
Ana semakin kesal setelah melihat tidak ada tanggapan dari Arsenio. Tatapannya kini tertuju pada sosok pria yang berdiri tepat di samping ibunya.
"Papa?" pikir Ana terkejut.
"Aku tidak memberitahukan papa tapi, kenapa papa bisa hadir disini? , apa pak Arsenio yang memberitahunya?" pikir Ana.
"Sayang, fokuslah! pendeta sudah mulai acaranya" bisik Arsenio sambil mengecup punggung tangan Ana. Sementara Ana diam menatapnya dari samping.
Satu persatu rangkaian acara telah dilaksanakan, semua tampak berjalan dengan lancar hingga sampai pada acara penyematan cincin.
"Selanjutnya acara peyematan cincin, di perailakan tuan Arsenio memasak cincin pada jari manis tangan kanan nona Ana dan dilanjutkan oleh pemasangan cincin pada jari manis tangan kanan tuan Arsenio yang dilakukan oleh nona Ana" ucap pendeta.
Gibran melangkah mendekati Arsenio lalu memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah berisi sepasang cincin, lalu kembali ke tempatnya.
Arsenio berbalik menatap Ana diraihnya tangan kanan Ana lalu memasangkan cincin pada jari manis Ana dan di lanjutkan oleh Ana memasang cincin pada jari manis Arsenio.
Semua yang menyaksikan itu pun memberikan sirakan berupa tepuk tangan.
Acara penyematan cincin pun selesai, kedua mempelai dinyatakan sah dimata agama dan negara sebagai sepasang suami istri.
Arsenio tampak mengecup lembut alis Ana, hal itu kembali mendapat sorakan dari orang-orang yang ikut menjadi saksi pernikahan mereka.
Gibran dan Rany berjalan menghampiri mereka.
"Selamat ya sayang" ucap Rany sambil memeluk putrinya, memberikan beberapa kecupan di pipi putrinya lalu melepaskan pelukannya.
Rany berganti menatap Arsenio "Selamat kamu berhasil membuat Ana tidak bisa menolak menandatanggani surat perjanjian itu" ucap Rany sambil mengulurkan tanganya pada Arsenio, Arsenio yang melihat itu segera meraih tangan mertuanya lalu menciun punggung tangannya.
"Mama tidak perlu khawatir, kali ini aku akan menjaga Ana dengan baik" ucap Arsenio.
"Buktikan apa yang kamu ucapkan badusan!" ucap Rany lalu melangkah mundur.
Sementara Arsenio tampak mengganguk sebagai jawaban. Selanjutnya giliran Gibran berjalan mendekati Ana lalu memeluknya.
"Selamat ya nak, maaf papa tidak bisa membantumu kali ini. Arsenio benar-benar menginginkanmu dan papa tidak bisa menolak itu" bisik Gibran.
"Ana juga minta maaf karena lupa memberitahukan papa soal pernikahan ini" ucap Ana.
Gibran melepaskan pelukannya berganti menatap putrinya "Papa mengerti, pasti kamu sangat mengkhawatirkan Alvis jadi kamu sampai lupa memberitahu papa" ujar Gibran sambil tersenyum, sementara Ana yang melihatnya pun ikut tersenyum.
Kini giliran Gibran menatap Arsenio anak yang dia besarkan bersama Alin "Selamat Nak, tolong jangan buat papa kecewa yang kedua kalinya!, jika hal itu sampai terjadi akan papa pastikan kamu tidak akan mendapatkan Ana lagi" ucap Gibran pada Arsenio.
"Setelah kehilangan Ana, aku baru sadar ternyata aku begitu menyukainya. Terima kasih pa, sudah memberi kesempatan kedua kalinya untuk menjaga putri papa" ucap Arsenio pelan namun masih dapat di dengar oleh Gibran.
Gibran mengguk lalu melangkah mundur, kini giliran Rangga yang memberikan selamat pada tuan dan nona Ana "Selamat atas penikahan nona dan tuan" ucap Rangga mengulurkan tangannya pada Ana.
Ana menatapnya lalu hendak meraih tangan Rangga namun, tanggan Arsenio lebih dulu meraih tangan Rangga hal itu membuat Ana dan Rangga menatap kearahnya.
