
"Selamat ya, Erlan." Nyonya Afiqa segera memeluk Erlan sembari mengusap kepala anak lelakinya itu dengan lembut.
Tanpa Erlan sadari, saat itu adalah kesempatan emas untuk Nyonya Afiqa menjalankan aksinya. Ia mengambil beberapa helai rambut Erlan untuk keperluan tes DNA nantinya.
"Aw!" pekik Erlan yang terkejut ketika beberapa helai rambutnya dicabut paksa oleh Nyonya Afiqa.
"Maaf, Nak. Mommy hanya membersihkan kotoran yang ada di rambutmu," sahut Mommy.
Saat itu Erlan menyadari ada sesuatu yang aneh pada Mommy-nya. Namun, ia tetap berpikiran positif dan mencoba mengindahkannya.
Tidak cukup sampai di situ, Nyonya Afiqa juga mengambil beberapa helai rambut milik Baby Arkana di saat ia menggendongnya. Erlan dan Alina sama sekali tidak mencurigai wanita paruh baya tersebut. Mereka malah terlihat senang karena saat itu Nyonya Afiqa sudah bertingkah selayaknya seorang Oma untuk bayi mungil mereka.
"Ah, sepertinya Mommy harus segera pulang, Nak. Mommy masih punya janji sama teman-teman Mommy," ucap Mommy seraya melirik ke arah jam digital yang terpampang di layar ponselnya.
Erlan pun tersenyum. "Wah, Mommy sudah seperti orang sibuk saja sekarang, ya!" goda Etlan.
"Haha, tidak juga," jawab Nyonya Afiqa dengan wajah merona malu.
Setelah berpamitan kepada Erlan, sekarang Nyonya Afiqa menghampiri Alina. "Alina, Mommy pulang dulu, ya."
"Ya, Mom. Hati-hati di jalan, ya!" sahut Alina sambil tersenyum hangat.
Karena merasa tidak nyaman kepada Erlan, Nyonya Afiqa pun dengan terpaksa mencium puncak kepala Alina. Namun, ketika ia melabuhkan ciuman hangatnya di puncak kepala gadis itu, tiba-tiba saja di dalam hatinya ada sebuah perasaan yang aneh.
Ia bahkan tidak pernah merasakan perasaan yang seperti itu ketika bersama Olivia. Sedangkan Alina, gadis itu bahkan sampai menitikkan air mata. Ia tidak percaya bahwa Nyonya Afiqa bisa bersikap begitu baik kepadanya.
Selesai berpamitan kepada Alina, kini giliran bayi mungil itu yang disambangi oleh Nyonya Afiqa. "Oma pulang dulu ya, Tampan. Oma janji pasti akan datang lagi buat jengukin kamu," lanjut Nyonya Afiqa kepada Baby Arkana yang kini tertidur dengan nyenyak di tempat tidurnya.
***
Setibanya di ruangan itu, Sang Dokter pun tersenyum hangat menyambut kedatangan wanita paruh baya tersebut. "Bagaimana, Nyonya Afiqa, apa Anda sudah mendapatkannya?" tanya Dokter tersebut.
"Ya, Dok! Beruntung sekali mereka tidak menyadari bahwa saya sudah mengambil ini dari mereka," ucap Nyonya Afiqa seraya menyerahkan sampel rambut Erlan dan rambut Baby Arkana.
Setelah menyerahkan rambut tersebut, Nyonya Afiqa pun bergegas pergi. Ia tidak ingin ada yang melihatnya berada di ruangan Dokter itu.
"Terima kasih ya, Dok! Saya tunggu hasilnya," ucap Nyonya Afiqa sebelum pergi dari tempat itu.
Beberapa hari kemudian.
Akhirnya Nyonya Afiqa mendapatkan berita baik dari Dokter yang membantunya melakukan tes DNA terhadap Erlan dan Baby Arkana. Dokter itu memberitahukan kepada Nyonya Afiqa bahwa hasil tes DNA tersebut sudah keluar.
Dengan hati berdebar-debar, Nyonya Afiqa menuju Rumah Sakit tersebut. Ia sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya. "Ah, semoga saja hasilnya bagus! Semoga Baby Arkana memang benar-benar cucuku," gumamnya.
Setibanya di sana, ternyata Dokter sudah menunggu kedatangan wanita paruh baya tersebut. Dokter tersenyum lebar ketika bertatap mata dengan Nyonya Afiqa. Dan dari senyuman Dokter tersebut, Nyonya Afiqa bisa menyimpulkan bahwa hasilnya memuaskan.
"Cocok 'kan, Dok?!" tanya Nyonya Afiqa tanpa berbasa-basi lagi.
Dokter itu sempat terkekeh pelan kemudian menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, Nyonya. Dari hasil tes itu menunjukkan bahwa Bayi mungil itu memang 99 persen adalah cucu Anda. Anak kandung dari Tuan Erlan," sahut Dokter.
"Akh!" jerit Nyonya Afiqa yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Sekarang ia benar-benar sudah yakin bahwa Baby Arkana memang cucunya.
"Terima kasih, Dokter! Terima kasih banyak!" seru Nyonya Afiqa yang hampir saja memeluk tubuh Dokter karena saking bahagianya.
"Ya, sama-sama, Nyonya Afiqa."
...***...