
"Sekarang di mana gadis itu? Apakah dia masih bersama Erlan?" Olivia masih penasaran dengan sosok Alina. Ia ingin sekali bertemu gadis itu, gadis yang sudah berhasil merebut hati Erlan.
"Mommy kurang tahu, Sayang. Mommy juga belum menghubungi Erlan. Tapi, mungkin saja gadis itu masih bersama Erlan saat ini."
"Di mana? Di Apartemennya?"
"Entahlah, bisa jadi."
"Kalau begitu bantu aku menemui gadis itu, Mom. Aku ingin sekali bertemu dengannya!" pinta Olivia yang begitu penasaran.
Nyonya Afiqa mengerutkan alisnya, heran. "Untuk apa kamu ingin menemui gadis itu, Olivia?"
"Aku hanya penasaran, Mom. Aku ingin tahu wanita seperti apa yang sudah berhasil meluluhkan hati Erlan," sahut Olivia sambil menghiba, berharap Nyonya Afiqa memenuhi permintaannya.
Nyonya Afiqa menghembuskan napas berat dan akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kalau itu maumu. Tapi ingat, jangan macam-macam sama gadis itu, Olivia. Mommy tidak ingin terjadi masalah sekecil apapun di sana. Walaupun Mommy tidak menyetujui hubungan mereka, tetapi Mommy tidak ingin menyakiti gadis itu," sahut wanita paruh baya tersebut.
Olivia sempat memutarkan bola matanya setelah mendengar penuturan Nyonya Afiqa, tetapi wanita ifu tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Olivia saat itu. "Baiklah, Mom. Aku berjanji tidak akan menyentuh gadis itu. Apalagi menykitinya," sahut Olivia.
Olivia terpaksa mengajak Nyonya Afiqa ke Apartemen Erlan karena hanya wanita itu yang mempunyai akses keluar masuk di Apartemen tersebut dan atas izin Erlan sendiri. Sedangkan dirinya tidak mungkin diizinkan memasuki wilayah itu karena Erlan tidak mengizinkannya.
Setelah merasa agak baikan, Olivia pun segera mengajak Nyonya Afiqa menuju Apartemen Erlan.
"Kamu yakin bisa menjalankan mobilmu sendiri, Olivia?" tanya Nyonya Afiqa yang nampak cemas.
"Ya, aku yakin, Mom." Olivia pun segera melajukan mobilnya memecah keramaian kota. Tidak butuh waktu lama, mobil yang dikemudikan oleh Olivia kini tiba di halaman Apartemen yang menjulang tinggi tersebut.
Nyonya Afiqa dan Olivia sempat saling tatap sebelum wanita paruh baya tersebut mengetuk pintu kamar tersebut. Tepat di saat itu Alina sedang merapikan seluruh pakaian yang diberikan oleh Sean beberapa hari yang lalu.
Alina tersenyum sembari membayangkan bagaimana ekspresi Sean saat membeli cd serta braa tersebut. "Wajah Tuan Sean pasti terlihat lucu saat ia terpaksa membeli cd serta braa ini. Tapi aku salut, pilihannya pada bagus semua," gumam Alina sembari menenteng celana dallam serta braa miliknya.
Gadis itu baru sempat merapikannya sekarang, setelah beberapa hari ini ia benar-benar merasa lelah dan kurang bersemangat, maklum mood Ibu hamil.
Saat ini Alina tengah sendirian. Erlan sudah mulai masuk kerja sama seperti biasanya. Sedangkan Sean sedang sibuk dengan tugas-tugas baru yang diberikan oleh Erlan mengurus percaraian serta pernikahannya bersama Alina, yang akan dilaksanakan sebentar lagi.
Samar-samar Alina mendengar suara ketukan dari pintu utama. Perlahan gadis itu bangkit dengan bertumpu di dinding ruangan, perutnya yang sudah membesar membuat dirinya tidak bisa bergerak dengan bebas.
"Siapa, ya? Apa mungkin Mas Erlan?" gumam Alina yang berjalan menuju pintu tersebut sambil mengelus perutnya. Setibanya di depan pintu, Alina terperanjat. Matanya terbuka lebar ketika menatap layar monitor yang memantau keadaan dari luar. Dari layar tersebut nampak jelas wajah Nyonya Afiqa dan Olivia yang sedang menunggu pintu dibuka olehnya.
"Bukankah itu Mommy? Mau apa Mommy ke sini? Mungkinkah Mommy ingin bertemu Mas Erlan? Lalu ... siapa wanita cantik yang datang bersama Mommy? Apa mungkin itu Nona Olivia, mantan istrinya Mas Erlan?" gumam Alina dengan wajah panik. Beribu pertanyaan memenuhi isi kepala gadis itu saat ini.
Alina menatap pintu tersebut sambil menimbang-nimbang. Alina bingung apakah ia harus membukakan pintu tersebut atau membiarkannya.
"Ya, Tuhan! Apa yang harus aku lakukan. Apa sebaiknya aku hubungi Mas Erlan saja? Ah, tidak-tidak! Berpikirlah positif, Alina! Siapa tahu Mommy ke sini dengan maksud ingin memberikan restu kepada kami," gumam Alina sembari meremass-remass jari jemarinya.
Setelah bertarung dengan pikirannya sendiri, akhirnya Alina memutuskan untuk membuka pintu tersebut. Ketika pintu terbuka mata Nyonya Afiqa dan Olivia langsung tertuju kepadanya. Dari tatapan kedua wanita berbeda usia tersebut, nampak jelas bahwa mereka sepertinya tidak menyukai Alina, terlebih Olivia.
Wanita itu terlihat begitu kesal apalagi setelah melihat perut Alina yang membesar. Olivia menerobos masuk, padahal Alina belum memberikan izin masuk untuknya.
Setelah Olivia masuk, Nyonya Afiqa pun segera mengikuti dari belakang sembari berjaga-jaga. Ia tidak ingin Olivia melakukan sesuatu yang tidak-tidak kepada Alina. Wanita paruh baya itu tidak ingin berurusan dengan putra kesayangannya hanya karena mengganggu Alina.