My Love Story

My Love Story
Bab 100



Semua orang terlihat binggung saat mendengar ucapan Alvis, Arsenio menjadi satu-satunya orang yang mengetahui maksud Alvis.


"Siapa Uncle yang kamu maksud itu?" tanya Sarah penasaran.


"Benar, siapa Uncle itu?, apa orangnya ada di sini?" ucap Alin curiga.


"Sudahlah ngak perlu di bahas lagi!, ngak penting tahu" ucap Arsenio memotong pembicraan mereka.


"Mendingan kalian duduk, jangan terus mengerumini Ana seperti ini, kasihan Ana, dia pasti kepanasan. Ya walaupun di ruangan ini di lengkapi dengan Ac tapi tetap saja panas jika di kerumuni seperti ini" lanjut Arsenio panjang lebar.


"Hmm ialah-ialah, ayo jangan kerumuni dia!, kalian ngak dengar apa yang di katakan Arsenio?" ucap Alin lalu berjalan lebih dulu menuju sofa yang ada diruangan itu. Kemudian langsung di susul oleh Nicholas.


"Pa sini!, duduk dekat aku. Aku mau ngomong sesuatu sama papa" ucap Alin sambil menepuk sofa di pinggirnya.


"Kamu mau ngomong apa sih?" Nicholas berjalan menghampirinya dan duduk tepat di samping Alin.


"Gini pa, apa papa ngak penasaran siapa uncle yang anak itu maksud?"


Nicholas sedikit menjauh memberi jarak di antara mereka "Ngaklah, ngapain aku penasaran dengan hal-hal yang ngak penting seperti itu. Dari pada mikirin siapa itu mending aku mikirin apakah benar Clarissa yang membuat Ana seperti ini" ucap Nicholas.


"Isss papa, kalau masalah itu mah gampang, kita tinggal tunggu saja dan lihat bukti-bukti yang di pegang oleh Arsenio. Aku pikir jika melihat bukti-bukti yang ada pasti kita dapat mengetahuinya kalau Clarissa benar-benar bersalah atau ngak, gitu saja repot" ucap Alin.


"Tapi apa yang di katakan boca itu, tak kalah penting loh pa" lanjut Alin.


"Memangnya kamu mau apa jika mengetahui siapa uncle yang di maksud Alvis itu?" tanya Nicholas dengan mode binggung.


"Is papa, dengar ya pa!. Jika kita tahu siapa orang yang di maksud Alvis, kita bisa tuh gunakan orang itu untuk manas-manasin Arsenio. Melihat respon Arsenio saat Alvis membahas itu, aku yakin hal itu bisa membuat Arsenio panas dan tentu saja rumah tangga mereka tidak akan harmonis" ucap Alin.


"Bagaimana ide aku, bagus ngak?, pasti papa suka" lanjut Alin menatap Ayahnya yang sedari tadi diam.


"Anak itu sangat mirip dengan Arsenio, mengemaskan sekali" ucapn itulah yang akhirnya keluar dari mulut seorang Nicholas.


Alin mengikuti arah tatapan Ayahnya dan


Plak...


Alin memukul bahu ayahnya membuat sang empuh meregek kesakitan "Aduh, kenapa di pukul sih?, sakit tahu!"


"Habisnya papa sih, Alin lagi ngomong lain eh papa malah bahas yang lain. Jadi ngak nyambung kan" ucap Alin kesal.


Nicholas menatap putrinya yang merasa kesal "Ya udah nih papa mau dengar, coba ulangi lagi soalnya tadi papa ngak dengar tidak ngak fokus lebih tepatnya" ucap Nicholas.


"Ngak mau, papa tahu sendiri kalau aku malas mengulang-ngulang kalimat yang sama!"


"Hayo siapa nih yang sama seperti Alin?, malas mengulangi kalimat yang sudah di ucapkan karena orangnya ngak dengar😅"


"Maaf, ayolah jangan gambek, papa janji akan mendengarnya!" bujuk Nicholas.


"Ngak mau!" Alin masih dengan mode kesal.


"Ada apa ini?" tanya Sarah yang kini berjalan menghampiri mereka.


"Tahu nih papa, bikit kesal saja" ucap Alin.


"Memangnya kalian mau rencanakan apa lagi?, ngak puas-puas ya kalian membuat ulah!" ucap Sarah.


"Memangnya kalian ngak kasihan apa? sama Ana dan juga Arsenio. Mereka itu ngak tahu apa-apa dengan permasalahan kalian dulu, tapi lihat mereka yang selalu menjadi korbannya!" lanjut Sarah.


