
Sementara semua orang tengah berbahagia di pesta pernikahan Erlan, Olivia merasa sangat gusar. Ia sudah mencoba menenangkan hatinya saat itu, tetapi tetap tidak bisa. Ia gelisah dan ingin segera menyusul ke acara tersebut.
Setelah berpikir dengan keras, akhirnya Olivia pun memutuskan untuk mengunjungi pesta pernikahan Alina dan Erlan walaupun ia sudah tahu apa konsekuensinya mendatangi tempat itu.
Ya, yang pasti kehadiran wanita itu akan di tolak oleh penjaga serta orang-orang yang ada di pesta tersebut. Namun, dengan modal nekat, Olivia pun memberanikan dirinya dan berharap bisa membatalkan pernikahan mantan suaminya itu.
"Aku sudah tidak peduli walaupun wajahku akan menjadi sorotan di pesta itu!" gumam Olivia sembari melajukan mobilnya menuju Hotel Mentari, di mana acara pernikahan itu dilangsungkan.
Sementara itu.
Edgar terkejut setelah mengetahui ada pesta pernikahan di Ballroom Hotel tempat ia menginap dan yang membuat ia terkejut adalah siapa yang menjadi mempelai pria di pesta pernikahan itu.
"Erlan Ardinasa Harrison?!" gumam Edgar ketika menatap sebuah banner wedding berukuran besar yang bertuliskan nama Erlan dan Alina lengkap dengan foto mereka. Poster berukuran besar itu diletakkan di depan hotel sebagai petunjuk untuk para tamu undangan.
"Jadi ... saat ini Erlan tengah mengadakan pesta pernikahan di sini. Apakah Olivia mengetahui hal ini? Hmm, aku yakin dia pasti sudah tahu karena beberapa hari yang lalu Olivia sempat menyebutkan bahwa Erlan akan segera menikah dalam waktu dekat."
Lelaki itu terus bergumam sambil memperhatikan foto Erlan dan Alina yang terlihat sangat serasi di banner wedding tersebut. Namun, lagi-lagi Edgar kembali dikejutkan dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya.
"Ehm, sebentar-sebentar! Sepertinya aku mengenali wanita ini! Tapi ... di mana ya?" Edgar coba mengingat-ingat dan akhirnya mata lelaki itu pun membulat dengan sempurna setelah tahu siapa mempelai wanita itu sebenarnya.
"Ya, Tuhan! Bukankah ini gadis yang dulu datang ke hotel dan meminta bantuan kepadaku?!" Edgar benar-benar shok setelah mengenali siapa yang menjadi pasangan Erlan saat ini.
"Tapi ... bukankah gadis itu tengah hamil dan lelaki yang menghamilinya adalah lelaki yang sering chek in di hotel tempatku bekerja? Lalu, bagaimana bisa sekarang ia malah menikah dengan Erlan?"
Beribu pertanyaan memenuhi isi kepala Edgar. Lelaki itu terdiam sejenak sambil terus berpikir dan akhirnya ia memilih melangkahkan kakinya menuju Ballroom di mana pesta pernikahan Erlan dan Alina masih berlangsung dengan sangat meriah.
Setibanya di tempat itu, ternyata benar bahwa di sana tengah diadakan sebuah pesta pernikahan yang cukup meriah. Namun, sayangnya Edgar tidak bisa memasuki ruangan itu karena dijaga ketat oleh para penjaga keamanan.
Edgar hanya bisa memperhatikan banyaknya banner wedding yang memperlihatkan kemesraan kedua mempelai, berjejer di depan Ballroom Hotel. Ketika Edgar masih asik memperhatikan foto-foto Erlan dan Alina yang terlihat sangat memukau, tiba-tiba keributan terjadi di depan ruangan tersebut.
Edgar berbalik kemudian memperhatikan seseorang yang sedang membuat keributan di tempat itu. Edgar menggelengkan kepalanya setelah tahu siapa yang menjadi biang keributan.
"Olivia," gumamnya sembari menghampiri mereka.
Dengan emosi berapi-api, Olivia memarahi para penjaga yang terus menghalangi langkahnya untuk memasuki ballroom tersebut. Ia bahkan sempat merobek salah satu banner wedding yang berada di samping tubuhnya.
"Biarkan aku masuk!" teriak Olivia dengan wajah memerah menatap para penjaga yang masih menjaga ketat pintu masuk ballroom tersebut.
"Tanpa undangan, tidak boleh masuk!" tegas salah satu penjaga dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun menatap Olivia.
"Heh, apa kamu tidak tahu siapa aku sebenarnya?! Aku adalah Olivia Karenina Fernandez, aku masih sah istri dari Erlan Ardinasa Harrison, lelaki yang sedang bersanding di sana!" kesal Olivia.
Lagi-lagi Olivia mencoba menerobos penjagaan para lelaki sangar tersebut. Namun, usahanya hanya sia-sia saja karena nyatanya ia bahkan tetap tidak bisa memasuki ruangan itu.
"Olivia, sudah cukup! Kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri!" ucap Edgar ketika ia sudah berada di samping wanita itu. Edgar meraih tangan Olivia dan mencoba membawanya menjauh dari ruangan tersebut.
Olivia begitu terkejut ketika mengetahui bahwa Edgar juga berada di tempat itu dan sekarang lelaki itu malah mencoba menghentikan aksinya.
"Sedang apa kamu di sini?!" ketus Olivia sembari menarik kembali tangannya dari genggaman lelaki itu. "Heh, aku kira kamu sudah kembali ke kotamu, tapi ternyata kamu masih di sini. Aku yakin, kamu penasaran juga 'kan siapa yang akan menjadi calon pengantinnya Erlan," kesal Olivia dengan senyuman sinis tersungging di wajahnya.
