My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Talak



"Nah, kalau begitu sebaiknya kembalikan Imelda kepada kami. Lepaskan dia dan jangan membuat nasib Putri kami menggantung seperti sekarang. Dan soal bayi itu, kalian tidak perlu khawatir, kami yang akan merawatnya," sahut Pak Heri.


"Baiklah kalau begitu." Chandra menghela napas berat sebelum ia melanjutkan ucapannya. "Imelda, mulai hari ini kamu bukanlah isteriku lagi. Hari ini kamu aku talak dan kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi," lanjut Chandra.


Bu Kirana menyunggingkan sebuah senyuman tipis di wajahnya. Wanita itu lega karena akhirnya Chandra dan Imelda sudah tidak memiliki ikatan apapun lagi.


Begitu pula Bu Dita dan Pak Heri, mereka pun akhirnya bisa bernapas lega karena Imelda tidak perlu merasa sakit hati lagi atas kelakuan-kelakuan buruk Chandra setelah ini.


Sedangkan Imelda sendiri tidak tahu harus senang atau harus bersedih dengan perceraiannya. Namun, saat itu raut wajah Imelda terlihat begitu sedih.


"Tapi ingat ya, Bu Dita. Perjanjian kita sebelum pernikahan bahwa Rumah serta mobil yang sudah kamu berikan tidak bisa di ambil kembali. Sebab rumah dan mobil tersebut sudah atas nama Chandra dan kalian tidak bisa lagi mengganggu gugatnya," ucap Bu Kirana sambil menatap lekat Bu Dita.


Bu Dita dan Pak Heri sempat saling tatap sejenak, sebelum wanita paruh baya tersebut menyahut ucapan Bu Kirana. "Ya, ambillah. Kami pun sudah tidak peduli dengan rumah serta mobil tersebut."


Bu Kirana pun tersenyum puas setelah mendengar jawaban dari Bu Dita. Ia senang karena Bu Dita sudah menepati janjinya. Bu Kirana meraih tangan Chandra kemudian mengajak anak lelakinya itu untuk segera menginggalkan tempat tersebut.


Namun, belum sempat Bu Kirana dan Chandra melangkahkan kali mereka keluar dari ruangan tersebut, Bu Dita kembali membuka suaranya.


"Apa kamu tidak ingin menjenguk bayimu, Chandra?" tanya Bu Dita dengan wajah sedih menatap Chandra dan Bu Kirana.


"Tidak perlu, Chandra. Sebaiknya kita pulang saja," sela Bu Kirana sembari mendorong pelan tubuh Chandra agar segera keluar dari ruangan tersebut.


Chandra yang sempat terdiam, akhirnya menuruti perintah Sang Mami dan ia pun kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


Pak Heri dan Bu Dita menggelengkan kepala setelah melihat sifat angkuh Bu Kirana dan Chandra yang seperti kerbau di colok hidungnya, hingga selalu menurut apapun yang diucapkan oleh Sang Mami.


"Kamu lihat 'kan, Mel. Bagaimana sikap Chandra dan Ibunya yang sombong itu! Tapi sekarang Ayah sudah lega karena akhirnya kamu dan Chandra tidak memiliki hubungan apapun lagi," ucap Pak Heri.


"Ayahmu benar, Mel. Lelaki itu tidak pantas untuk di pertahankan. Sekarang buktikan pada dunia bahwa tanpa lelaki itu kamu dan cucu Ibu bisa bahagia," tutur Bu Dita, mencoba menghibur Imelda yang masih tampak sedih.


Sementara itu.


"Kapan Imelda melahirkan? Kenapa kamu tidak bercerita kepada Mami, Chandra?!" tanya Bu Kirana seraya masuk ke dalam mobil.


"Entahlah, aku pun tidak tahu kapan Imelda melahirkan. Terakhir kali aku bertemu dengannya ketika kami bertengkar hebat beberapa hari yang lalu. Aku kira Imelda hanya merajuk kemudian pulang ke rumah orang tuanya. Eh, tidak tahunya ia malah melahirkan," sahut Chandra seraya bersiap melajukan mobilnya.


"Sebaiknya kamu tidak usah menghiraukan bayi itu lagi, Chandra. Biarkan saja mereka merawatnya. Anggap saja di antara kamu dan Imelda tidak pernah memiliki hubungan apapun," balas Bu Kirana dengan wajah malas menatap Chandra yang kini tengah fokus pada setir mobilnya.


Chandra menghela napas berat. "Ya, Mi."


***


"Sayang, besok Sean akan mengantarkan kita akan ke kota X. Kamu sudah siap 'kan?"


Erlan yang baru saja tiba di apartemennya, segera memeluk tubuh Alina dari belakang dan menciumi tengkuk sang Istri sambil tersenyum hangat.


"Benarkah?!" Alina membalikkan tubuhnya memghadap Erlan sambil tersenyum semringah.


"Ya." Erlan menganggukkan kepala pelan sembari mencubit pelan hidung Alina.


"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Imelda, Mas. Terlebih Bu Dita, beliau sudah aku anggap seperti Ibu kedua," sahut Alina dengan mata berkaca-kaca.


"Ya, Sayang. Selesaikan masalah kalian dengan saling memaafkan, karena damai itu indah. Setelah itu tinggal urusanku bersama Olivia yang harus secepatnya diselesaikan. Aku ingin hidup tenang bersamamu dan juga bayi kita, Alina." Erlan mencium puncak kepala Alina kemudian memeluknya lagi.


...***...


Tungguin Bab selanjutnya ya, Readers. Semoga nanti malam bisa UP dua bab lagi 🙏🙏🙏