
Baru saja lelaki itu berniat membopong tubuh Imelda, Chandra kembali lagi ke tempat itu dengan membawa sebuah pisau yang ia peroleh dari dapur.
"Heh, sini kamu!" teriak Chandra dengan wajah memerah.
Melihat Chandra kembali dengan membawa sebuah pisau di tangannya, Imelda panik. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang mengerikan hari ini. Namun, lelaki yang berniat menolong Imelda malah tersenyum melihat kedatangan Chandra.
Perlahan lelaki itu melepaskan tubuh Imelda dan meminta wanita itu untuk berdiri di tempat yang aman. "Sebaiknya kamu tetap di sini dan jangan berani mendekat," titah lelaki itu dengan wajah serius menatap Imelda.
"Jangan, Tuan! Sebaiknya Anda pergi saja! Saya takut terjadi sesuatu kepada Anda." Imelda benar-benar panik karena memikirkan bagaimana kondisi lelaki itu nantinya. Ia tidak ingin ada korban jiwa hanya karena ingin menolong dirinya.
"Tenang saja, Nona. Aku pastikan tidak akan ada korban jiwa di sini," sahutnya.
"Sekarang kamu rasakan ini, Pahlawan kesiangan!" teriak Chandra.
Chandra berlari ke arah lelaki itu dengan cepat. Sedangkan lelaki itu malah tersenyum, seolah mengejek Chandra. Chandra semakin kesal dibuatnya. Ia melayangkan pisau tersebut ke arah lelaki itu, tetapi dengan cepat lelaki itu menghindar.
Beberapa kali pisau tersebut di arahkan oleh Chandra ke tubuh lelaki itu. Namun, tak satupun kena sasaran. Sedangkan Chandra sendiri sudah beberapa kali mendapatkan pukulan dari lelaki itu tepat di wajah dan juga tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, Chandra kembali jatuh tersungkur di tanah dengan napas tersengal-sengal. Pisau dapur yang ia gunakan pun sudah berpindah tangan. Wajah dan tubuh Chandra terlihat membiru dan lelaki itu sepertinya sudah kapok dan tidak berani menyerang lelaki itu lagi.
Melihat Chandra yang sudah lemah tidak berdaya, lelaki itu membantu Chandra untuk bangkit dari posisinya. "Bangunlah!" titahnya.
"Ampun, Tuan! Jangan sakiti saya," lirih Chandra dengan wajah memelas agar lelaki itu tidak akan menyakitinya lagi.
"Ingat, jangan pernah berani menyentuh wanita itu lagi! Atau kamu akan berurusan denganku lagi. Kamu dengar itu?"
"Iya, iya! Saya berjanji, Tuan! Tapi saya mohon lepaskan saya!" Chandra menangkupkan kedua tangannya di hadapan lelaki itu dan saat itu wajahnya terlihat sangat menyedihkan sekali.
Imelda menghembuskan napas lega karena akhirnya tidak ada korban jiwa di tempat itu. Dan yang membuat wanita itu senang, Chandra akhirnya kalah telak melawan lelaki yang kini berjalan ke arahnya.
"Mari, Nona. Saya antar ke Rumah Sakit."
"Ti-tidak usah, Tuan. Sebaiknya antar saya ke Bidan dekat sini saja," sahut Imelda dengan terbata-bata karena ia tidak ingin merepotkan lelaki yang tidak dikenalnya itu.
"Apa kamu yakin, Nona?" Lelaki itu nampak ragu karena kondisi Imelda saat itu terlihat sangat tidak baik. Namun, karena Imelda tetap bersikeras minta di antar ke Bidan saja, maka ia pun menurut saja.
"Ya, saya yakin, Tuan."
"Baiklah, kalau begitu."
Setelah berhasil membantu Imelda masuk ke dalam mobilnya, lelaki itu pun segera melajukan mobil tersebut menuju tempat klinik Bidan yang berada tidak jauh dari kediaman Imelda.
Setibanya di tempat itu, kedatangan mereka segera di sambut oleh Bidan serta beberapa anak buahnya. Baru saja Imelda keluar dari mobil milik lelaki itu, sebuah cairan meluncur dari sela-sela kedua kakinya dan hal itu membuat Imelda semakin kesakitan.
Dengan cepat, Bidan pun bergerak bersama beberapa orang anak buahnya untuk menolong Imelda. Mereka membawa wanita itu memasuki tempat praktik. Namun, baru beberapa menit kemudian, Bidan tersebut ke luar dari ruangan itu dan menghampiri lelaki yang sudah menolong Imelda.
"Tuan, sebaiknya istri Anda segera dibawa ke Rumah Sakit karena kondisi bayi dan Ibunya saat ini mulai melemah," ucap Bidan tersebut dengan wajah panik.
"Baiklah kalau begitu." Dengan sigap, lelaki itu kembali membawa Imelda yang sudah tidak berdaya menuju Rumah Sakit dengan di bantu oleh salah satu anak buah Bidan tersebut.
***