"Sebenarnya tidak juga. Aku bahkan tidak tahu bahwa hari ini mantan suamimu mengadakan pesta pernikahan di tempat ini. Kebetulan aku melihat banner wedding milik Erlan di depan dan setelah ku cek, ternyata benar."
Olivia memutarkan bola matanya setelah mendengar jawaban dari Edgar dan kemudian ia pun kembali melangkahkan kakinya menghampiri pintu ballroom.
Ternyata benar, apa yang dikhawatirkan oleh Edgar akhirnya terjadi. Olivia kehilangan kendalinya dan wanita itu melampiaskan kemarahannya dengan menghancurkan beberapa banner wedding milik Erlan yang berjejer di depan ruangan tersebut.
Mendengar suara keributan yang terjadi di depan ruangan itu, Sean segera keluar dan mengecek apa yang sedang terjadi di sana. Sean pun marah ketika melihat beberapa banner wedding milik Erlan rusak parah. Sedangkan Edgar dan beberapa penjaga keamanan mencoba mengamankan Olivia yang seperti orang kerasukan.
"Sudah, Olivia! Cukup," ucap Edgar yang kini tidak bisa menahan kekesalannya terhadap wanita itu.
"Heh, Sean! Katakan pada Tuanmu itu bahwa aku ada di sini, cepat!" titah Olivia dengan air mata kekesalan yang kini mengalir membasahi kedua pipinya.
"Tuan sudah tidak ingin berurusan denganmu lagi, Nona Olivia. Dan sampai jumpa di persidangan," sahut Sean sambil menyeringai licik.
"Tidak akan, aku tidak akan pernah membiarkan Erlan menceraikan aku. Kamu ingat itu, Sean!" teriaknya.
"Biar aku yang mengurusnya, Tuan Sean." Edgar menarik paksa tubuh Olivia agar menjauh dari ruangan itu.
"Ya, sebaiknya begitu. Saya tidak ingin terjadi kekerasan di sini," sahut Sean dengan wajah datar, sembari memperhatikan Edgar yang kini membawa Olivia pergi menjauh.
"Lepaskan aku, Edgar! Kalau tidak, aku akan berteriak dengan keras bahwa kamu ingin melakukan hal yang tidak senonoh padaku," ucap Olivia dengan kesal.
Edgar tersenyum tipis. "Lakukan saja, aku tidak takut. Paling-paling nantinya kita akan digrebek kemudian dinikahkan. Apa kamu memang menginginkan hal itu, Olivia?"
"Apa?! Yang benar saja! Hiyy, amit-amit jabang bayi!" sahut Olivia sembari mengetuk pelan kepalanya sendiri.
Sementara itu di dalam ruangan pesta.
"Selamat, Tuan Erlan."
Sepasang suami istri sedang menghampiri Erlan dan Alina yang kini tengah asik menyambut para tamu yang ingin bersalaman serta mengucapkan selamat untuk mereka.
"Wah, terima kasih banyak, Tuan Agung. Karena sudah menyempatkan diri untuk datang ke pesta pernikahanku yang sederhana ini," sahut Erlan sembari menyambut uluran tangan Pak Agung.
"Sama-sama, Tuan. Oh ya, kenalkan. Ini istri saya, Bu Kirana." Pak Agung memperkenalkan sang istri kepada Erlan dan wanita itu pun mengulurkan tangannya kepada Erlan serta Alina.
Setelah selesai bersalaman dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, pasangan suami istri itupun segera kembali ke tempat duduk mereka dan kembali menikmati kemeriahan pesta yang masih berlangsung.
"Oh ya, Sayang. Apa kamu kenal sama mereka? Mereka juga berasal dari kota X, sama seperti dirimu, loh!" ucap Erlan sembari merengkuh pundak Alina yang masih terdiam sambil memperhatikan wajah pasangan itu dari kejauhan.
Tentu saja Alina mengenali mereka. Mereka adalah kedua orang tua Chandra. Namun, Alina tidak ingin menceritakan hal itu lebih jauh lagi kepada Erlan. "Kenapa Bapak itu memanggilmu dengan sebutan 'Tuan', Mas? Apakah jabatan Bapak itu berada di bawahmu," tanya Alina.
"Pak Agung baru saja diangkat menjadi Manager Marketing di perusahaan dan kinerjanya lumayan bagus. Pak Agung juga salah satu orang kepercayaanku," sahut Erlan.
"Oh, begitu." Alina yang tidak terlalu mengerti soal perusahaan, hanya bisa ber 'Oh' ria.
"Mas," sambung Alina sembari menatap wajah Erlan yang terus menyunggingkan senyuman hangatnya kepada seluruh tamu undangan.
"Ya, Sayang." Erlan membalas tatapan Alina dan menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Istri kecilnya itu.
"Sebenarnya aku merasa sangat tidak nyaman berada di sini, Mas. Aku merasa semua orang seolah-olah terus memperhatikan perut buncitku," lirih Alian sambil menunduk memperhatikan perutnya yang terlihat membulat walaupun sudah tertutup dengan gaun kebaya pengantin.
Erlan terkekeh pelan mendengar penuturan istri kecilnya itu. "Tidak usah menghiraukan mereka, Alina sayang. Sekarang kamu tatap aku. Anggap saja mereka semua itu hanyalah bayang-bayang dan yang ada di sini hanyalah kamu, aku dan calon bayi kita," sahut Erlan sembari mengelus lembut perut Alina.
Alina memeluk tubuh besar Erlan kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang lelaki itu.