
"Surprise..." ucap Alvis, Arsenio, Rany, Sarah, Nicholas, Gibran, Kana dan juga Rangga secara bersamaan.
"Happy birthday to you, Happy birthday to you, Happy birthday Happy birthday, Happy birthday to you" semua orang tamapa bernyanyi.
Ana diam, tatapan lurus di tunjukan pada semua orang yang berada di sana, tampa sadar dari kedua sudut matanya sudah menganak suangai, Arsenio yang melihat itu segera berjalan menghampirinya.
"Sayang, ada apa?, apa kamu tidak menyukai kejutan ini?" ujar Arsenio mencoba menghapus air mata istrinya.
Ana mengelengkan kepala "Aku pikir semua orang sudah melupakan hari ulang tahunku" ucap Ana lalu memeluk suaminya.
"Aku ngak mungkin melupakan hari ulang tahun wanita yang aku cintai" ucap Arsenio sambil membalas pelukan istrinya.
"Terima kasih" bisik Ana.
"Sama-sama sayang, aku akan melakukan apapun demi kebahagianmu, sekalipun itu sulit" ucap Arsenio.
"Ehem..., sepertinya keberadaan kita tidak di anggap lagi" ucap Nicholas.
"Hmm benar, Jadi obat nyamuk nih" sambung Kana.
"Mereka terlihat seperti penganti baru saja" ujar Rany.
"Ya betul sekali, aku sependapat denganmu" lanjut Alin yang membuat mereka tertawa bersama.
Ana yang mendengarnya pun segera melepaskan pelukannya namun Arsenio segera mencegahnya.
"Lima menit" ucap Arsenio.
"Lepas mas, malu dong di lihatin" ucap Ana masih berusaha lepas.
Di menit berikutnya Arsenio pun melepaskan pelukannya, berganti mengengam tangan istrinya lalu membawanya ikut bergabung dengan yang lainnya.
"Nanti lanjut di kamar saja, sekarang waktunya untuk meniup lilinnya" ucap Sarah yang membuat wajah Ana memerah karena malu.
"Lihat lilinya sudah mau habis, Ayo mommy di tiup dong lilinnya!" ucap Alvis.
"Iya sayang, nih mommy tiup ya" ucap Ana lalu sedikit menunduk dan meniup lilin yang sengaja di letakan di atas kue ulang tahun.
"Ye..... " ucap semua orang sambil bertepuk tangan.
"Terima kasih" ucap Ana sambil tersenyum.
Arsenio kembali meraih tangan Ana memposisikan Ana berdiri berhadapan denganya "Selamat ulang tahun sayang" ucap Arsenio.
"Cium.. cium....cium" ucap Alin yang langsung diikuti oleh semua orang disana.
"Jangan mas, malu" ucap Ana namun hal itu tidak dapat mencega Arsenio untuk melakukan apa yang di inginkan ibunya dan juga yang lainnya.
Arsenio menarik Ana, membuat jarak diantara mereka berkurang, lalu mengecup lembut alis istrinya sementara Ana yang mendapat perlakuan itu menutup kedua matanya.
Semuanya yang melihat itu kembali bertepuk tangan.
"Melihat kalian seperti itu seketika jiwa jomlohku meronta-ronta" ucap Kana yang jelas membuat semua orang di sana melihat kearahnya termasuk Rangga.
"Jangan oma!" ucap Alvis cepat membuat semua mata tertuju kepadanya.
"Kenapa sayang?" tanya Sarah penasaran.
"Aunty kan punya uncle, jadi ngak boleh dengan laki-laki lain! " ucap Alvis serius yang seketika membuat yang lain menyeringitkan dahi binggung sementara Kana dan Rangga yang mendengarnya pun terkejut.
"Ya tuhan, apa lagi yang kau pikirkan anak kecil" pikir Rangga.
"Iya kan unle?" tanya Alvis menatap Rangga dan lagi-lagi semua mata bertuju pada Rangga kecuali Kana.
"Apa itu benar?" tanya Arsenio namun orang yang di tanya memilih diam.
Ana yang melihat itu segera menoleh menatap Kana.
"Apa maksudnya ini?, apa benar yang di katakan Alvis?" tanya Ana pada Kana.
Kana yang mendengarnya pun mengangkat kepalanya menatap lurus Ana "Ngak, aku ngak ada hubungan apa-apa dengan pak Rangga" ucap Kana cepat.
"Hmm, apakah perkataanmu dapat di percaya?" ucap Ana curiga.
"Benar An, aku ngak ada hubungan apa-apa dengan pak Rangga, jika kamu masih tidak percaya silakan tanyakan langsung sama pak Rangga" jelas Kana yang terlihat serius.
Ana menghela nafas panjang "Hmm, kirain beneran, Padahal aku sudah senang loh medengarnya. Iya kan sayang?" Ana menatap suaminya.
"Ya, aku akan sangat setuju jika itu benar" lanjut Arsenio.
"Mungkin sekarang belum, ngak tahukan kedepannya akan seperti apa" ujar Rangga yang akhirnya membuka suara.
Hal itu membuat Kana menatapnya dari samping "Ngapain dia ngomong seperti itu sih?" gerutu Kana dalam hati.
"Kami akan menunggu kabar baik itu" ucap Arsenio seakan memengerti akan sesuatu di balik jawaban asistennya itu.
Sementara Kana tampak diam, dan memilih menatap kue yang berada di atas meja.
"Apa acaranya sudah bisa di lanjutkan?" ucap Gibran berusaha mengalihkan perhatian saat mengetahui Kana tidak nyaman dengan topik pembicaraan saat itu.
"Bisa... Bisa pa" sahut Arsenio yang membuat semuanya kembali fokus ke acara perayaan ulang tahun Ana.
Semuanya tampak sesekali tertawa di selah-selah perayaan ulang tahun Ana.
Dering ponsel Kana, membuatnya segera mengeluarkan benda kecil tersebut dari tas yang di pegangnya.
"An, aku keluar sebentar ya, mau menerima telefon" bisik Kana.
"Iya, tapi cepat kembali ya!" Kana pun menggangguk setuju dan berjalan keluar dari ruangan tempat dimana acara perayaan ulang tahun Ana.
"Mau ngapai dia?" tanya Arsenio pada istrinya "Mau menerima telefon" sahut Ana.
"Dari siapa?" tanya Arsenio lagi sementara Ana mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.
Keduanya pun kembali mengobrol bersama Rany, Alin, Sarah, Gibran dan Nicholas sementata Rangga juga tampak meminta izin pada Rangga dan berjalan keluar dari ruangan.