My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Kehamilan Simpatik



Sama seperti dulu, hari ini pun Dokter Irfan dibuat kebingungan oleh penyakit yang di derita oleh Erlan.


"Lain kali kalau lelaki ini jatuh pingsan dengan ciri-ciri sakit yang seperti sekarang ini, sebaiknya jangan hubungi aku lagi, Tuan Sean!" tutur Dokter Irfan tiba-tiba dengan wajah yang menekuk sempurna.


Sean dan Erlan sontak menatap ke arah Dokter Irfan dengan wajah heran. "Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Erlan.


"Lah, kalau aku bilang bahwa kondisi kamu saat ini sedang baik-baik saja, pasti kamu tidak percaya. Benar 'kan?!" sahut Dokter Irfan dengan wajah malas menatap Erlan.


Erlan tertawa pelan sambil memijit kepalanya yang sakit. "Ya, Tuhan! Jadi, hari ini pun kamu ingin bilang kepadaku bahwa aku baik-baik saja, begitu?" ucap Erlan.


"Ya, memang seperti itu kenyataannya, mau bagaimana lagi? Aku pun bingung bagaimana cara menjelaskannya. Begini saja, sebaiknya tanya istrimu dan minta dia melakukan test kehamilan. Jika hasilnya positif, itu artinya kamu sedang mengalami kehamilan simpatik. Namun, jika hasilnya negatif, maka aku akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut kepadamu," jawab Dokter Irfan sambil menghembuskan napas berat.


Tiba-tiba Erlan terdiam sejenak dengan wajah serius. Sepertinya lelaki itu tengah berpikir keras setelah mendengar penuturan dari Dokter Irfan. "Jadi, menurutmu sakitku ini ada hubungannya dengan istriku, begitu? Tapi, rasanya tidak mungkin jika saat ini istriku tengah hamil," ucap Erlan dengan wajah tampak bingung.


"Ya, dicoba saja, Erlan. Tidak ada salahnya juga 'kan? Soalnya aku juga pernah mengalami hal ini, itu sebabnya aku berani mengambil kesimpulan bahwa sakit yang kamu alami saat ini memang ada hubungannya dengan kehamilan istrimu," sahut Dokter Irfan.


Erlan mencoba mengingat-ingat kejadian dulu, di mana ia juga jatuh pingsan tanpa sebab yang jelas dan Dokter Irfan pun kebingungan dengan sakit yang di alami olehnya.


"Sebentar-sebentar!" ucap Erlan.


Erlan menghitung-hitung tanggal kelahiran Putranya, Baby Arkana dan kejadian pertama kali ia jatuh pingsan dengan sakit yang sama seperti saat ini. Tiba-tiba Erlan mengusap wajahnya kemudian menatap Sean yang masih setia berdiri di samping tempat tidur.


"Aku rasa apa yang dikatakan oleh Dokter Irfan ada benarnya, Sean. Coba kamu ingat-ingat kejadian di mana aku jatuh pingsan pertama kali, kemungkinan besar pada saat itu Alina tengah mengandung Baby Arkana. Jadi, apa mungkin saat ini Alina tengah hamil?" tutur Erlan.


"Ha! Benar 'kan!" pekik Dokter Irfan sambil tertawa lebar. Sedangkan Sean tampak kebingungan karena saat ini istrinya tengah hamil dan ia baik-baik saja.


"Saat ini istri saya juga sedang hamil, Dok, dan kenapa saya baik-baik saja?" tanya Sean kepada Dokter Irfan.


"Jadi, menurut Anda saya tidak istimewa, begitu?" gerutu Sean.


"Maaf, maaf! Saya hanya bercanda, Tuan Sean. Jangan diambil hati," ucap Dokter Irfan sambil tertawa lepas setelah melihat wajah Sean yang terlihat menekuk sempurna. Bukan hanya Dokter Irfan, Erlan pun ikut terkekeh sambil menahan rasa sakit di kepalanya.


Sementara itu di kediaman Sean.


Alina dan Imelda tengah berkumpul bersama bayi-bayi mereka di ruang utama kediaman Sean. Alina yang sedang menggendong Baby Arkana dan Imelda yang juga sedang menggendong Baby Rendra.


"Mel, aku ingin bertanya sesuatu padamu, boleh 'kan?" tanya Alina dengan ragu-ragu kepada Imelda.


"Tentu saja, Alina. Tanyakan saja," sahut Imelda.


"Ini soal kehamilanmu saat ini, Mel. Apa kamu tidak merasa khawatir karena Baby Rendra 'kan masih sangat kecil?" ucap Alina dengan wajah kusut menatap Imelda.


Imelda menautkan kedua alisnya sambil menatap wajah kusut Alina saat itu. "Pertama kali aku mengetahui bahwa aku tengah hamil, aku memang khawatir, sangat khawatir malah. Soalnya aku melahirkan secara cesar dan jarak kehamilanku sangat dekat. Aku menangis sehari semalam loh, Lin. Sean bahkan sampai bingung mencoba menenangkan aku," sahut Imelda sambil tersenyum mengingat kejadian itu.


"Lalu, bagaimana sekarang?" tanya Alina yang masih penasaran.


"Sekarang sudah jauh lebih baik. Aku sudah bisa menerima kehamilanku dan Dokter bilang aku dan bayiku akan baik-baik saja. Namun, dengan syarat aku harus rajin memeriksakan kondisi kandunganku. Memangnya ada apa sih, Alina? Kok, wajahmu murung begitu," tanya Imelda heran.


"Aku bingung, Mel. Coba lihatlah," ucap Alina sembari memperlihatkan test pack bergaris dua miliknya ke hadapan Imelda.


"Aakhh!" jerit Imelda sambil tersenyum lebar. "Asik, Arkana punya Adik!" jerit Imelda.


...***...