
Setibanya di kediaman kakak perempuannya, Erlan pun segera mengajak Alina untuk masuk ke dalam rumah itu. Rara yang sedang duduk bersantai di ruang utama, begitu terkejut saat ia melihat Erlan datang bersama Alina.
"Erlan, kamu dari mana saja? Dan bukankah ini--" belum habis Rara bicara, Erlan sudah menyela ucapannya.
"Ya, Kak. Ini Alina, gadis penjual nasi uduk yang kemarin menyelamatkan Silla."
Rara memperhatikan penampilan Alina dengan seksama. Dari atas kepala hingga ujung kaki dan ada yang begitu menarik perhatian Rara saat itu. Perut Alina yang membulat dan terlihat dengan begitu jelas karena kondisinya yang basah kuyup.
"Kenapa kalian basah-basahan seperti ini?" Rara nampak heran. Ia bangkit dari posisi duduknya kemudian menghampiri Alina. "Ikutlah denganku, Alina," ajak Rara.
Rara mengajak Alina menuju sebuah kamar kosong yang biasa digunakan oleh tamu yang ingin menginap. Setibanya di ruangan itu, Rara meminta Alina untuk segera mengganti pakaiannya yang basah kuyup dengan sebuah kimono tidur.
"Tunggu sebentar ya, Alina. Kakak ambilkan pakaian buatmu," ucap Rara sambil mengelus lembut pipi Alina.
"Tidak usah repot-repot, Nyonya," sahut Alina yang merasa tidak nyaman karena sudah merepotkan wanita itu.
"Tidak apa-apa, Alina. Lagipula aku tidak merasa direpotkan, kok," jawab Rara seraya keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Alina sendirian di sana.
Tidak berselang lama, Rara kembali dengan membawa pakaian miliknya yang masih dalam keadaan baru, tidak pernah ia gunakan sekalipun.
Rara kembali menghampiri Alina kemudian menyerahkan pakaian itu. "Pakailah, ini masih baru, kok."
Dengan tangan gemetar, Alina menyambutnya. "Terima kasih, Nyonya."
"Sama-sama."
Sementara Alina mengganti pakaiannya, Rara bergegas menuju kamar Erlan. Begitu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada adik lelakinya itu tentang Alina.
Setibanya di kamar tersebut, ternyata adik lelaki itu sudah mengganti pakaiannya. Perlahan ia masuk ke dalam ruangan itu kemudian duduk di tepian tempat tidur Erlan.
"Lan, bisa jelaskan semuanya kepada Kakak?" Mata Rara menatap tajam kepada Erlan yang masih mengeringkan rambutnya dengan menggunakan handuk.
Erlan menghela napas panjang kemudian duduk di samping Rara. "Ceritanya panjang, Kak. Dan aku tidak tahu harus bagaimana menceritakannya," ucap Erlan dengan wajah kusut menatap Rara.
"Ada apa, Erlan. Ceritakan lah, jangan buat Kakak cemas," sahut Rara. Setelah ia melihat ekspresi wajah Erlan saat itu, ia tahu bahwa adik lelakinya itu sedang dalam masalah.
"Begini, Kak." Erlan pun menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan Alina. Begitupula kejadian-kejadian buruk yang terus menimpa Alina semenjak gadis dinyatakan positif hamil.
"Ja-jadi, benar saat ini Alina tengah mengandung? Dan bayi itu adalah milikmu, Erlan," pekik Rara dengan wajah cemas menatap Erlan.
"Ya Tuhan, Erlan! Bagaimana ini bisa begini?" Rara membulatkan matanya setelah mengetahui kisah Erlan dan Alina. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Mommy jika ia tahu tentang hal ini. Kakak yakin Mommy tidak akan semudah itu merestui hubungan kalian, walaupun saat ini Alina sedang mengandung anakmu," lirih Rara.
"Lalu aku harus bagaimana, Kak? Alina dan bayi dalam kandungannya adalah tanggung jawabku. Aku tidak mungkin membiarkan mereka hidup sengsara sedangkan aku hidup enak tanpa beban sedikitpun," sahut Erlan.
"Ya, kamu memang benar. Tapi ...."
"Aku tetap akan menikahi Alina, dengan ataupun tanpa restu dari Mommy, Kak."
Beberapa jam kemudian.
Rara mengajak Alina untuk makan malam bersama keluarga kecilnya. Semula Alina menolak karena ia merasa malu, tetapi setelah Rara membujuknya dengan setengah memaksa, akhirnya Alina pun bersedia.
"Daddy, kenalkan. Ini Alina, gadis yang kemarin menyelamatkan putri kita," ucap Rara ketika mereka tiba di ruang makan. Rara memperkenalkan sosok Alina kepada Sang Suami yang sudah memulai makan malamnya lebih dulu.
Abimanyu berhenti mengunyah, kemudian menatap Alina dari atas kepala hingga ujung kaki dan setelah itu ia pun tersenyum. "Oh, ternyata ini yang namanya Alina. Pantas saja Erlan betah tinggal di sini, ternyata gadis ini sangat cantik. Benar 'kan, Erlan?"
Erlan yang sedang menyeruput minumannya, tiba-tiba saja tersedak setelah mendengar ucapan Kakak iparnya. Erlan memukul-mukul dadanya dengan perlahan kemudian tersenyum kecut menatap orang-orang yang sedang menertawakan dirinya, termasuk si kecil Arsilla.
"Kakak bisa saja," sahut Erlan sembari melirik Alina yang saat ini duduk di kursi, yang ada di samping kanannya.
Tak terasa makan malam pun berakhir. Setelah membantu berberes-beres di dapur, Alina berencana menemui Erlan dan ingin membicarakan masalah mereka.
"Tuan Erlan," sapa Alina kepada Erlan yang sedang bersantai di teras depan rumah Rara. Erlan memang sengaja menunggu Alina di sana agar ia dan gadis itu bisa bicara dengan lebih leluasa.
"Ya, Alina." Erlan tersenyum hangat menyambut kedatangan Alina.
"Tuan masih belum menjawab pertanyaanku, kenapa Tuan bersedia menikahiku. Padahal Tuan tahu bahwa aku--"
"Hush ...." Erlan menutup bibir Alina dengan jari telunjuknya, kemudian mengelusnya bibir mungil itu dengan lembut.
"Kemarilah, Alina. Aku akan ceritakan semuanya. Tapi ... berjanjilah bahwa kamu tidak akan marah padaku," pinta Erlan sambil menatap lekat kedua bola mata Alina.
Alina pun menganggukkan kepalanya pelan. "Baiklah, Tuan."
...***...