?"


πŸ“ž"Tentu saja bisa, kapan kamu akan memulai cutimu?" tanya Arsenio.


πŸ“ž"Rencanannya mulai hari ini tuan"


πŸ“ž"Ha?, kenapa buru-buru amat sih?, apakah kamu sudah memberitahukan hal ini pada sekertarisku?" tanya Arsenio berurutan.


πŸ“ž"Maaf tuan untuk keterburu-butuanku, tapi tuan tidak perlu khawatir saya sudah menghubungi sekertaris tuan untuk menghendel semua pekerjaanku saat saya sedang cuti" ucap Rangga.


πŸ“ž"Baiklah, jika kamu sudah memberitahukannya"


Ana menarik ujung baju suaminya yang membuatnya menoleh kearahnya "Mas, jangan lupa tanya pada pak Rangga!, apakah dia sudah mengantarkan Kana sampai di rumahnya" ucap Ana pada suaminya.


πŸ“ž"Oh iya, nih istriku bertanya, apakah kamu sudah mengantarkan Kana sampai di rumahnya?"


Rangga yang mendengarnya diam sejenak, mengingat kembali ucapan Kana.


πŸ“ž"Sudah tuan" sahut Rangga.


"Kamu dengar sendiri kan?" tanya Arsenio pada istrinya.


"Sudah, terima kasih telah mau mengantarkan sahabat saya" ucap Ana.


πŸ“ž"Sama-sama nona" sahut Rangga yang dapat mendengar ucapan Ana.


"Maafkan aku nona, aku tidak bermaksud membohongimu" batin Rangga.


πŸ“žBaiklah, silakan nikmati waktu cutimu" ucap Arsenio.


πŸ“ž"Terima kasih tuan"


Sambungan telefon pun terputus, Ana dan Arsenio kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.