"Jangan berani menyentu istri saya tanpa izin dari saya!" ucap Arsenio.
"Maaf tuan" ucap Rangga sedikit menundukan kepalanya.
"Apaan sih?, orang cuma mau salaman ko" ucap Ana merebut tangan Rangga lalu bersalaman sementara Arsenio yang melihatnya pun menatap tajam Rangga.
"Aduh nona, mohon lepaskan tangan saya, saya tidak ingin mati sekarang!" pikir Rangga
"Selamat atas pernikahan tuan dan nona Ana" lanjut Rangga.
"Iya makasih juga sudah berhasil mengancamku!๐" ucap Ana lalu melepaskan tangan Rangga.
"Sama-sama nona" jawab Rangga dengan eksperesi dinginya lalu pandanganya beralih pada Arsenio.
"Di balas sama-sama dong๐" pikir Ana kesal dengan sikap Rangga.
"Hmm, terima kasih atas kerja samanya, saya sangat puas dengan kerjamu" ucap Arsenio sambil menepuk lembut bahu Rangga.
"Terima kasih kembali tuan" ucap Rangga lalu melangkah mundur.
Kini giliran beberapa orang yang ikut menyaksikan pernikahan mereka untuk memberikan selamat, namun sebelum mereka naik untuk memberikan selamat Rangga telah memperinggati mereka agar tidak menyentuh istri tuan. Bahkan mereka tidak diizinkan berlama-lama menatapnya.
Hal itu membuat Ana binggung, semua orang hanya menyatakan selamat tanpa berjabat tangan denganya, berbeda halnya dengan Arsenio wajahnya berseri-seri bahkan sesekali dia tampak tersenyum bersalaman dengan orang-orang yang ikut menyaksikan pernikahan mereka.
Setelah semuanya rangkaian acaea selesai, Rany, Gibran, Ana, Arsenio dan Rangga berjalan keluar dari gereja.
"Mas, tolong lepaskan tanganku!, lihat gaunku sampai menyentuh lantai itu membuatku kesulitan berjalan" ucap Ana yang berhasil menghentikan langkah Arsenio.
Arsenio menoleh ke belakang melihat apa yang di ucapkan istrinya barusan, tanpa menunggu lama Arsenio segera mengendong Ana, hal itu berhasil membuat Ana terkejut.
"Mau ngapai sih mas?, cepat turunkan saya!. Saya biaa ko jalan sendiri" ucap Ana sambil bergerak berusaha turun.
"Diam!, jika tidak! aku akan menciummu, mau?" ucap Arsenio.
Arsenio kembali melanjutkan langkahnya. Sementara Gibran dan Rany yang melihat itu pun tersenyum.
"Mas" pagil Ana
"Hmm" sahut Arsenio.
"Dimana mas sembunyikan anak saya?" tanya Ana.
"Anak kita" ucap Arsenio meluruskan.
Rany, Gibran dan Rangga yang berjalan di depan, tiba-tiba menghentikan langkahnya, hal itu membuat Arsenio juga ikut berhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Arsenio.
Semuanya tampak diam tatapan mereka lurus ke depan.
"Apa yang sudah kalian lakukan?" pekik Nicholas berdiri di depan mereka, kedua tangannya di remas, raut wajahnya memerah dan tatapan tajam di tunjuhkan pada mereka.
Arsenio yang melihat itu segera menurunkan Ana lalu berjalan ke depan melewati Rany, Rangga dan juga Gibran.
"Dasar perempuan penggoda, kamu kan yang meminta anak saya untuk menikahimu?" ucap Alin yang baru saja keluar dari mobil sambil menunjuk-nunjuk kearah Ana.
Sementara Ana berjalan menghampiri ibunya lalu mengengamnya tanganya, Rany dapat merasakan tangan Ana gemetar.
"Jangan takut nak, ada mama di sini" ucap Rany yang hanya bisa didengar oleh Ana.
"Aku yang memaksakannya untuk menikah denganku" ucap Arsenio dengan suara lantang.
"Ngak, pasti wanita itu yang memaksamu untuk segera menikahinya" ucap Alin.
"Cukup ma!, aku dan Ana telah menikah, jadi mohon terima keputusanku" ucap Arsenio.
