
Jarum jam terus berputar, jarum jam menunjukan malam semakin larut, tampak Ana masih dengan posisi yang sama duduk di atas tempat tidur tepat di samping suaminya.
"Mama ke kamar saja, terus langsung istirahat. Mas Asenio biar aku yang jaga" ungkap Ana pada ibunya.
"Kamu yakin akan menjaga Arsenio seorang diri?, kamu kan baru saja keluar dari rumah sakit" tanya Rany yang duduk tak jauh dari ranjang dimama Arsenio terbaring.
Ana tampak mengelengkan kepalanya "Aku ngak apa-apa ma, mama istirahat saja di kamar" sahut Ana.
Rany menghela nafas "Ya udah, mama mau kembali ke kamar. Tapi kalau kamu membutukan bantuan mama, langsung pangil saja mama di kamar" ucap Rany sambil bangkit dari duduknya.
"Iya ma" sahut Ana sementara Rany tanpak berjalan keluar dari rumah Ana dan akan kembali menuju kamarnya.
Setelah ibunya pergi, Ana memutuskan untuk main game yang ada di ponselnya sebagai obat kantuknya.
Setelah beberapa menit bermain game, Ana dikagetkan dengan tangan Arsenio yang meraih tangannya. Hal itu membuat Ana segerah menoleh menatap suaminya.
"Apa badannya masih panas?" Ana langsung meletagan tanganya ke dahi suaminya untuk memeriksa suhu tubuh suaminya.
"Terima kasih" ucap Arsenio menatap lekat istrinya, sementara Ana yang mendengarnya pun ikut menatapnya. Tatapan mereka bertemu hingga beberapa menit.
Ana disadarkan oleh bayangan Kana yang menyuruhnya agar memberi suaminya makanan saat dia sudah siuman, sehingga dia bisa meminum obat yang di berikan dokter.
Ana segera memalingkan pandanganya lalu bergerak turun dari tempat tidur.
Namun belum sepenuhnya Ana berhasil turun, Arsenio segerah mencegahnya, hal itu membuat Ana kembali menoleh menatap suaminya.
"Plis jangan pergi!" ucap Arsenio.
Ana melepaskan tangan Arsenio yang melingakar di pergelangan tanganya "Aku akan kembali nanti" ucap Ana lalu turun dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamarnya.
Sementara Arsenio terus menatap arah perginya istrinya sampai Ana hilang dari pandangannya dan berganti dengan menatap langit-langit kamar istrinya.
Selang beberapa menit Ana pun kembali dengan sebuah napan di tanganya, tampak di atasnya sebuah mangkuk berisi bubur hangat dan juga terdapat segelas berisi air putih di sampingnya.
Arsenio yang melihat itu segera bagun dari tidurnya, sementara Ana bergerak naik ke atas tempat tidur.
"Kata dokter kamu harus makan terus minum obat" ucap Ana sambil mengambil mangkuk lalu mengaduk-ngaduk bubur agar cepat dingin sementara Arsenio diam terus menatap istrinya yang kini duduk di depannya.
Setelah merasa cukup, Ana pun memberikan mangkuk pada Arsenio untuk segera memakan "Buburnya sudah dingin. Nih, langsung di makan saja!" ujar Ana menyodorkan mangkuk didepan suaminya.
"Boleh di suamipin?, tanganku masih terasa lemas" ucap Arsenio tampa memalingkan pandanganya menatap istrinya.
Ana tampak mengehala nafas, sebelum dia memutuskan untuk menyuapi pria di depannya yang berstatus suaminya itu.
"Terima kasih" ucap Arsenio setelah satu sendok bubur berhasil di lahapnya.
"Hmm" dehem Ana.
Ana terus menyuapi suaminya sampai buburnya habis, sementara Arsenio tak pernah melepas pandanganya dari sosok istri di depannya.
"Nih minumnya. Atau perlu di bantu juga?" ucap Ana setelah selesai mengembalikan mangkuk di atas napan dan berganti memegang segelas air putih.
Arsenio tersenyum "Boleh" sahut Arsenio.
