
"Sebenarnya ...." Imelda menatap kedua orang tuanya secara bergantian dan melihat tatapan mereka yang sudah tidak lagi bersahabat, ia pun terpaksa berkata jujur.
"Ya, Chandra memang sengaja melakukannya," jawab Imelda.
"Kurang ajar!" umpat Pak Heri dengan wajah memerah.
Lelaki paruh baya tersebut bahkan mengepalkan tangannya dengan sempurna. Seandainya Chandra berada di tempat itu, mungkin Chandra akan mendapatkan bogeman mentah dari lelaki tersebut.
"Ya Tuhan, Imelda! Apa Chandra sering melakukan hal itu padamu?! Kalau ya, kita bisa laporkan dia ke pihak berwajib karena sudah melakukan kekerasan padamu," ucap Bu Dita.
"Jangan, Bu! Sebaiknya jangan lakukan itu, aku mohon! Sebenarnya aku memang sengaja menyembunyikan hal ini dari kalian karena aku merasa malu, Bu. Bukan karena aku masih mencintai lelaki itu, bukan! Aku malu jika kalian dan orang lain tahu bahwa rumah tanggaku tidak seperti rumah tangga orang lain," tutur Imelda sembari menggenggam tangan Bu Dita dengan sangat erat.
"Setelah keluar dari sini, kita akan temui Chandra. Ayah ingin dia segera menceraikanmu! Kamu tidak memerlukan lelaki itu, Imelda. Di sini masih ada kami yang akan siaga dua puluh empat jam untuk menjagamu dan juga bayimu, apakah itu tidak cukup?!" kesal Pak Heri.
Imelda menatap wajah Bu Dita dengan tatapan sendu. "Cukup, Imelda. Apa yang dikatakan oleh Ayahmu adalah benar! Kali ini Ibu mendukung apapun yang dikatakan oleh Ayahmu!" tegas Bu Dita.
Imelda terdiam, mau tidak mau ia pun harus menuruti semua keinginan kedua orang tuanya. Sebenarnya jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Imelda masih berharap Chandra bisa berubah dan kembali seperti dulu.
Paling tidak untuk bayi yang ada di dalam kandungannya. Namun, kali ini kedua orang tuanya sudah tidak bisa di ajak berkompromi dan keputusan mereka pun sudah bulat.
"Baiklah, Ayah."
Keesokan harinya.
Dokter sudah memutuskan bahwa hari ini Imelda dijadwalkan melakukan operasi cesar. Setelah berpuasa selama enam jam, Imelda pun siap dibawa ke ruang operasi.
Bu Dita dan Pak Heri yang menunggu di luar ruangan, tampak begitu cemas. Mulut mereka terus berkomat-kamit, mendoakan yang terbaik untuk Imelda beserta janinnya.
"Bagaimana jika yang dikatakan oleh Dokter benar? Bagaimana jika cucu kita lahir dengan kondisi cacat?" lirih Bu Dita kepada Pak Heri.
"Aku akan tetap menerima bayi itu apapun keadaannya, Bu. Sekalipun ia tidak seperti bayi lainnya," sahut Pak Heri.
"Ibu juga, Pak. Tapi ... bagaimana dengan Imelda? Imelda bahkan belum tahu bagaimana kondisi bayinya saat ini," lanjut Bu Dita yang kini berada di pelukan Pak Heri.
"Amin."
Beberapa jam kemudian.
Pak Heri dan Bu Dita masih berada di tempat itu. Jika Pak Heri hanya duduk diam di kursi tunggu, berbeda halnya dengan Bu Dita yang sejak tadi terus mondar-mandir di depan suaminya.
"Bu, duduklah yang tenang. Yakinlah anak kita akan baik-baik saja," ucap Pak Heri yang mulai pusing karena memperhatikan istrinya yang berjalan bolak-balik di hadapan wajahnya.
"Ibu ingin sekali mencoba tenang, Yah! Tapi perasaan Ibu tidak bisa dibohongi, saat ini Ibu takut, gugup dan cemas," sahut Bu Dita dengan wajah kusut menatap Pak Heri.
Tepat di saat itu pintu ruangan tersebut terbuka. Tampaklah seorang Dokter keluar dari ruangan tersebut. Dokter itu segera menghampiri Pak Heri dan Bu Dita.
"Bapak, Ibu, operasi hari ini berjalan dengan lancar. Ibu serta bayinya selamat. Hanya saja kondisi bayinya saat ini masih sangat lemah dan harus mendapatkan perawatan intensif."
"Benarkah itu, Dok? Cucu kami masih hidup?!" pekik Bu Dita dengan mata berkaca-kaca menatap Dokter.
"Ya, Cucu Ibu selamat. Tetapi ... seperti yang sudah saya jelaskan kepada Bapak dan Ibu sebelumnya bahwa--" Belum habis Dokter cantik itu menjelaskan bagaimana kondisi bayi Imelda saat ini, Bu Dita sudah menyela ucapannya karena wanita paruh baya tersebut sudah mengerti apa yang dimaksud oleh Dokter tersebut.
"Ya, Dok. Kami mengerti," sela Bu Dita sambil tersenyum tipis.
Dokter pun membalas senyuman Bu Dita sembari menepuk pundak wanita paruh baya tersebut dengan lembut sebagai tanda penyemangat untuknya.
"Terima kasih atas semuanya, Dok."
"Sama-sama, Bu."
...***...
Maaf banget ya pemirsahhh ... part Imelda panjang banget ini 🙏🙏🙏 mau di skip, Author gak bisa ... sekali lagi maaf ya 🙏🙏🙏