
Di saat Dokter masih menyuntikkan obat bius tersebut, Imelda kembali berontak dan ia pun berhasil melepaskan cengkeraman Chandra darinya.
Setelah berhasil lepas, Imelda sontak berlari dari ruangan itu dengan cepat. Apalagi pintu ruangan itu masih terbuka dan dengan mudahnya Imelda pun lolos.
Chandra dan yang lainnya mencoba mengejar Imelda, tetapi gadis itu ternyata berlari lebih cepat dari mereka. Baru saja Chandra keluar dari ruangan praktek Dokter tersebut, ternyata Imelda sudah berteriak-teriak meminta tolong kepada warga sekitar.
Melihat hal itu, Chandra pun memutuskan untuk kembali dan mengajak kekasihnya untuk pergi dari tempat itu sebelum mereka ketahuan oleh warga. Sedangkan Sang Dokter dan Perawat segera menutup tempat praktek mereka sebelum warga datang dan mengamuk tempat mereka.
"Kamu kenapa, Mbak?" tanya warga sekitar yang ingin menolong Imelda.
Imelda mencoba menjelaskan semuanya, tetapi baru saja ia ingin bercerita tiba-tiba saja tubuhnya mulai melemah. Ternyata obat bius yang disuntikkan oleh Dokter itu mulai bereaksi. Imelda pun jatuh ke tanah dan tidak sadarkan diri.
Para warga yang berkumpul di sana, segera menolong Imelda kemudian membaringkan tubuh lemah gadis itu ke atas teras salah satu warga. Salah seorang warga memberanikan diri membuka tas ransel milik Imelda dan mencari informasi lengkap tentang gadis itu.
Akhirnya orang itu menemukan KTP milik Imelda dan ia berencana mengantarkan gadis itu kembali ke kediaman orang tuanya. Setibanya di tempat itu, Bu Dita dan Pak Heri begitu shok melihat keadaan putri semata wayang mereka.
"Imelda, kamu kenapa, Nak?" Bu Dita menepuk-nepuk kedua pipi Imelda dan berharap anak gadisnya itu segera sadar.
"Kenapa anak kami jadi seperti ini, Pak?" tanya Pak Heri kepada salah seorang warga yang sudah membantu Imelda.
"Kami tidak tahu, Pak. Tiba-tiba saja dia berlari ketakutan sambil meminta tolong kepada kami. Dan setelah kami bertanya, dia malah jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri."
Setelah Imelda dibawa masuk ke dalam rumahnya, para warga yang membantunya pun segera pamit dan kembali ke kediaman mereka masing-masing.
Setelah beberapa saat akhirnya Imelda pun sadar. Ia memijit kepalanya yang masih sakit sambil memperhatikan sekeliling ruangan itu.
"Astaga, di mana aku?" gumam Imelda.
"Kamu sedang berada di kamarmu, Imelda Sayang. Dan ini Ibu," sahut Bu Dita sembari mengelus lembut puncak kepala Imelda.
Imelda menatap Bu Dita dengan mata berkaca-kaca kemudian ia bangkit dan memeluk tubuh Ibunya itu dengan erat.
"Maafkan Imelda, Bu. Imelda sudah melakukan kesalahan besar," ucap Imelda di sela isak tangisnya.
Bu Dita kebingungan mendengar penuturan anak gadisnya itu. "Kesalahan besar? Apa maksudmu, Nak? Ibu tidak mengerti,"
"Bu, saat ini Imelda tengah hamil dan Chandra sama sekali tidak ingin bertanggung jawab atas bayi yang sedang Imelda kandung," tutur Imelda.
Dengan wajah memerah, lelaki paruh baya itu menghampiri Imelda yang masih duduk berselonjoran di atas tempat tidur. Imelda nampak ketakutan dan wajahnya seketika memucat.
"Katakan sekali lagi, Imelda!" tegas Pak Heri yang masih bisa menahan amarahnya.
"Ma-maafkan Imelda, Ayah," ucap Imelda dengan bibir bergetar. Ia benar-benar ketakutan melihat wajah sang Ayah yang terlihat begitu menakutkan. Dan ini pertama kalinya bagi Imelda melihat wajah Pak Heri semenakutkan itu.
Plakkk!
Tiba-tiba saja sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Imelda. Pipinya memerah dan nampak jelas jejak telapak tangan Pak Heri di sana. Imelda meringis sambil memegang pipinya yang terasa sakit.
"Sudahlah, Pak. Biarkan dia menjelaskan semuanya," lirih Bu Dita sambil terisak.
Wanita itupun tak kalah shoknya mendengar penuturan Imelda. Namun, ia mencoba tetap tenang walaupun saat ini hatinya hancur berkeping-keping. Ia memeluk tubuh Pak Heri dan mencoba menenangkan suaminya itu.
"Tidak bisa, Bu! Anak ini sudah mencoreng muka kita sebagai kedua orang tuanya. Lalu, apa yang akan dikatakan oleh orang-orang jika mereka tahu bahwa Imelda hamil di luar nikah?!" kesal Pak Heri.
"Sudahlah, Pak. Sekarang Bapak keluar dulu, biar Ibu yang bicara sama Imelda," ucap Bu Dita dengan tubuh gemetar menuntun Pak Heri keluar dari kamar tersebut.
"Hah, terserah! Bapak sudah pusing."
Pak Heri melangkahkan kaki jenjangnya dengan cepat keluar dari ruangan itu. Sedangkan Bu Dita kembali menghampiri Imelda yang masih terisak di atas tempat tidurnya.
"Kamu tidak apa-apa 'kan, Nak?" ucap Bu Dita seraya meraih tangan Imelda yang masih mengelus pipinya.
Imelda menggelengkan kepalanya pelan, tetapi bibirnya masih kelu. Ia masih shok melihat kemarahan Sang Ayah yang membuatnya sangat ketakutan.
"Sekarang ceritakan pada Ibu apa yang sebenarnya terjadi, Imelda. Biar kita bisa memecahkan masalah ini bersama-sama," tutur Bu Dita sambil mengelus pipi Imelda yang masih memerah akibat pukulan Pak Heri.
Imelda pun mulai menceritakan semuanya. Sejak awal Chandra berjanji akan menikahinya hingga kejadian di tempat praktek Dokter Kandungan yang baru saja terjadi.
Bu Dita menggelengkan kepalanya sambil terisak. Ia tidak percaya bahwa Chandra memperlakukan anak gadisnya dengan begitu kejam.
"Kita harus segera menemui Ayah dan Ibu Chandra, Imelda. Kita harus minta pertanggung jawaban mereka sebagai kedua orang tuanya," ucap Bu Dita dengan emosi yang sudah berada di puncak kepalanya.
...***...