My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Sidang Perceraian



Olivia masuk ke dalam kamarnya dan mengunci diri di sana sambil memikirkan soal lamaran Edgar. Ia duduk di tepian tempat tidur sembari memperhatikan kotak perhiasan cantik yang baru saja diberikan oleh Edgar kepadanya.


"Keputusan seperti apa yang harus kuambil sekarang? Apakah aku harus tetap teguh pada pendirianku untuk mempertahankan pernikahanku bersama Erlan atau ... menerima lamaran Edgar kemudian mencoba menjalani kehidupan baru bersama lelaki itu?" gumam Olivia dengan wajah kusut.


Olivia membuka kotak perhiasan itu dan tampaklah sebuah cincin emas dengan berhiaskan berlian di atasnya. Wanita itu meraih cincin tersebut kemudian memperhatikannya dengan seksama.


Kilauan dari berlian tersebut bersinar-sinar ketika terkena cahaya dan membuat cincin itu terlihat semakin cantik. Olivia sempat terdiam sejenak, kemudian ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri lemari, di mana ia menyimpan koleksi perhiasannya.


Ia membuka kotak perhiasan miliknya yang berukuran cukup besar kemudian meraih sebuah cincin berlian yang berukuran jauh lebih besar dan lebih cantik dari pada cincin pemberian Edgar.


Setelah menutup kembali kotak perhiasan tersebut, Olivia kembali ke posisinya semula dengan membawa kedua cincin berlian itu di tangannya. Ia meletakkan kedua cincin itu di atas tempat tidur kemudian memperhatikannya sambil tersenyum getir.


"Satu milik Erlan dan satunya milik Edgar. Aku tidak tahu yang mana di antara kalian berdua, yang pantas melingkar di jari manisku ini," gumam Olivia.


"Jika aku memilih mempertahankanmu, itu artinya aku harus siap berbagi suami bersama gadis itu dan mau tidak mau, aku harus siap sakit hati setiap waktu." Olivia menunjuk cincin berlian pemberian Erlan yang masih ia simpan sampai saat ini. Cincin berlian yang jauh lebih besar dan lebih cantik dari pada milik Edgar.


"Namun, jika aku memilihmu!" Olivia menunjuk cincin pemberian Edgar barusan. "Itu artinya aku harus melupakan impian terbesarku selama ini."


Wajah Olivia bertambah kusut. Ia menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur dengan posisi terlentang. Tatapan Olivia menerawang menatap langit-langit ruangan itu.


"Ya, Tuhan! Berikan aku jawaban, keputusan apa yang harus aku ambil sekarang," gumamnya.


Beberapa hari kemudian.


Hari ini Olivia bersiap-siap untuk pergi ke pengadilan agama untuk memenuhi panggilan sidang keputusan cerainya bersama Erlan. Ya, setelah beberapa kali Olivia menolak hadir, hari ini ia memutuskan untuk berhadir dan mendengarkan keputusan cerainya bersama Erlan.


"Huft! Aku pasti bisa!" gumam Olivia.


Setelah beberapa hari ia berperang melawan batinnya sendiri, akhirnya Olivia memutuskan untuk melupakan Erlan. Ya, sebenarnya sudah sejak lama Olivia menyadari bahwa dirinya memang tidak memiliki kesempatan untuk bersama lelaki itu. Namun, egonya terlalu besar hingga mengalahkan akal sehatnya.


Setelah yakin bahwa hatinya sudah cukup kuat untuk menghadapi sesuatu yang akan terjadi hari ini, Olivia pun bergegas memasuki mobilnya dan melaju ke tempat tersebut.


Setelah beberapa puluh menit kemudian, Olivia tiba di tempat tersebut. Selesai memarkirkan mobilnya, Olivia bergegas masuk dan ternyata semua orang sudah berkumpul di sana.


Pertama kali ia memasuki ruangan itu, matanya langsung tertuju pada seorang laki-laki yang begitu mencuri perhatiannya. Siapa lagi kalau bukan Erlan. Namun, sayangnya Erlan tidak sama sekali tidak menghiraukannya.


Setelah duduk di kursinya, Olivia memilih untuk tidak memperhatikan lelaki itu lagi. Ia mengalihkan pandangannya bahkan hingga acara persidangan itu berlangsung.


Sidang itu berjalan lancar, tidak ada kendala apapun dan Olivia mengikutinya seperti air mengalir. Ia tidak lagi protes, tidak lagi penolakan dan hanya mengikuti alur yang tercipta di ruangan tersebut.


Bahkan Erlan dan Sean pun tampak bingung melihat ekspresi Olivia yang lebih tenang dari biasanya. "Olivia tampak lebih tenang dari biasanya, apa kamu juga berpikiran sama sepertiku, Sean?"


Sean menganggukkan kepalanya. "Ya, Tuan. Ada yang aneh pada Nona Olivia hari ini tapi semoga dia baik-baik saja," sahut Sean.


Setelah beberapa jam kemudian, sidang keputusan cerai itu pun selesai. Akhirnya Olivia dan Erlan resmi bercerai. Setelah semua orang bubar, Olivia mencoba menghampiri Erlan dan Alina yang sedang berjalan menuju mobil mereka.


"Erlan!" panggil Olivia.


Erlan dan Alina segera menoleh kepada Olivia dan memperhatikannya dengan seksama.


"Ada apa, Olivia?" tanya Erlan heran.


Olivia menghentikan langkahnya tepat di hadapan Erlan dan Alina. Ia memperhatikan pasangan itu sambil tersenyum hangat. Alina yang terlihat sangat cantik serasi dengan Erlan yang terlihat gagah dengan setelan jas mahalnya.


"Aku hanya ingin mengembalikan ini padamu," sahut Olivia seraya meraih tangan Erlan kemudian meletakkan cincin pernikahannya ke atas telapak tangan Erlan.


"Apa ini, Olivia? Cincin ini milikmu, ambillah kembali!" sahut Erlan dengan wajah bingung menatap Olivia.


"Tidak. Cincin itu bukan milikku, Erlan. Karena aku sudah memiliki cincin lain." Olivia menyunggingkan senyuman manisnya kepada pasangan itu seraya memperlihatkan sebuah cincin yang kini melingkar di jari manisnya.


"Lihatlah!" sambung Olivia.


"Wow! Selamat ya, Olivia. Semoga kamu bahagia." Erlan tersenyum seraya mengulurkan tangannya kepada Olivia.


"Terima kasih, kalian juga ya! Semoga kalian selalu bahagia," sahut Olivia sembari menyambut uluran tangan Erlan.


Setelah saling mengucap selamat, Olivia pun memutuskan untuk kembali dengan hati dan perasaan yang bercampur aduk. Tidak semudah itu melupakan seseorang yang di sayang. Namun, demi kebaikan dirinya sendiri, Olivia berusaha ikhlas menerima semuanya.


...***...