
Sementara itu di kediaman baru Imelda.
Seperti permintaan Bu Kirana dan Chandra sebelumnya, Bu Dita menyediakan rumah serta mobil baru untuk Chandra dan Imelda. Bu Dita bahkan rela menghabiskan uang simpanannya bertahun-tahun hanya untuk menuruti kemauan mereka demi kebahagiaan sang buah hati.
Namun, di kediaman barunya, bukan menjadi lebih baik, kehidupan Imelda malah semakin miris. Chandra semakin berani memperlakukan dirinya dengan semena-mena, tanpa mempedulikan bagaimana perasaan Imelda saat itu.
"Chandra, kamu mau kemana lagi? Kamu 'kan baru saja tiba, masa sekarang kamu pergi lagi?!" protes Imelda dengan wajah kusut menatap Chandra.
Imelda sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya terhadap lelaki itu. Ia menarik tangan Chandra dengan kasar dan menatapnya lekat, seolah meminta penjelasan kepada lelaki itu.
Padahal Chandra baru saja tiba tadi pagi setelah semalaman penuh tidak pulang ke rumah. Setelah mandi dan berpakaian rapi, lelaki itu kembali bersiap-siap untuk pergi lagi.
"Lepaskan tanganku!" bentaknya.
Chandra menarik kembali tangannya dengan kasar bahkan tanpa sengaja tangan Chandra mengenai wajah Imelda hingga wanita itu memekik kesakitan.
"Chandra, sakit!" Imelda mengelus wajahnya dengan mata berkaca-kaca.
Namun, bukannya kasihan kepada Imelda, Chandra malah semakin kesal. "Kamu dengar ya, Imelda. Bukankah aku sudah pernah bilang sebelumnya kepadamu bahwa jangan pernah ikut campur dengan urusanku! Jika kamu berani macam-macam padaku maka aku tidak akan segan-segan meninggalkanmu. Camkan itu!" ancam Chandra dengan mata membulat menatap Imelda.
Imelda terisak mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya. Padahal saat ini ia butuh kasih sayang dan perhatian dari Chandra sebagai seorang suami sekaligus Ayah dari bayi yang sedang berada di dalam kandungannya.
Setelah puas membuat Imelda merasa tertekan, Chandra pun segera pergi meninggalkan tempat itu dan kembali melaju bersama mobil barunya.
Imelda berlari ke kamarnya kemudian menangis di atas tempat tidur dengan posisi meringkuk. Ia memeluk erat perutnya yang kini sudah mulai terlihat membesar.
"Ya Tuhan! Apakah ini balasan atas perbuatanku selama ini terhadap Alina? Jika itu benar, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Imelda di sela isak tangisnya.
Imelda teringat akan masa kecilnya bersama Alina. Ketika mereka selalu bersama-sama kemana pun mereka pergi. Bermain air, hujan-hujanan serta berlarian kesana-kemari. Bahkan tidak jarang Imelda diajak makan nasi uduk bersama Alina dan mendiang Bu Nadia di rumah sederhana milik Alina.
Namun, hanya karena hadirnya seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti Chandra, persahabatan yang mereka bangun sejak masih kecil, harus hancur tak bersisa.
"Maafkan aku, Alina ...." Tangis Imelda semakin keras dan ia benar-benar menyesali perbuatannya selama ini.
Perut Imelda berbunyi dan menuntut haknya untuk segera diisi. Ia terbangun ketika merasakan perih di perutnya karena rasa lapar yang sudah tidak tertahankan.
Sambil memegang perutnya yang lapar, Imelda mencoba bangkit dari tempat tidur. Akibat menangis hingga berjam-jam, sekarang mata Imelda terlihat membengkak dan sembab. Ia memperhatikan jam dinding yang menempel di dinding kamarnya dan Imelda baru sadar kalau sekarang sudah pukul 20.00.
"Pantas saja perutku terasa sakit, ternyata sudah malam dan aku bahkan belum menyentuh makanan sedikitpun sejak tadi pagi," gumam Imelda sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
Imelda berniat menuju dapur dan ingin meminta pelayan menyiapkan makan untuknya. Namun, langkah Imelda terhenti tepat di depan pintu kamar kedua yang kini di tempati oleh Chandra.
Ya, Imelda dan Chandra memang berstatus suami dan istri, tetapi lelaki itu memutuskan untuk tidur dengan kamar terpisah. Imelda di kamar pertama dan Chandra di kamar ke dua.
Langkah Imelda terhenti ketika mendengar suara desahann dari ruangan kamar tersebut. Desahann yang saling bersahutan antara suara laki-laki dan perempuan. Sesekali terdengar suara rintihan kenikamatan yang keluar dari bibir mereka.
"Hhhsssttt, akhh!"
"Terus, Sayang! Akhhh!"
"Eumm ... lebih cepat!"
"Hhhsssttt ... akhhh!"
Telinga Imelda terasa sangat panas, seolah-olah terbakar dengan hebatnya setelah mendengar suara-suara mengerikan dari dalam kamar tersebut. Apa lagi hatinya, dadanya bahkan ikut panas membara.
Dengan lutut bergetar, Imelda mendekati pintu kamar tersebut kemudian mencoba membuka pintu tersebut. Namun, ternyata pintunya dikunci dari dalam kamar karena Sang penghuni kamar tidak ingin kegiatan mereka di ganggu.
"Chandra, buka pintunya! Dasar lelaki brengs*k!!!" teriak Imelda dengan lantang sambil menggedor-gedor pintu kamar tersebut.
Penghuni ruangan itu sempat menghentikan aksinya untuk sesaat. Namun, lelaki itu membujuk Sang Kekasih agar meneruskan kegiatan mereka tanpa mempedulikan teriakan Imelda.
"Biarkan saja, anggap angin lalu. Lakukan lagi, Sayang. Tanggung ini," rayu lelaki itu sambil tersenyum nakal kepada wanita yang sedang berada di atas tubuhnya.
...***...