
Setelah puas meneriaki pria tua tersebut, Chandra pun kembali melanjutkan perjalanannya.
"Sial! Untung saja aku sempat menginjak rem tepat pada waktu, kalau tidak ... hmm, orang tua itu pasti sudah mati dan bisa-bisa aku dikeroyok oleh massa!" gerutu Chandra dengan wajah kesal.
Di saat ia masih fokus pada kemudinya, tiba-tiba saja Rima kembali teringat pada percakapan para sahabatnya tentang kematian Rima dan hal itu kembali membuat ia cemas.
"Ya, Tuhan! Kenapa aku masih saja mengkhawatirkan cerita tentang kematian Rima? Apa benar ia terkena penyakit itu, tapi sejak kapan? Bagaimana jika dia menularkan penyakit itu kepadaku?"
Chandra terus bergumam di sepanjang jalan hingga tak terasa ia pun tiba di depan kediamannya. Setelah memarkirkan mobil tersebut di bagasi, Chandra segera masuk ke dalam rumahnya.
Hal pertama yang ingin ia lakukan setelah memasuki ruangan itu adalah mencari informasi tentang penyakit yang di derita oleh Rima melalui internet. Setelah meraih laptop yang ia simpan di dalam kamar, Chandra segera duduk di atas tempat tidur seraya membuka laptop tersebut.
"Ah, semoga saja apa yang aku khawatirkan itu tidak benar!" gumam Chandra.
Chandra mulai berselancar bersama laptopnya dan mulai mencari tahu tentang penyakit mematikan itu secara mendetail. Dari gelaja awal, penyebab serta akibat yang akan ditumbulkan oleh penyakit tersebut.
"Astaga! Kenapa tiba-tiba aku merasa bahwa aku memang memiliki gejala yang sama seperti penyakit ini, ya?!" gumam Chandra dengan keringat dingin yang mulai bercucuran di pelipisnya.
"Tapi aku tidak pernah memperhatikannya sebelum ini. Ah, mungkin hanya perasaanku saja! Tidak mungkin lah seorang Chandra dihinggapi penyakit menjijikkan seperti itu! Lagipula aku dan Rima tidak sering melakukan hubungan itu, paling-paling cuma ...."
Chandra mencoba mengingat-ingat berapa kali ia dan Rima pernah berhubungan. "Satu, dua, tiga ... ya, cuma tiga kali!" seru Chandra yang mencoba menghibur dirinya sendiri.
Setelah mengucapkan hal itu, Chandra menutup laptop tersebut kemudian meletakkannya ke atas nakas.
"Aku menjalin hubungan bersama Rima setelah aku memutuskan untuk menjauhi Imelda, itu artinya Imelda masih aman karena aku tidak pernah menyentuhnya lagi bahkan sebelum ia mengaku bahwa dirinya tengah mengandung," gumam Chandra sambil mengacak puncak kepalanya dengan kasar.
"Oh, Tuhan. Apa yang akan terjadi padaku jika penyakit itu benar-benar menjangkitiku? Apakah aku akan mengalami hal yang sama seperti Rima? Mati di usia yang masih sangat muda?!" pekik Chandra dengan wajah memucat.
Setelah meraih kunci mobil, Chandra kembali melangkahkan kakinya menuju garasi. Setibanya di tempat itu, Chandra pun segera memacu mobil pemberian Bu Dita tersebut menuju kediaman Ayah dan Ibunya.
25 menit kemudian, Chandra pun tiba di depan halaman rumah megah tersebut. Kedatangan lelaki itu disambut hangat oleh Sang Ibu, Bu Kirana.
"Chandra sayang! Mami kangen loh sama kamu. Kamu ini ya, mentang-mentang sudah berumah tangga, Mami pun kamu lupakan," gerutu Bu Kirana sembari memeluk tubuh Chandra yang masih bergetar.
"Bukan begitu, Mi. Mami 'kan tau saat ini aku sedang sibuk kuliah," sahut Chandra agak sedikit kesal setelah mendengar penuturan sang Mami.
"Iya, iya. Mami 'kan hanya bercanda, Sayang. Tidak usah di ambil hati lah," sahut Bu Kirana seraya menuntun Chandra hingga ke ruang utama.
Setibanya di ruangan tersebut, Chandra pun segera duduk di sofa dan mencoba menenangkan dirinya yang masih ketakutan.
Sebagai seorang Ibu, Bu Kirana pun merasakan bahwa ada yang tidak beres pada anak lelakinya itu. Bu Kirana turut menjatuhkan dirinya di samping Chandra kemudian memperhatikan wajahnya dengan seksama.
"Kamu kenapa, Chandra? Kenapa wajahmu terlihat ketakutan seperti itu?" tanya Bu Kirana.
Chandra terdiam sembari membalas tatapan Sang Mami. Sebenarnya ia ingin sekali menceritakan tentang ketakutannya. Namun, Chandra masih belum siap untuk berkata jujur kepada Bu Kirana.
"Bukan apa-apa, Mih." Chandra menghembuskan napas berat dan kemudian membuang pandangannya ke arah lain.
"Mami tahu kamu sedang berbohong, Chandra. Ayo, sekarang katakan yang sebenarnya kepada Mami," bujuk Bu Kirana.
"Sebenarnya begini, Mi ...."
...***...