My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Percaya 100 Persen



Setelah urusannya dengan Sang Dokter selesai, Nyonya Afiqa pun bergegas memerintahkan sopir pribadinya untuk segera mengantarkannya ke apartemen Erlan dan Alina. Wanita paruh baya tersebut sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak, menantu, serta cucu laki-lakinya.


"Lebih cepat ya, Pak!" titah Nyonya Afiqa kepada Pak Sopir.


"Baik, Bu." Pak Sopir pun bergegas melajukan mobilnya menuju apartemen Erlan.


Setelah beberapa menit kemudian, mobil yang ditumpangi oleh Nyonya Afiqa pun tiba di depan apartemen. Sebelum memasuki gedung super mewah tersebut, Nyonya Afiqa meraih ponselnya kemudian mencoba menghubungi nomor Erlan.


"Ya, Mom?" Terdengar sahutan Erlan dari seberang telepon.


"Lan, sekarang Mommy sedang berada di depan apartemenmu. Bisa kamu jemput Mommy?" sahut Nyonya Afiqa seraya menengadah ke lantai atas, di mana kamar Erlan terlihat jelas dari tempatnya berdiri.


Erlan bergegas menghampiri jendela kemudian memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di depan apartemen. Di antara banyaknya orang yang berlalu lalang di tempat itu, mata Erlan kini tertuju pada sosok wanita yang sangat ia kenali.


"Mommy," gumam Erlan sambil melambaikan tangannya kepada Nyonya Afiqa. Begitu pula wanita paruh baya tersebut, ia turut melambaikan tangan kepada Erlan.


"Baiklah, Mommy tunggu di sana sebentar. Nanti Erlan menyusul," sahut Erlan.


"Siapa, Mas?" tanya Alina penasaran.


"Mommy mau berkunjung ke sini," sahut Erlan sembari meletakkan ponselnya ke atas nakas.


Erlan menghampiri Alina yang sedang menyusui Baby Arkana di tepian tempat tidur mereka kemudian mengusap puncak kepala wanita itu dengan lembut.


"Kamu tunggu sebentar ya, Sayang."


Alina pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah," sahut Alina


Erlan bergegas melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut kemudian segera menyusul Sang Mommy yang kini menunggu kedatangannya di lobby.


Nyonya Afiqa melebarkan senyumnya ketika melihat Erlan yang datang mendekat. Ia bahkan memeluk tubuh kekar itu ketika sudah berada di hadapannya. "Erlan, Mommy sayang kamu!" pekiknya.


Walaupun ia tidak mengerti mengapa Mommy-nya terlihat begitu bahagia. Namun, Erlan tidak ingin ambil pusing. selama Sang Mommy tidak lagi mengganggu kebahagiaannya bersama Alina.


"Mari, Mom," ajak Erlan.


"Mari, Nak." Nyonya Afiqa pun segera mengikuti Erlan yang menuntunnya hingga ke ruangan tersebut. Setibanya di sana, ternyata Alina sudah menunggu kedatangan mereka tepat di depan pintu bersama bayinya.


"Alina," sapa Nyonya Afiqa dengan bibir bergetar. Ia bahkan tidak bisa menahan air matanya untuk tidak merembes di kedua pipinya.


"Masuklah, Mom," ajak Alina sembari tersenyum hangat.


Nyonya Afiqa pun segera masuk dan mengikuti langkah Alina yang menuntunnya hingga menuju sofa. Alina kembali tersenyum dan mengajak Ibu mertuanya itu untuk duduk bersamanya.


"Alina, maafkan Mommy, ya. Selama ini Mommy tidak pernah mempercayaimu. Mommy selalu meremehkanmu dan bahkan Mommy sering sekali berkata kasar kepadamu," lirih Nyonya Afiqa sambil terisak.


Alina dan Erlan saling tatap sejenak dan terlihat jelas bahwa mereka tengah kebingungan melihat tingkah Nyonya Afiqa hari ini. Alina menyerahkan Baby Arkana yang sedang tertidur di pelukannya kepada Erlan dan segera disambut oleh lelaki itu.


"Sudahlah, Mom. Lupakan semua itu dan jangan diingat-ingat lagi," sahut Alina sembari mengelus punggung Ibu mertuanya tersebut.


Nyonya Afiqa menatap wajah cantik Alina dengan penuh derai air mata. "Kamu memaafkan Mommy 'kan, Nak?"


Alina pun menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Tentu saja, Mom. Bahkan tanpa meminta maaf pun, Alina sudah memaafkan Mommy," sahut Alina.


"Terima kasih, Nak. Terima kasih banyak!" Nyonya Afiqa memeluk erat tubuh Alina dan Alina pun membalas pelukan wanita paruh baya tersebut.


Erlan yang sedang menggendong si kecil Arkana terus memperhatikan tingkah Sang Mommy yang menurutnya cukup aneh. Namun, ia berharap wanita paruh baya itu tidak sedang berpura-pura dan mempermainkan perasaannya bersama Alina.


...***...