"Kamu benar-benar sudah gila, mama sangat kecewa padamu!. Ingat sampai kapan pun mama tidak akan menerima wanita itu sebagai menantuku" ucap Alin sedikit berteriak.
Sementara Nicholas tampak berjalan menghampiri Arsenio lalu melayangkan satu pukulan pada wajah Arsenio.
"Dasar tidak berguna!. Wanita seperti itu masih saja dinikahi" pekik Nicholas.
"Dan kamu, kamu sama sekali tidak menghargaiku!, menikahkan mereka tanpa sepengetahuanku" lanjut Nicholas berganti menatap Gibran.
"Akan aku pastikan kamu tidak akan mendapatkan apa-apa!. Dan mulai hari ini aku mencabut semua jabatanmu dan menarik semua fasilitas yang sudah aku berikan kepadamu!" ucap Nicholas pada Gibran.
"Dan kalian berdua, jangan pikir telah berhasil menghasut Arsenio kalian akan mendapatkan sebagian hartanya, karena itu tidak akan pernah terjadi!" lanjut Nicholas.
Rany melepaskan tangan Ana, berjalan mendekati Nicholas "Semiskin apapun kami, tidak penah sedikitpun mengharapkan harta kekayaanmu!"
"Dan lagi satu, dari awal anak saya terpaksa menikah dengan cucumu hanya untuk menyelamatkan nama baik keluargamu bukan semata-mata ingin menguasai harta kekayaanmu dan anak saya lagi-lagi terpaksa menikah dengan Arsenio karena Arsenio mengancam akan membawah jauh cucuku"
"Aku dan Ana sungguh tidak keberatan jika Arsenio menceraikan Ana sekarang juga, namun sebelum itu kembalikan dulu cucuku yang telah ia culik di sekolahnya!" lanjut Rany.
"Aku akan menjemput cucuku besok!, kamu tidak punya hak untuk menahan cucuku!. Ana yang telah merawatnya sampai seperti sekarang ini jadi hanya Analah yang berhak atas Alvis" ucap Rany berbalik menatap Arsenio.
Semuanya diam, tiada siapapun yang mengeluarkan suara, Rany bergerak mendekati Ana lalu membawahnya pergi menjauh dari mereka.
Sementara Nicholas bergantian menatap Gibran dan juga Arsenio "Segera pulang!, urusan kita belum selesai" Nicholas berbalik masuk ke dalam mobil dan langsung di ikuti oleh Alin.
Mobil Nicholas melaju menjauh dari halaman gereja meninggalkan Arsenio, Gibran dan juga Rangga di sana.
"Apapun yang terjadi aku tidak akan melepaskan Ana!" pikir Arsenio sambil meremas jari-jemarinya.
"Krimkan alamat lengkap dimana Alvis berada!, biarkan istriku datang menjemputnya di sana!" ucap Arsenio pada Rangga.
"Baik tuan" sahut Rangga.
Arsenio berganti menatap Gibran "Maafkan aku pa. Papa tidak perlu khawatir aku secepatnya akan mengembalikan semua yang telah di cabut oleh kakek" ucap Arsenio lalu berjalan masuk ke dalam mobil, Rangga yang melihat itu segera menyusulnya.
Di perjalanan Arsenio menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil pandanganya lurus menatap jalan yang nampak ramai malam itu. Bayangan ia mengecup lembut alis istrinya terus melintas di pikiranya, seperti kaset yang terus terputar dengan jelas di pikiranya, rasa takut kehilangan muncul secara bersamaan hal itu cukup membuat Arsenio gelisa.
"Aku belum pernah setakut ini saat kehilangan seseorang" pikir Arsenio.
"Awasi setiap pergerakan istriku!, jangan sampai ada satu pun yang terlewati dari pengawasanmu!" pinta Arsenio.
Rangga sejenak meliriknya melalui kaca spion sebelum kembali fokus menyetir "Baik tuan" jawab Rangga
"Jangan sampai kejadian empat tahun lalu terulang kembali!" lanjut Arsenio.
"Baik tuan" sahut Rangga lagi.
Mendengar jawaban Rangga, Arsenio pun menyandarkan kepalanya di kursi mobil lalu memejamkan matanya "Ternyata aku mencintaimu lebih dari yang aku kira!" pikir Arsenio.