
"Nyonya Kirana memberikan kesempatan kepada Anda untuk bertemu dengannya, jadi gunakanlah kesempatan ini sebaik-baiknya. Jika Anda kembali membuat keributan di tempat ini, maka saya tidak akan segan-segan menyeret Anda dengan kasar!" ucap Penjaga keamanan kepada Bu Dita yang masih berdiri di depan gerbang.
"Ya, ya! Aku berjanji, aku tidak akan membuat keributan," sahut Bu Dita dengan wajah semringah. Wanita itu terlihat begitu bahagia karena Bu Kirana bersedia meluangkan waktu untuk menemuinya.
"Baiklah, sekarang ikuti saya," titah penjaga keamanan seraya melangkahkan kakinya menuntun Bu Dita kembali memasuki rumah megah itu
Setibanya di ruang utama, Bu Dita langsung melemparkan senyuman hangatnya untuk Bu Kirana. Namun, wanita itu enggan membalas senyuman Bu Dita. Ia malah menatap Bu Dita dengan tatapan penuh curiga.
"Mau apa lagi kamu ke sini, hah?" ketusnya.
Bu Dita masih berdiri di depan wanita itu karena Bu Kirana tidak mengizinkannya untuk duduk. "Sebenarnya aku ingin membicarakan masalah Chandra dan Imelda, Bu Kirana."
Wanita itu memasang wajah malas walaupun sebenarnya ia sudah menduga apa yang akan dibicarakan oleh Bu Dita kepadanya.
"Sebaiknya cepat katakan dan tidak usah bertele-tele."
"Begini Bu Kirana, saat ini Imelda sedang sakit. Ia bahkan tidak ingin menyentuh makanannya barang sedikitpun. Kasihanilah dia, Bu. Bukan hanya satu nyawa yang sedang terancam, tetapi ada dua nyawa, Imelda dan bayinya. Aku yakin Bu Kirana pasti mengerti bagaimana perasaanku saat ini, karena kita sesama wanita, sama-sama seorang Ibu."
Bu Dita sudah tidak mampu menahan air matanya. Ia terisak ketika mengucapkan hal itu kepada Bu Kirana. Sedangkan reaksi wanita itu nampak biasa-biasa saja saat itu.
"Memangnya kamu ingin aku melakukan apa? Membujuk anakmu agar mau makan, begitu?" ketusnya.
"Bukan, Bu. Tapi ... saya mohon, bujuklah Chandra agar ia mau bertanggung jawab kepada Imelda. Saat ini hanya Chandra lah satu-satunya harapan putriku, Bu."
"Loh? Apa kamu sudah lupa, Bu Dita? Bukankah suamimu yang sombong itu bilang bahwa kalian sanggup merawat bayi itu tanpa bantuan dari kami?! Lalu kenapa sekarang kamu malah mengemis dan memohon bantuan kepadaku?"
"Aku mohon, Bu Kirana. Maafkan semua kesalahan kami, khususnya untuk suamiku. Dan hari ini aku sebagai Ibunya Imelda, mengharapkan sedikit Iba dari seluruh keluargamu. Terutama darimu, yang juga sebagai seorang Ibu."
Karena Bu Kirana tidak juga bereaksi, Bu Dita pun terpaksa menjatuhkan dirinya di depan wanita itu. Ia rela bersimpuh dan memohon sedikit belas kasihan. Urat malu Bu Dita sudah putus, saat ini yang ada di pikirannya hanyalah keselamatan Imelda.
"Kumohon, Bu Kirana," lirihnya.
"Heh, kasihan sekali kamu." Bu Kirana tersenyum sinis kemudian berteriak memanggil salah satu pelayannya. Ia meminta pelayan tersebut untuk memanggil Chandra yang masih berada di dalam kamarnya.
Tidak berselang lama, Chandra pun keluar dari kamar kemudian duduk di samping Bu Kirana dengan wajah bantalnya.
"Apaan lagi sih, Mami?" Chandra memasang wajah masam, apalagi setelah ia melihat Bu Dita yang masih bersimpuh di hadapan Ibunya.
Chandra tersenyum sinis. "Memangnya apa yang dia inginkan, Mih?"
"Pertanggung jawaban darimu, Chandra," sahut Bu Kirana.
"Apa?!" pekik Chandra. "Jadi, Mami ingin aku bertanggung jawab atas kehamilan Imelda, begitu? Tidak, aku tidak mau, Mih! Enak saja, memangnya siapa yang suruh jadi cewek murahan," ketus Chandra sambil menyilangkan tangannya ke dada.
Hati Bu Dita terasa dicabik-cabik mendengar pernyataan Chandra saat itu. Apalagi lelaki itu sudah menyamakan anak perempuannya dengan wanita murahann. Namun, seperih apupun hatinya saat itu, Bu Dita tetap bertahan dan berharap Chandra bersedia bertanggung jawab terhadap Imelda.
"Ih, sini dulu ... Mami jelaskan," ucap Bu Kirana seraya membawa Chandra ke tempat yang jaraknya lumayan jauh dari Bu Dita.
Dari kejauhan, nampak Bu Kirana dan Chandra tengah bicara dengan sangat serius. Mereka bahkan sempat berdebat sengit karena Chandra tidak setuju dengan keinginan Sang Mami.
Bu Dita terus memperhatikan Ibu dan anak tersebut hingga akhirnya pembicaraan mereka pun selesai. Mereka kembali ke sofa, di mana Bu Dita masih bersimpuh di hadapannya. Jika wajah Bu Kirana terlihat semringah, berbeda dengan Chandra yang kini menekuk wajahnya dengan sempurna.
"Bagaimana, Bu?" lirih Bu Dita dengan wajah harap-harap cemas."
"Baiklah, kami memberi kesempatan untukmu, Bu Dita. Tapi, ada syaratnya!"
"Apa syaratnya, Bu?" tanya Bu Dita dengan sangat antusias.
"Aku tidak ingin mengeluarkan biaya sepeser pun. Semuanya kamu yang urus," ucap Bu Kirana.
"Dan satu lagi! Aku ingin pernikahan ini dilakukan secara siri saja! Jika tidak setuju, ya sudah, tidak jadi. Tidak masalah juga buatku," sela Chandra, masih dengan wajah kesalnya.
"Jangan lupa kasih rumah serta alat transportasi baru untuk Chandra dan Imelda. Jika kamu tidak sanggup memberikannya, sebaiknya lupakan saja semuanya!" lanjut Bu Kirana.
"Ya, Tuhan. Mereka masih sempat berpikir untuk memerasku. Padahal saat ini kami lah pihak yang sangat dirugikan," batin Bu Dita.
Bu Dita pun terpaksa menganggukkan kepalanya. Walaupun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa di permainkan oleh keluarga Pak Agung, tetapi demi Imelda apapun ia lakukan. Walaupun ia harus kehilangan seluruh harta bendanya.
"Baiklah, aku setuju."
...***...
Maaf 🙏🙏🙏, buat Readers yang tidak suka cerita Imelda, bisa diskip ya! Soalnya Author gak bisa skip cerita Imelda, nanti kisahnya ngambang 😅 Maafkan Aurhor sekali lagi 🙏🙏🙏