
Sementara itu di Kota X.
Sean yang sedang menikmati masa cutinya, memilih menghabiskan waktu senggang di kota kelahiran Alina. Selain mendapatkan tugas untuk mengecek langsung kediaman Alina dan juga makam Bu Nadia, Sean juga ingin mengunjungi bayi laki-laki Imelda yang diberi nama Rendra Wijaya.
Setelah selesai mengecek rumah serta makam Bu Nadia, Sean pun segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit di mana bayi Rendra Wijaya masih dirawat. Menurut penuturan Imelda, perkembangan kesehatan bayinya sudah ada kemajuan. Berat badannya pun terus meningkat seiring pertumbuhannya.
Setibanya di Rumah Sakit, Sean bergegas melangkahkan kakinya menuju ruangan NICU. Dari kejauhan Sean melihat Pak Heri, Bu Dita dan Imelda sedang berkumpul di depan ruangan tersebut.
Sean memperhatikan keluarga Pak Heri dengan seksama dan entah mengapa raut wajah mereka terlihat panik dan cemas. Apalagi Imelda, wanita itu tengah terisak di dalam pelukan Bu Dita.
"Kenapa mereka terlihat cemas, ya? Apakah ini ada hubungannya dengan bayi Rendra?" gumam Sean yang masih memperhatikan keluarga Pak Heri tanpa berkedip sedikitpun.
Setibanya di depan ruangan tersebut, Sean segera menghampiri Imelda yang masih terisak di dalam pelukan Bu Dita.
"Ada apa ini, Pak?" tanya Sean dengan wajah bingung memperhatikan mereka secara bergantian.
"Tuan Sean?" pekik Pak Heri setelah menyadari keberadaan Sean di tempat itu. "Maafkan saya, Tuan Sean. Saya benar-benar tidak menyadari keberadaan Anda di sini," lanjut Pak Heri.
"Ehm, tidak apa-apa, Pak. Lagi pula saya baru saja tiba di sini. Sebenarnya ada apa ini, Pak? Kenapa kalian terlihat begitu cemas?" tanya Sean yang semakin penasaran.
"Cucu saya, Tuan Sean. Tiba-tiba saja ia mengalami kejang-kejang dan sekarang Dokter masih menanganinya," sahut Pak Heri.
"Benarkah?! Tapi baru tadi pagi Imelda bilang bahwa dia baik-baik saja, kenapa sekarang malah seperti ini?" Sean begitu terkejut mendengar jawaban Pak Heri.
"Ya, Tuan Sean. Kami pun tidak menyangka akan menjadi seperti ini," sela Bu Dita.
Tepat di saat itu, salah seorang Perawat keluar dari ruangan tersebut dan meminta keluarga Pak Heri untuk masuk ke dalam. Tanpa rasa curiga, mereka pun bergegas masuk ke dalam dan tinggal Sean yang masih menunggu di luar.
Pak Heri, Bu Dita dan Imelda kebingungan ketika melihat Dokter dan para perawat lainnya terdiam di ruangan tersebut dengan wajah sendu. Terlebih Dokter yang bertugas menangani bayi Rendra.
"Maafkan kami, Pak. Kami sudah berusaha semampu kami, tetapi takdir berkata lain. Maafkan kami," sahut Dokter sambil menghembuskan napas berat.
"Tidak, itu tidak mungkin!" pekik Pak Heri.
Lelaki paruh baya itu segera menghampiri Imelda dan juga Bu Dita yang sudah terlebih dahulu berada di sisi tempat tidur bayi Rendra. Kedua wanita itu menagis histeris sembari memeluk tubuh mungil yang sudah tidak berdaya tersebut.
"Jangan tinggalkan Ibu, Nak!" lirih Imelda di sela isak tangisnya. Ia benar-benar hancur dan putus asa saat itu.
Bukan hanya Imelda, kedua orang tuanya pun tidak kalah sedihnya. Bagi mereka, bayi Rendra adalah segalanya, bayi yang terlahir dengan kondisi yang sangat istimewa.
"Tidak bisakah kalian lakukan sesuatu untuk membangunkannya kembali, Dok?!" lirih Bu Dita.
Lagi-lagi Dokter menggelengkan kepalanya. Terlihat jelas dari raut wajah lelah Sang Dokter, bahwa Dokter pun tidak menginginkan hal itu terjadi. "Maafkan kami, Bu."
Mendengar suara tangisan Bu Dita dan Imelda, Sean pun bergegas memasuki ruangan itu tanpa peduli diizinkan ataupun tidak. Di saat Sean memasuki ruangan tersebut, tatapannya langsung tertuju pada Imelda dan Bu Dita yang menagis sambil memeluk tubuh bayi Rendra.
Sean menghampiri Pak Heri yang sedang menangis di salah satu sudut ruangan. Beberapa kali lelaki paruh baya itu memukul dinding yang ada di hadapannya sambil terisak, bahkan tubuhnya terlihat bergetar.
"Sabar ya, Pak." Sean menepuk pundak Pak Heri.
Pak Heri menoleh kepada Sean dengan mata sembab. "Saya masih tidak dapat menerima kenyataan pahit ini, Tuan Sean. Saya harap ini hanyalah sebuah mimpi buruk di mana setelah saya terbangun, Cucu saya masih ada di sini bersama kami," lirihnya.
...***...
Buat seluruh pembaca My Baby's Daddy, maafkan Author yang tidak bisa balas komentar kalian satu-satu, ya 🙏🙏🙏 karena Ram ponsel author yang cuma 2GB, ponsel Author suka keluar-keluar sendiri pas baca komentar apalagi pas mau balas, dia malah ngelag 😆😆😆 bener-bener memalukan 😅😅😅 Maafkan Author sekali lagi, ya ...