My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Bicara Bersama Mommy



"Mommy," sapa Erlan kepada seorang wanita yang tengah berdiri sambil menatap foto keluarga besarnya, yang terpampang jelas di dinding ruang utama.


Wanita paruh baya dengan wajah cantik itu berbalik dan kini ia tersenyum hangat ketika mengetahui siapa yang sedang berdiri di belakangnya.


"Erlan." Nyonya Afiqa membentangkan kedua tangan agar putra kesayangannya itu datang ke pelukannya.


Benar saja, Erlan segera menghampiri Sang Ibu kemudian memeluknya dengan erat. Begitupula Nyonya Afiqa, ia membalas pelukan Erlan dengan mata berkaca-kaca.


"Apa yang Mommy lakukan di sini?" tanya Erlan.


"Mommy rindu sama Daddy-mu, Erlan. Sudah lama Daddy meninggalkan kita, tetapi Mommy tetap tidak bisa berhenti memikirkannya," lirih Sang Mommy.


"Kamu juga! Kenapa lama sekali? Tumben kamu betah tinggal di sana, biasanya paling sehari, dua hari kamu sudah kembali. Memangnya ada apa? Tidak ada masalah 'kan sama Rara?" tanya Nyonya Afiqa seraya melerai pelukannya bersama Erlan. Nyonya Afiqa mengajak Erlan ke sofa kemudian duduk di sana.


"Tidak, Mom. Kak Rara baik-baik saja. Hanya saja ...." Erlan menghentikan ucapannya dan menatap lekat wanita itu.


"Hanya saja apa, Erlan?" Nyonya Afiqa terlihat kebingungan.


Erlan menghembuskan napas berat. Ia bingung bagaimana cara menceritakan tentang Alina kepada Mommy-nya. Nyonya Afiqa memperhatikan raut wajah Erlan yang terlihat kusut. Ia meraih wajah lelaki itu kemudian kembali bertanya.


"Erlan sayang? Kenapa, Nak."


"Mom, aku datang ke sini tidak sendirian. Aku datang bersama calon istriku," tutur Erlan.


Nyonya Afiqa mengerutkan alisnya dan menatap heran kepada Erlan saat itu."Calon istri? Apa maksudmu, Erlan?"


"Ya, Mom. Calon istriku," ucap Erlan yang masih nampak ragu menceritakannya. "Dia masih menunggu di dalam mobil saat ini," lanjutnya.


"Sebentar-sebentar! Jadi kamu tidak sedang bercanda, Erlan? Dan di depan sana ada seorang wanita yang sedang menunggumu dan dia adalah calon istrimu, begitu? Lalu, bagaimana dengan nasib Olivia, Erlan?!" kesal Nyonya Afiqa dengan wajah memerah.


"Mom. Soal Olivia, sudah sering aku katakan bahwa aku tidak bisa mempertahankan hubungan kami! Bukankah selama ini Mommy sudah tahu apa alasanku menceraikan wanita itu!"


Nyonya Afiqa terdiam sambil memikirkan apa yang dikatakan oleh Putra kesayangannya itu. Ia membuang napas kasar kemudian kembali bicara.


Erlan tersenyum sinis sembari membuang pandangannya ke arah lain. "Tidak semudah itu, Mom. Jika kepercayaanku sudah dirusak, maka akan sulit bagiku untuk mempercayai kata-katanya lagi."


Nyonya Afiqa kembali menghembuskan napas beratnya. Apa yang dikatakan oleh Erlan memang ada benarnya, tetapi ia juga merasa kasihan kepada Olivia, karena wanita itu benar-benar tulus meminta maaf kepadanya. "Baiklah sekarang ceritakan pada Mommy siapa wanita itu sebenarnya?"


"Semua ini berawal dari pertemuanku dengan salah satu klien ...."


Erlan pun mulai menceritakan semuanya kepada Nyonya Afiqa. Pada awalnya ekspresi wanita itu nampak biasa-biasa saja. Namun semakin jauh Erlan menceritakan kejadian di malam itu, wanita baruh baya itu pun mulai membulatkan matanya seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Ja-jadi wanita itu saat ini sedang hamil, Erlan? Ya ampun, anakku! Polos sekali dirimu," pekik Nyonya Afiqa sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya. Dan apa maksud dari perkataanmu barusan, Mom?" tanya Erlan heran.


"Kenapa kamu begitu yakin bahwa bayi itu adalah milikmu? Bagaimana jika bukan? Dan bagaimana jika ia menang wanita malam yang kerjanya memang seperti itu, Erlan?!" pekik Nyonya Afiqa.


"Mom, aku sangat yakin Alina tidak seperti yang Mommy katakan."


"Astaga, Erlan. Mommy bingung sebenarnya bagaimana cara kamu berpikir hingga kamu begitu mudahnya percaya dengan omongan wanita itu. Warga kampungnya saja tidak menginginkan dirinya, lah kamu malah mengajaknya bersamamu?! Beruntung sekali wanita itu?! pekik Nyonya Afiqa lagi.


Erlan menarik napas dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar. "Sebaiknya Mommy temui saja dia, ajak dia bicara dan aku yakin setelah itu Mommy pasti akan tahu bagaimana dia yang sebenarnya," sahut Erlan.


"Ah, terserahlah!" ketus Nyonya Afiqa.


Erlan bangkit dari posisi duduknya kemudian melangkah dengan cepat menuju halaman depan, di mana Alina masih menunggunya. Dari kejauhan Alina memperhatikan Erlan yang kini berjalan ke arah mobil. Ia senang karena lelaki itu kembali lagi untuk memenuhi janjinya.


"Alina, ikutlah denganku. Sekarang kita temui Mommy," ajak Erlan sembari membuka pintu mobil kemudian mengulurkan tangannya kepada gadis itu.


Alina nampak ragu, apalagi setelah melihat ekspresi wajah Erlan yang nampak kusut. "Apa Mommy-mu bersedia memberikan restu pada kita, Mas Erlan?" tanya Alina sembari menyambut uluran tangan Erlan.


Erlan hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Namun, Erlan terus melangkahkan kakinya menuntun Alina memasuki rumah megah tersebut.