
"Aku baru tahu kalau tubuhmu begitu indah, Ed!" sahut Olivia yang masih menempel di punggung lelaki itu.
Edgar segera berbalik kemudian menjauhkan Olivia dari tubuhnya. Ia tidak ingin hasratnya sebagai lelaki kembali terusik. Edgar pun tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu bersama Olivia untuk yang kedua kalinya.
"Lepaskan aku, Olivia. Jangan coba untuk memancingku seperti dulu. Aku tidak ingin melakukan kesalahan itu lagi. Cukup satu kali saja," tutur Edgar.
Bukannya menjauh dari Edgar, Olivia malah semakin penasaran. Ia terus mencoba mendekati tubuh Edgar dan sesekali membelai perut sick pack lelaki itu.
"Ayolah, Ed!" Olivia menyeringai sambil menatap Edgar. Tangan mulus wanita itu bahkan sudah mulai berani menyentuh gundukan yang tersembunyi di balik celana boxer milik Edgar.
"Olivia, cukup! Jangan sampai singa tidurku terbangun kemudian melahapmu seperti dulu! Setelah sadar, kamu pasti nangis-nangis dan ujung-ujungnya aku lagi yang disalahkan!" kesal Edgar sembari menangkap tangan Olivia yang ingin membangunkan gundukan di balik celana boxer tersebut.
"Baiklah kalau begitu," sahut Olivia.
Wanita itu menyeringai dan tiba-tiba saja ia menaikkan dress ketat yang ia kenakan kemudian melepaskannya di hadapan Edgar.
Tidak cukup sampai di situ, Olivia juga mulai melepaskan braa serta cd cantik berwarna pink miliknya dan melemparkan benda tersebut ke wajah Edgar. Beruntung Edgar refleks, ia bergerak dengan cepat dan berhasil menangkap braa serta cd berwarna pink tersebut sebelum benda itu mendarat tepat di wajah tampannya.
"Apa kamu masih bisa menolakku, Ed?" Olivia kembali menggoda Edgar yang masih terdiam sambil menatap tubuh polosnya. Olivia bahkan dengan sengaja meremass bulatan kenyalnya di hadapan Edgar.
Belum lagi area pribadi Olivia yang terpampang jelas di depan mata lelaki itu. Bulu-bulu halus yang sengaja di biarkan tumbuh di bagian tersebut, membuat Edgar menelan salivanya.
Namun, Edgar terus berusaha menahan hasratnya walau besar keinginannya untuk kembali menyentuh Olivia saat itu. "Maafkan aku, Olivia. Aku tidak bisa," tolak Edgar.
"Maaf!" Edgar segera menjauh dari Olivia kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam ruangan itu, Edgar sempat menyandarkan tubuhnya di depan pintu kamar mandi sambil membuang napas berat. Ia memperhatikan gundukan di balik celana boxer tersebut dan ternyata singa tidurnya sudah terbangun. Benda panjang dan besar tersebut mulai bergerak liar di sana.
Benda itu mengeras dan membuat Edgar merasa tidak nyaman. "Dasar wanita stress! Bisa-bisanya dia membangunkan singa tidurku! Terpaksa aku harus bermain solo kalau seperti ini ceritanya," gumam Edgar sembari mengelus benda tersebut.
Sementara Edgar memilih bermain solo di dalam ruangan itu dengan menggunakan sabun mandi, Olivia yang merasa kecewa, menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur milik Edgar. Setelah beberapa saat, akhirnya Olivia pun memejamkan matanya di atas bed tersebut.
Beberapa menit kemudian, Edgar selesai menuntaskan hasrat serta ritual mandinya di ruangan itu. Ia pun segera keluar dari ruangan tersebut dengan raut wajah yang lebih tenang dari sebelumnya.
Namun, ketenangan Edgar kembali terusik ketika melihat pemandangan indah di hadapan mata kepalanya. Tubuh polos Olivia tergeletak di atas tempat tidur dan kembali menggoda imannya sebagai seorang laki-laki.
Edgar melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri tempat tidur kemudian meraih sebuah selimut. Ia menyelimuti tubuh polos Olivia seraya membenarkan posisi tidur wanita tersebut.
"Semoga aku tetap kuat! Aku harus bisa menahan hasratku agar tidak terjebak seperti dulu," gumam Edgar.
Edgar meraih pakaian milik Olivia yang berserakan di lantai kamarnya kemudian membawa pakaian tersebut ke atas tempat tidur. Sebelum ia memasangkan kembali pakaian milik Olivia, Edgar sempat menghembuskan napas panjang agar hati dan pikirannya bisa sedikit lebih tenang.
"Hufftt! Aku pasti bisa!" serunya.
...***...