My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Menjelaskan Kepada Warga Kampung



"Sekarang ceritakan pada Ibu, Imelda. Ceritakan semuanya dari awal dan jangan sampai ada yang di tutup-tutupi!" kesal Bu Dita dengan wajah memerah menatap Imelda yang masih bersimpuh di hadapannya.


"Dulu aku sangat kesal sama Alina, Bu. Karena Chandra lebih memilih mencintai Alina. Aku tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja tercetus ide jahat itu di kepalaku dan akhirnya kejadian itu pun terjadi. Dengan alasan membatunya, aku menjual Alina kepada seorang Om-om dan kami berjanji bertemu di hotel ...."


Imelda pun menceritakan semuanya kepada Bu Dita sambil terisak dan tampak jelas bahwa ia benar-benar menyesali perbuatannya. Bu Dita benar-benar marah, seandainya saja saat ini Imelda tidak sedang hamil, mungkin ia sudah menghukum Imelda secara fisik.


"Kamu benar-benar sudah keterlaluan, Imelda! Aku bahkan sampai bingung memilih hukuman apa yang pantas buatmu! Ya Tuhan, ampuni aku!" Saking kecewanya, Bu Dita bahkan kehilangan kata-kata.


"Maafkan aku, Bu!" Tangis Imelda kembali pecah dan ia memeluk kaki Bu Dita dengan sangat erat. Bahkan air mata wanita itu menetes ke punggung kaki Sang Ibu.


"Sekarang, minta maaflah pada Alina! Jika Alina memaafkanmu, maka Ibu juga akan memaafkan semua kesalahanmu, Imelda! Karena kesalahan terbesarmu adalah kepada gadis itu dan bukan Ibu!" Bu Dita mengangkat kepalanya, ia tidak ingin menatap wajah Imelda yang terlihat menyedihkan itu.


"Itu dia masalahnya, Bu. Saat ini aku tidak tahu kemana perginya Alina. Kehamilan Alina membuat ia diusir dari kampung karena seluruh warga menganggap Alina menjadi wanita malam," lirih Imelda.


Bu Dita memijit keningnya. Kepala wanita itu berdenyut-denyut dan rasanya benar-benar sakit. "Sekarang kamu bereskan kekacauan ini, Imelda. Bersihkan nama baik Alina dengan berkata jujur pada seluruh warga kampung."


Imelda menghentikan tangisnya sembari memperhatikan wajah serius Bu Dita. "Ya, Bu! Aku bersedia tapi ... kumohon temani aku, Bu. Aku takut!"


Bu Dita menghembuskan napas berat. "Baiklah," sahutnya.


Hari itu juga Imelda dan Bu Dita pergi ke kampung Alina sekali lagi. Mereka ingin mengakui kesalahan yang sudah dilakukan oleh Imelda terhadap gadis malang tersebut. Tempat pertama yang dikunjungi oleh Bu Dita dan Imelda adalah kediaman Pak RT di kampung tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak RT kepada Imelda dan Bu Dita yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya.


"Ada yang ingin kami bicarakan kepada Anda, Pak RT. Bolehkah kami meminta waktu Anda sebentar?" sahut Bu Dita.


"Oh, tentu saja, Bu. Silakan masuk," ajak Pak RT sembari membuka pintu dengan lebar dan membiarkan Imelda dan Bu Dita masuk ke dalam rumahnya.


Setelah kedua wanita itu masuk ke dalam rumah, tidak lupa Pak RT juga mempersilakan mereka untuk duduk di sofa ruang tamunya.


"Sebenarnya ada apa ya, Bu?" tanya Pak RT heran.


Tentu saja Pak RT ingat tentang kejadian itu. Para warganya bersikeras mengusir anak gadis Bu Nadia yang sedang hamil, tetapi tidak diketahui siapa Ayah dari bayi tersebut. Apalagi warga kampung, khususnya Ibu-Ibu sering melihat gadis itu mengajak laki-laki bertamu ke rumahnya.


"Ya, saya ingat. Memangnya kenapa ya, Bu?"


"Semua tuduhan yang dilemparkan oleh warga kampung tidaklah benar, Pak. Alina adalah gadis yang baik dan tujuan kami ke sini adalah untuk membersihkan nama baiknya yang sudah tercoreng."


Bu Dita mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Pak RT. Di mana Alina di jebak oleh Imelda hingga akhirnya gadis itu hamil.


"Ini semua karena kesalahan anak saya, Pak, dan bukan karena ia jual diri sama seperti yang dikatakan oleh orang-orang di kampung ini. Saya ikhlas jika seandainya Alina ingin menempuh jalur hukum karena perbuatan anak saya memang sudah sangat keterlaluan," lirih Bu Dita sambil terisak di depan Pak RT.


Sedangkan Imelda hanya bisa menangis dengan kepala tertunduk tanpa bisa berkata-kata lagi. Ia benar-benar menyesal dan siap mendapatkan hukuman apapun itu. Pak RT memperhatikan Bu Dita dan Imelda yang masih menunduk di hadapannya. Sekarang lelaki itu tahu kejadian yang sebenarnya dan akhirnya ia pun memutuskan,


"Baiklah, Bu. Hari ini kita kumpulkan para warga kampung dan kita jelaskan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi pada Alina. Sebenarnya saya pun merasa iba kepada gadis itu, tapi mau bagaimana lagi, para warga kampung di sini, khususnya Ibu-Ibu, bersikeras ingin mengusirnya dari tempat ini tanpa mempedulikan penjelasan dari gadis itu," tutur Pak RT.


"Ya, Pak, saya setuju!" jawab Bu Dita dengan sangat antusias.


Hari itu para warga kampung yang sering menuduh Alina, dikumpulkan. Pak RT dan Bu Dita menjelaskan semuanya kepada mereka. Walaupun sempat terjadi bersitegang antara Ibu-Ibu dan Pak RT karena perbedaan pendapat. Namun pada akhirnya satu persatu dari mereka mulai mengerti dan menyadari kesalahan yang telah mereka lakukan selama ini terhadap gadis yatim piatu tersebut.


Kini para warga kampung tersebut pun terdiam dengan kepala tertunduk. Rasa penyesalan pun menyelimuti hati mereka karena sudah berprasangka begitu buruk terhadap gadis itu. Padahal selama ini Alina sudah sering kali mencoba menjelaskan kepada para warga kampung, tetapi warga kampung tersebut tetap keras pada pemikiran buruk mereka.


"Tapi ... semuanya sudah terlambat, Pak RT. Kita semua bahkan tidak tahu ke mana perginya Alina. Lalu bagaimana cara kita meminta maaf kepadanya," lirih Ibu-Ibu yang sering menghina Alina tanpa saring.


"Sekarang kita berdoa saja, semoga Alina baik-baik saja dan saya masih sangat berharap semoga dia kembali ke kampung ini," sambung Pak RT.


Setelah semuanya beres, Imelda dan Bu Dita pun pamit kemudian kembali ke kediamannya.


...***...