
Sementara itu di tempat lain.
Chandra sedang mengendarai mobilnya menuju ke suatu tempat di mana para sahabatnya sudah menunggu. Ia terlihat begitu bahagia dan tak sedikitpun beban yang terlihat di wajah tampannya itu.
Ia bahkan lupa bahwa saat ini anak dan istrinya masih berada di Rumah Sakit akibat perbuatannya. Malah sebaliknya, ia merasa bebas karena tidak ada lagi yang dapat menggangu privasinya.
Chandra berjalan memasuki sebuah cafe, tempat ia dan teman-temannya biasa berkumpul. Dengan wajah semringah, lelaki itu menghampiri sebuah meja yang sudah dipesan oleh sahabatnya tersebut.
"Wey! Apa kabar, Bro!" sapa salah seorang sahabatnya sambil mengulurkan tangannya kepada Chandra.
"Baik, kalian?" Chandra duduk di salah satu kursi dan kemudian meraih sebuah gelas minuman yang sudah tersedia di atas meja tersebut.
"Baik," sahut ketiga sahabatnya secara bersamaan.
"Eh, Chandra apa kamu sudah tahu kalau kemarin Rima meninggal dunia?" tanya salah seorang sahabatnya
.
Chandra mengerutkan keningnya dan lelaki itu terlihat sedang berpikir, mencoba mengingat-ngingat wanita yang bernama Rima tersebut. "Rima? Rima siapa?" tanya Chandra kebingungan.
Sontak saja ketiga sahabat lelaki itu tergelak setelah mendengar pertanyaan Chandra saat itu. "Serius kamu tidak tahu, Chandra?!" tanya salah satu di antara mereka.
Chandra yang masih terheran-heran, menggelengkan kepala sambil mengangkat kedua bahunya. Ia menatap wajah ketiga sahabatnya yang masih tertawa secara bergantian.
"Serius deh, Rima yang mana dulu, nih? Cewek yang namanya Rima 'kan banyak, tidak hanya satu di dunia ini. Ada Rima A, Rima B, Rima C dan banyak lagi," tutur Chandra dengan santainya.
"Salah satu kekasihmu, Chandra! Masa kamu lupa sih?! Astaga,," pekik salah satu temannya lagi sambil menggelengkan kepala.
Chandra kembali berpikir dan mencoba mengingat nama-nama wanita yang pernah menjadi kekasihnya. Hingga setelah beberapa detik berikutnya, Chandra pun tergelak.
"Oh, my ... ternyata Rima yang itu! Ya, ya, sekarang aku ingat. By the way, aku sama Rima yang itu sudah putus, Bro! So, wajar sajalah kalau aku lupa sama dia. Ngomong-ngomong, apa yang menyebabkan ia meninggal? Apa dia sakit?" tanya Chandra yang mulai penasaran.
"Ya, Tuhan! Kamu 'kan mantannya, Bro! Masa kamu tidak tahu apa-apa tentang dirinya? Dia meninggal karena sakit yang dideritanya selama ini dan semoga saja kamu tidak pernah melakukan 'hal itu' dengannya."
Chandra menautkan kedua alisnya sambil menatap lekat sahabat yang baru saja bicara dengannya. "Apa maksudmu? Memangnya Rima sakit apa?"
Sontak Chandra bangkit dari tempat duduknya. Wajah lelaki itu seketika memucat dan deru napasnya terdengar berpacu dengan sangat cepat. "Please, jangan bercanda, Guys! Tidak mungkin Rima mengidap penyakit semacam itu. Dia itu wanita yang baik," tutur Chandra.
Salah satu teman Chandra terbahak setelah mendengar ucapannya. "Ternyata kamu hanya melihat dari casingnya saja, Chandra. Kamu bahkan tidak tahu bagaimana kelakuan wanita itu sebenarnya. Wanita yang baik tidak mungkin mendapatkan penyakit seperti itu. Benar 'kan?! Coba saja kamu pikirkan itu," tuturnya.
Chandra menelan salivanya dengan susah payah. Kerongkongannya terasa seret dan juga sakit. "Kalian pasti bercanda," ucap Chandra sambil menggelengkan kepalanya, seolah mengelak kenyataan itu.
"Jangan katakan kamu pernah bercinta bersama wanita itu, Chandra?!" pekik salah satu sahabatnya yang lain.
"Benarkah itu, Chandra?!" tanya yang lainnya.
Chandra tersenyum kecut menatap ketiga sahabatnya. "Tidak! Kalian salah. Aku dan Rima tidak pernah melakukan itu!" elak Chandra sembari memundurkan tubuhnya beberapa langkah dari meja tersebut.
"Sebaiknya aku pulang. Tiba-tiba saja kepalaku sakit," ucap Chandra.
Chandra bergegas meninggalkan Cafe dan ketiga sahabatnya yang masih bingung menatap kepergiannya.
"Chandra kenapa? Kok, tiba-tiba saja dia pulang? Apa kita sudah menyinggung perasaannya?"
"Entahlah," sahut yang lainnya.
Dengan langkah gemetar, Chandra melangkahkan kakinya menuju tempat parkir. Setelah masuk ke dalam mobil, Chandra pun segera melaju ke kediamannya bersama Imelda.
"Tidak! Itu tidak benar! Tidak mungkin Rima memiliki penyakit yang seperti itu. Tapi ... jika itu benar, itu artinya aku ... ah, tidak! Itu tidak mungkin!" gumam Chandra dengan wajah panik.
Karena saking ketakutannya, Chandra bahkan hampir saja menabrak seorang pejalan kaki (pemulung) yang ingin menyeberang jalan.
"Awas!" pekik Chandra. Beruntung lelaki itu sempat menginjak rem mobilnya dengan cepat hingga kecelakaan itu bisa dihindarkan.
"Heh, kalau jalan lihat-lihat! Punya mata 'kan!" hardik Chandra dengan wajah memerah menatap lelaki tua yang hampir saja ia tabrak.
Tubuh lelaki tua itu masih bergetar hebat karena begitu shok dengan kejadian yang baru saja terjadi, yang bisa saja merenggut nyawanya. Lelaki tua itu hanya mengelus dada saat Chandra menghardik dirinya. Tak sepatah katapun keluar dari bibir tuanya.
...***...