
Setelah puas berdebat dengan Dokter itu, Bu Kirana pun akhirnya menyerah dan memilih pergi meninggalkan ruangan Dokter tersebut sambil mengumpat kasar. Sedangkan Sang Dokter hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat reaksi Bu Kirana yang di luar perkiraannya.
"Kamu jangan berkecil hati, Chandra! Percayalah sama Mami bahwa kamu baik-baik saja! Dari pada kamu mempercayai ucapan Dokter itu, lebih baik kita cari Dokter lain yang perkataannya bisa dipercaya!" kesal Bu Kirana sambil melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa karena ia benar-benar muak berada di tempat itu.
"Dokter yang mana lagi, Mi? Bukankah Mami sudah tahu bahwa Rumah Sakit ini adalah Rumah sakit terbaik dan terlengkap di kota ini. Dokternya pun adalah Dokter-Dokter pilihan, kenapa Mami masih ingin mencari Dokter lain?" sahut Chandra yang sudah mulai lelah melihat Maminya yang terlalu keras kepala.
Tiba-tiba saja Bu Kirana menghentikan langkah kakinya yang tergesa-gesa. Ia terdiam dan mematung tepat di hadapan Chandra dengan posisi membelakangi anak lelakinya itu. Tubuh Bu Kirana terlihat bergetar. Hingga akhirnya ia pun berbalik menghadap Chandra dengan air mata yang kini mengalir di kedua belah pipinya.
"Chandra! Anakku," lirih Bu Kirana sembari memeluk erat tubuh Chandra.
Chandra pun membalas pelukan Bu Kirana sambil menitikkan air mata yang sejak tadi tertahan di pelupuk matanya. "Mami, sudahlah. Aku sudah berusaha ikhlas menerima cobaan ini. Mungkin ini memang sudah sepantasnya aku dapatkan karena pergaulanku yang terlalu bebas," tutur Chandra.
"Makanya jadi orang itu jangan terlalu bodoh, Chandra! Gunakan sedikit otakmu ini!" kesal Bu Kirana. Wanita itu melepaskan pelukannya kemudian menunjuk ke kepala Chandra dengan penuh rasa kesal.
"Mami dan Daddy tidak pernah melarangmu bersenang-senang, Chandra. Tapi, gunakan sedikit otakmu yang dangkal itu! Jangan hanya memikirkan tentang kenikmatan semata hingga membuat kamu lupa dengan pengamanmu! Sekarang lihat 'kan buktinya?!" lanjut Bu Kirana sembari menyeka air matanya.
"Maafkan aku, Mi."
"Terlambat, Chandra! Semuanya sudah terlambat! Sekarang, bagaimana cara Mami menyampaikan berita buruk ini kepada Daddy-mu, ha?!" ucap Bu Kirana yang kembali terisak di ruangan itu.
***
Sejak dinyatakan positif mengidap penyakit HIV AIDS, Chandra berubah menjadi pribadi yang lebih pendiam. Ia hanya bicara seperlunya saja, walaupun yang mengajak bicara adalah Maminya sendiri.
Kini Chandra memutuskan untuk tinggal bersama Sang Mami di kediaman mewah mereka. Sedangkan rumahnya bersama Imelda dibiarkan kosong begitu saja.
"Chandra sayang, ini Mami, Nak!" panggil Bu Kirana yang kini berdiri di depan pintu kamar Chandra. Wanita itu sedang memegang sebuah nampan berisi makanan serta minuman untuk anak kesayangannya itu.
Perlahan Bu Kirana membuka pintu kamar tersebut dan setelah pintu terbuka, ia pun tersenyum ketika bersitatap mata bersama Chandra yang sedang duduk di pinggiran tempat tidurnya.
"Mami bawa makanan dan minuman favoritmu, Nak. Makan, yuk!"
Bu Kirana berjalan menghampiri Chandra kemudian duduk di sampingnya. "Nih, makanlah," ucap Bu Kirana seraya menyerahkan nampan berisi makanan tersebut kepada Chandra.
"Aku tidak lapar, Mi." Setelah menyambut nampan tersebut, Chandra malah meletakkannya kembali ke atas tempat tidur di samping tubuhnya.
"Chandra, tolong dengerin Mami! Apa kamu tidak dengar apa yang dikatakan oleh Dokter kemarin? Seharusnya kamu itu semangat dan jalani kehidupanmu seperti biasa. Jangan terlalu kamu pikirkan, yang ada sekarang tubuhmu semakin lemah dan penyakit lainnya pun akan dengan mudah menginfeksi tubuhmu," tutur Bu Kirana dengan wajah sedih menatap wajah pucat Chandra.
"Memang mudah saat mengucapkannya, Mi. Tapi jika penyakit itu sudah bersarang di dalam tubuh, maka akan sulit untuk tidak memikirkannya," sahut Chandra seraya membuang pandangannya ke arah jendela.
"Chandra, Mami mohon! Bersemangatlah demi Mami, Nak. Sini, biar Mami suapin, ya?" bujuk Bu Kirana dengan mata berkaca-kaca menatap Chandra.
Setelah mengambil piring berisi makanan yang tadi ia bawa, Bu Kirana pun mulai menyuapi Chandra. Semula Chandra menolak, tetapi setelah dibujuk, akhirnya ia pun bersedia membuka mulutnya. Namun, hanya beberapa suap saja, Chandra kembali menutup mulutnya.
"Sudah, Mi. Aku sudah kenyang dan ingin beristirahat." Chandra merebahkan tubuhnya kemudian menutup matanya erat.
Bu Kirana tidak bisa berkata apapun lagi. Hatinya hancur, sehancur-hancurnya ketika melihat anak kesayangannya putus asa seperti sekarang ini.
"Ya, sudah. Mami tinggal dulu, ya." Setelah mengecup puncak kepala Chandra, Bu Kirana pun segera keluar dari kamar tersebut dan membiarkan Chandra beristirahat.
...***...