Setelah itu Ana memberikan obat yang di kasih dokter untuk di minum, Ana kembali ke dapur membawa napan yang berisi mangkuk dan juga gelas kotor.
Beberapa menit kemudian Ana kembali ke kamarnya, tanpak Arsenio bersandar di kepala ranjang dengan bantuan bantal di belakangnya, menatap Ana yang baru saja masuk.
"Ke sini sebentar" ucap Arsenio menepuk kasur di sampingnya.
"Mau apa?" tanya Ana mngerutkan dahi, bukannya menjawab Arsenio terus-terusan menepuk kasur di sampingnya dengan tatapan lurus ke Ana.
Ana pun bergerak naik ke atas kasur sesuai permintaan suaminya.
"Kenapa jauh-jauh?, sini duduklah lebih dekat dengaku!" ucap Arsenio.
"Mau ngapain sih?, ini sudah larut malam loh, mendingan mas tidur sekarang!" ucap Ana masih belum bergerak dari tempatnya.
Melihat itu Arsenio dengan secepat kilat menarik Ana hingga membuat istrinya masuk ke dalam pelukannya.
"Lepaskan!" ucap Ana berusaha lepas dari pelukan suaminya.
Arsenio mendekatkan wajahnya ke telinga Ana "Aku akan melepaskanmu, tapi dengan satu syarat. Tolong berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuannya padamu" bisik Arsenio.
"Ngak!, cepat lepaskan aku atau aku teriak?" ucap Ana.
Arsenio tersenyum "Apa kamu ingin Alvis dan mama datang kesini dan melihat posisi kita sekarang?" ucap Arsenio.
Ana mendengus kesal "Ya, aku akan mendengarnya, tapi tolong lepaskan aku dulu" ucap Ana.
"Bagaimana jika kamu bohong?" tanya Arsenio.
"Mana mungkin aku bohong?. Mana berani aku membohongi mas" ucap Ana.
"Ingat kata yang di ucapkan harus di tepati!" bisik Arsenio lalu mengecup pipi Ana, hal itu membuat Ana terkejut.
"Mas ngapain?" Ana memegang pipi tempat dimana Arsenio menciumnya.
"Barusan ngapain ya?π€" ucap Arsenio.
Ana memukul dada bidang suaminya yang membuat sang empuh meringis "Pura-pura ngak tahu, dasar modus!" ucap Ana.
"Aw...aw" regek Arsenio memegang dadanya hal itu membuat Ana mengehntikan aksinya.
"Maaf... maaf, mana yang sakit sini biar aku lihat" ucap Ana bergerak hendak memeriksa tempat yang menurut Arsenio sakit sementara Arsenio tampak tersenyum dan lagi-lagi melayangkan satu kecupan tepat di dahi istrinya.
"Kenah dehπ" ucap Arsenio tertawa puas.
Ana diam mematung "π"
"Maaf... maaf habisnya satu kali ngak cukup" ucap Arsenio melepaskan pelukannya.
"Jangan marah dong!, aku lagi sakit loh harus butuh perhatian biar cepat sembuh" lanjut Arsenio.
Ana melipat kedua tanganya tepat di depan dada "Mau jelasin atau ngak?. Kalau ngak aku pergi nih" ucap Ana.
"Jangan!. Iya... iya aku jelaskan sekarang!" ucap Arsenio cepat.
"Ya udah buruan, nanti keburu berubah pikiran"
"Jangan dong!, ok aku cerita sekarang" ujar Arsenio.
Arsenio tampak merubah posisi duduknya, menatap lurus istrinya. Diraihnya tangan Ana lalu digengamnya dengan lembut.
"Tolong percayalah padaku!, apa yang akan aku ceritakan nantinya adalah hal yang sebenarnya terjadi" ucap Arsenio menjeda ucapannya.
"Aku berharap setelah menceritakan semuanya, aku bisa mendapatkan satu kesempatan lagi darimu. Aku janji akan menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin. Aku akan membahagiakanmu dan Alvis anak kita" lanjut Arsenio.
Ana diam, menatap serius suaminya yang juga nampak serius dengan ucapannya.