
Alina ragu ingin membuka pintu tersebut. Namun, semakin ia diamkan, ketukan itu terdengar semakin cepat. Perlahan Alina melangkahkan kakinya menuju pintu walaupun hatinya saat itu benar-benar cemas.
"Si-siapa?" tanya Alina sambil menelan salivanya dengan susah payah.
"Ehm, Alina ... ini aku, Erlan."
Alina sedikit lega setelah tahu bahwa lelaki yang sedang berada di depan pintu adalah lelaki yang semalam mengantarkannya pulang. Namun, Alina juga bingung, sebenarnya mau apa Erlan bertamu ke rumahnya sepagi ini.
"Sebentar!" Alina bergegas meraih gagang pintu kemudian membukanya.
Benar saja, lelaki tampan dengan biji manik berwarna abu-abu itu sedang berdiri di hadapannya sambil tersenyum hangat. Alina mengelus tengkuknya seraya mempersilakan lelaki itu untuk masuk ke dalam rumah sederhana miliknya.
"Silakan masuk, Tuan Erlan. Maaf, rumahnya berantakan."
"Tidak apa, Alina. Justru aku yang seharusnya meminta maaf padamu karena sudah mengganggu aktivitasmu pagi-pagi begini." Erlan melangkah masuk dan mengikuti Alina menuntunnya ke sebuah kursi kayu tua, tetapi masih kokoh untuk diduduki.
Alina tersenyum kemudian mempersilakan Erlan untuk duduk di kursi tersebut. "Silakan duduk, Tuan," ucap Alina dengan malu-malu karena keadaan rumahnya yang tidak sebagus dan selayak milik orang lain.
"Terima kasih, Alina. Oh ya, sebenarnya aku ke sini ingin membeli nasi uduk buatanmu. Aku takut kehabisan sama seperti kemarin, makanya hari ini aku datang lebih awal agar tidak kehabisan," ucap Erlan seraya mendudukkan tubuhnya di kursi kayu tersebut.
Alina tertawa pelan mendengar penuturan lelaki itu. "Astaga, Tuan. Sebantar, ya." Alina pun bergegas menuju dapur dan mempersiapkan sepiring nasi uduk buatannya untuk Erlan. Tidak lupa segelas teh manis hangat sebagai minumnya.
Setelah selesai mempersiapkannya, Alina pun segera membawanya ke hadapan Erlan sambil tersenyum hangat.
Erlan memperhatikan Alina yang terlihat sangat cantik hari ini. Apalagi ditambah dengan senyuman yang senantiasa menghiasi wajah cantiknya. Semakin sempurna lah gadis itu bagi Erlan.
Namun, ada yang membuat mata Erlan sedikit terganggu ketika melihat penampilan gadis itu. Perutnya yang terlihat membuncit dan untuk ukuran tubuhnya yang mungil, perut Alina terlihat lebih besar dari seharusnya.
Erlan menautkan alisnya sambil terus memperhatikan gadis itu. Ia berpikir tidak mungkin seorang Alina mengalami cacingan atau gizi buruk. Namun, perut itu benar-benar membuat matanya terganggu ketika melihatnya.
Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di kepala lelaki itu. "Kenapa kemarin aku tidak menyadari bahwa perutnya sebesar itu? Apa itu karena pengaruh pakaian yang sedang dikenakan olehnya? Tapi, kemarin aku benar-benar tidak menyadarinya," batin Erlan.
Ya, karena saat pertama Erlan bertemu dengan Alina, gadis itu mengenakan baju daster bekas milik mendiang Ibunya yang ukurannya lebih longgar hingga perutnya pun tidak terlihat dengan jelas.
"Ya, Tuhan. Apakah mimpi-mimpiku itu benar bahwa Saat ini Alina sedang mengandung? Dan jika itu benar, maka bayi itu adalah milikku," batin Erlan lagi.
"Ini nasi uduknya, Tuan." Alina kembali tersenyum seraya meletakkan sepiring nasi uduk dengan segelas teh hangat buatannya ke atas meja, tepat di hadapan Erlan.
Erlan yang masih bertarung dengan sejuta pertanyaan di kepalanya hanya bisa tersenyum kecut menatap Alina. Rasa bersalah yang begitu besar menguasai hati lelaki itu.
"Ya Tuhan, apakah Alina tahu kejadian di malam itu? Tapi ... Jika Alina tahu, mungkin ia sudah meminta pertanggung jawaban dariku. Atau ... ya, Tuhan! Aku bingung, aku tidak tahu bagaimana cara menanyakannya agar ia tidak tersinggung dan marah padaku."
Erlan meraih piring yang diserahkan oleh Alina dengan tangan gemetar. Ia mencoba suapan pertamanya sambil terus menatap Alina yang masih saja tersenyum kepadanya.
Suapan pertama Erlan pun meluncur di tenggorokannya dan entah mengapa rasa cemas dan ketakutan yang dirasakan oleh Erlan mendadak hilang. Akhirnya ia bisa tersenyum hangat seperti sebelumnya kepada gadis itu.
"Nasi udukmu sangat enak, Alina. Entah mengapa aku merasa candu akan nasi udukmu. Aku takut, jika aku kembali ke kotaku maka aku tidak akan bisa menikmati nasi udukmu lagi," ucap Erlan.
Lagi-lagi Alina tertawa pelan. Tawa yang membuat Erlan begitu terpesona. Jika Erlan bisa membeli tawa itu, ia rela membayar mahal agar ia bisa melihat rawa renyah itu setiap hari.
"Astaga, Tuan Erlan. Nanti jika kamu sudah kembali ke kotamu, maka aku akan memaketkan nasi udukku setiap hari. Tapi ... nasi uduknya sudah basi saat tiba di tanganmu," sahut Alina di sela tawanya.
Erlan tersenyum. "Kamu benar."
Erlan pun kembali menikmati nasi uduknya sambil sesekali melirik Alina yang masih duduk tepat di hadapannya. Gadis itu tidak membalas lirikan Erlan karena saat itu Alina sedang sibuk memikirkan daftar barang belanjaannya hari ini.
Tiba-tiba pintu rumah Alina di ketuk dengan keras oleh seseorang dari luar. Seketika tubuh Alina menjadi panas dingin. Ia yakin bahwa orang yang sedang mengetuk pintu rumahnya adalah salah satu dari tetangga julidnya.
"Alina, buka pintunya!" Terdengar teriakan Ibu-Ibu yang sangat Alina kenali. Suara salah satu tetangga julid yang sering menyindirnya dengan kasar.
"Ehm Tuan, tunggu di sini sebentar ya! Aku ingin keluar dulu, sepertinya aku kedatangan tamu. Tuan nikmati saja makanannya dan jangan sungkan." Alina tersenyum hangat dan mencoba menyembunyikan kekhawatirannya dari Erlan.
"Baiklah," sahut Erlan yang sama sekali tidak menaruh curiga sedikitpun.
...***...