"Tolonglah, kalian itu sudah orang tua bahkan sudah menjadi kakek dan juga nenek, coba sedikit saja bersikap selayaknya orang tua bukannya bersikap seperti anak-anak!"


"Dan kamu Alin, tolong hargai suamimu!, coba kamu sedikit saja pikirkan perasaan suamimu. Dia sudah bersikap sangat baik sama Arsenio, bahkan menyayanginya dengan tulus , menggap Arsenio sudah seperti anak kandung sendiri tapi apa yang kamu balaskan atas kebaikannya?"


"Kamu malah bersikap tidak baik sama putrinya, yang juga dia sendiri ngak tahu apa salahnya sehingga kamu begitu membencinya"


"Tapi ma...?"


"Seharusnya bukan kamu yang membenci Ana, tapi Analah yang seharusnya membenci kamu!, karena apa?, karena kamu sudah merebut ayahnya!, merebut kasih sayang seorang ayah yang seharusnya ia dapatkan sewaktu dia kecil" lanjut Sarah sebelum Alin menyelesaikan ucapannya.


"Dan kamu pa.. " Sarah berganti menatap suaminya.


"Kamu tuh sudah tua!, sebentar lagi akan sakit-sakitan, tidak perlu lagi banyak tingkah. Kamu tahu?, nantinya jika kamu sakit-sakitan siapa yang akan merawatmu kalau bukan Arsenio dan juga istrinya. Namun dengan kelakuan kamu yang seperti ini, papa pikir mereka akan peduli nantinya!, ngak pa, mereka ngak akan peduli!"


"Jika mama jadi mereka, mama pasti akan melakukan hal yang sama, ngapai peduli dengan orang-orang yang selalu melakukan sesuatu yang membuat sakit hati!" ucap Sarah.


Nicholas dan Alin diam mematung, setiap ucapan Sarah berhasil menusuk-nusuk hati mereka sementara Gibran diam dan terus bergantian menatap istri dan ayah mertuanya.


"Ucapan mama benar-benar tajam, seperti silet yang menyayat-nyarat hati. Jika apa yang di katakan mama tidak dapat merubah perilaku mereka itu artinya hati mereka telah di penuhi dengan ego" pikir Gibran.


"Coba kalian lihat sana!" pinta Sarah menunjuk ke arah Arsenio yang duduk di salah saru kursi yang berada di samping hospital bed sambil memangku Alvis.


Nicholas, Alin bahkan Gibran pun melihat kearah yang di tunjukan oleh Sarah.


"Apa kalian tidak punya rasa kasihan? Melihat mereka seperti itu. Seharusnya mereka itu bahagia, rumah tangga mereka sudah lengkap semenjak kehadiran Alvis, seharusnya sekarang ini mereka sedang bersenda gurau bukan malah sedih seperti ini!" lanjut Sarah.


"Daddy..."


"Iya sayang" sahut Arsenio lembut.


"Kenap mommy belum juga sadar?, padahal Alvis sudah berada di sini tapi ko mommy belum juga bagun" ucap Alvis.


"Sayang dengar ngak apa yang di katakan anak kita?, dia sudah ada disini, di samping kamu, ayolah bagun dan lihat betapa mengemaskan anak kita" ucap Arsenio pada Ana.


Arsenio mengengam lembut tangan istrinya dan mengecup lembut punggung tangannya "Daddy sayang ya sama mommy?" Alvis menatap Arsenio.


Arsenio tersenyum kearahnya "Sangat, Daddy sangat menyayangi mommymu" sahut Arsenio.


"Kalau sama Alvis, daddy sayang ngak?" tanya Alvis lagi.


"Oh tentu, daddy juga sangat menyayangi Alvis dan juga mommy" jawab Arsenio sambil tersenyum.


"Daddy kan sayang nih, sama Alvis dan juga mommy" Alvis sedikit menjeda ucapanya.


"Iya benar" ucap Arsenio.


"Tapi kenapa daddy membiarkan mommy merawatku sendiri dan daddy juga ngak pernah tinggal serumah dengan Alvis dan juga mommy?"


Mendengar pertanyaan putranya seketika membuat raut wajah Arsenio berubah, tidak ada lagi senyum di wajahnya.


Arsenio diam mematung, tidak tahu bagaimana harus menjelaskan sama Alvis yang masih kecil dan tentu saja dia belum mengertui dengan masalah orang dewasa.