
"Masuklah, Alina. Sekarang ini adalah tempat ini adalah milikmu. Kamu bisa melakukan apa saja di sini."
Alina memperhatikan sekeliling ruangan itu dengan seksama. Ini pertama kalinya ia menjejakkan kakinya di bangunan mewah yang disebut Apartemen itu.
"Jadi ... kamu tinggal sendirian di sini, Mas? Terus, kalau kamu lapar siapa yang masakin?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja tercetus dari bibir mungil gadis itu setelah tahu bahwa Erlan tinggal sendirian di tempat itu.
Erlan tertawa pelan mendengar pertanyaan polos Alina. "Ya, tinggal pesan saja, Alina sayang. Oh ya, sekarang kamu mau makan apa? Biar nanti aku pesankan."
Alina terdiam sesaat sambil berpikir. Selama ini ia bahkan tidak pernah memesan makanan secara online. Jangankan untuk memesan makanan seperti itu, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saja sudah susah.
"Apa saja, yang penting mengenyangkan. Karena saat ini aku benar-benar sangat lapar, Mas." Alina tersenyum kecut sambil mengelus perutnya.
"Oke! Tunggulah sebentar lagi, pesananmu sebentar akan segera tiba. Jadi sementara menunggu makanan kita datang, sebaiknya kamu istirahat dulu." Erlan mengusap lembut puncak kepala Alina sembari tersenyum hangat.
Sementara Erlan memesan makanan lewat ponsel kesayangannya, Alina memilih melihat-lihat sekeliling ruangan itu. Alina menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat kamar mandi di ruangan itu.
"Kok dindingnya transparan begini? Trus, bagaimana kalau aku ingin mandi? Apa aku harus mandi dengan mengenakan baju, begitu?" gumam Alina heran.
Ternyata Erlan sudah berada tepat di belakang gadis itu. Ia terkekeh pelan kemudian memeluknya dari belakang. "Kenapa? Apa kamu takut aku melihat tubuh indahmu, Alina sayang?"
Alina terkejut. Ia segera berbalik dan melerai pelukan lelaki itu. "Mas, jangan begitu. Tidak boleh, kita 'kan belum menikah," sahut Alina dengan mata membulat.
Lagi-lagi Erlan terkekeh melihat ekspresi Alina saat itu. "Aku suka ekspresi terkejutmu, Alina. Kamu terlihat sangat lucu. Baiklah, maafkan aku. Aku berjanji padamu bahwa setelah ini aku tidak akan berbuat nakal lagi sebelum kita resmi menikah. Tapi ... jujur, aku tidak tahu kenapa aku selalu ingin dekat-dekat denganmu. Apa ini bawaan bayiku?"
Alina mencebikkan bibirnya. "Mana ada, mungkin memang Mas-nya aja yang suka nyosor."
"Eh, enggak lah." Erlan protes. "Aku bahkan tidak pernah main sosor sama cewek manapun, termasuk Olivia, mantan istriku. Malahan aku yang keseringan disosor oleh mereka. Tapi, berbeda denganmu. Aku merasakan ada magnet yang terus menarik tubuhku agar terus menempel pada tubuh mungilmu itu, Alina sayang."
Erlan kembali mendekat, tetapi Alina segera menjauh. "Aku ingin mandi, Mas. Tapi berjanjilah bahwa kamu tidak akan mengintipku," ucapnya dengan setengah mengancam.
"Maaf, aku tidak berjanji. Aku takut tidak bisa menahan daya tarikmu, Alina sayang. Hingga mataku yang nakal ini penasaran dan ingin mengintipnya. Ya ... walaupun sebenarnya aku sudah pernah melihat seluruh tubuhmu. Aku bahkan masih ingat di mana letak tahi lalatmu yang begitu menggoda imanku," celetuk Erlan, menggoda Alina.
Jangankan mengingat di mana letak tahi lalat milik Alina, Erlan bahkan tidak ingat saat-saat ia menyentuh gadis itu. Namun, ucapannya berhasil membuat Alina kesal dan menekuk wajahnya.
Dengan langkah cepat, Alina masuk ke dalam ruangan kamar mandi. Setelah melepaskan pakaiannya, Alina mengguyur tubuhnya dengan shower. Sesekali gadis itu melirik Erlan yang tertawa pelan, menertawakan dirinya.
Setelah merasa aman, Alina pun bergegas melepaskan pakaian kemudian meneruskan ritual mandinya. Sementara Alina masih menikmati pancuran shower yang membasahi seluruh tubuhnya, Erlan memilih menghubungi Sean.
"Ya, Tuan."
"Sean, aku butuh bantuanmu."
"Tentu saja, Tuan Erlan. Katakanlah," sahut Sean dengan senang hati.
"Tolong urus perceraianku dengan Olivia. Sekarang aku tidak peduli mau dia setuju ataupun tidak. Lebih cepat lebih baik, karena aku ingin menikah, Sean."
Sean begitu terkejut mendengar penuturan Erlan barusan. Erlan memang sudah menceraikan Olivia secara lisan dan urusan di pengadilan pun belum juga kelar karena Olivia terus menunda-nunda.
Namun, kali ini Erlan benar-benar ingin menyelesaikan pernikahannya bersama wanita itu karena sudah tidak ada lagi alasan untuk mempertahankannya. Jika dulu ia masih memiliki rasa iba kepada Olivia, tetapi kali ini tidak. Status Alina dan bayinya lebih penting dari apapun.
"Menikah?" Sean bingung, tetapi ia ikut senang mendengar kabar baik itu. "Baik, Tuan. Saya akan urus secepatnya. Ehm, kalau boleh tahu saya tahu, Tuan ingin menikah dengan siapa?" tanya Sean penasaran.
Erlan tersenyum. "Dengan gadis yang selalu menghantui setiap malamku, Sean. Aku sudah berhasil menemukannya dan aku ingin menikahi gadis itu secepatnya."
Sean tersenyum lebar. "Wah, syukurlah. Aku turut bahagia mendengarnya, Tuan Erlan. Ehm apa Anda tidak ingin aku mengurus surat pernikahan Anda dan gadis itu sekalian?" Sean menawarkan jasanya kepada Erlan.
"Wah, kamu benar! Hampir saja aku melupakan hal itu, Sean. Ya, sekalian aku ingin kamu urus pernikahanku. Namun, sayangnya pernikahan kami hanya bisa dilaksanakan secara siri, Sean. Soalnya usia Alina masih di bawah umur, usianya baru genap 18 tahun," tutur Erlan.
Sean terdiam ketika Erlan menyebutkan nama Alina. Tiba-tiba saja terlintas gadis cantik yang ia tolong dulu. Seorang gadis yang putus asa dan mencoba bunuh diri.
"Alina?" batin Sean.
"Sean, apa kamu masih di sana?" tanya Erlan bingung karena Sean tidak berbicara sepatah katapun.
"Ah, iya. Saya masih di sini, Tuan. Baiklah, saya akan segera mengurusnya."
"Terima kasih," sahut Erlan sambil tersenyum puas.
...***...