
Setelah puas menjenguk Imelda dan bayinya di Rumah sakit tersebut, Erlan mengajak Alina untuk mengunjungi makam Bu Nadia.
"Bagaimana?" Erlan menatap wajah Alina yang terlihat sendu setelah mendengar ajakannya.
Bukannya menolak mengunjungi makam Sang Ibu, tetapi Alina masih merasa trauma jika harus berhadapan dengan warga kampung. Mengunjungi makam, artinya harus siap bertemu kembali dengan para tetangga julidnya yang memiliki mulut pedas, sepedas cabe rawit. Seperti itulah yang ada di dalam pikiran Alina saat ini.
"Hei, Sayang?" Erlan memperhatikan ekspresi wajah Alina dengan seksama sambil mencoba mengingat-ingat apakah ia sudah pernah bercerita soal warga kampung kepada Alina atau belum. Erlan benar-benar lupa saat itu.
"Ya, baiklah." Walaupun sebenarnya Alina masih ragu, tetapi pada akhirnya ia pun setuju.
"Sebentar, apa aku pernah bercerita soal tetanggamu, Alina?" tanya Erlan.
"Tetanggaku? Memangnya mereka kenapa?" tanya Alina balik dengan wajah heran menatap Erlan.
"Oh, ya sudahlah."
Erlan yakin bahwa dirinya memang belum bercerita soal tetangga-tetangga julid tersebut kepada Alina. Bahkan ternyata Imelda pun tidak menyinggung masalah itu ketika di Rumah Sakit.
"Baguslah, nanti akan menjadi sebuah kejutan untuk Alina," batin Erlan.
Setelah beberapa saat, mereka pun tiba di perkampungan Alina, tepatnya di pemakaman umum yang tidak jauh dari tempat itu. Alina kembali ragu saat ingin melangkahkan kakinya keluar dari mobil tersebut.
"Ayolah, Sayang." Erlan mengulurkan tangannya ke hadapan Alina dan segera disambut oleh Alina.
"Ehm, ya. Baiklah."
Alina memperhatikan sekelilingnya dan berharap tidak akan bertemu siapapun di makam tersebut dan beruntung, memang tidak ada siapapun di tempat itu hingga Alina bisa berkunjung ke makam Ibunya dengan tenang.
Setibanya di depan makam Ibunya, Alina sempat terkejut karena makam Ibunya terlihat begitu terawat. Seingatnya, ia bahkan tidak pernah meminta siapapun untuk merawat makam Ibunya tersebut.
Alina menoleh ke samping kanan dan samping kiri makam Bu Nadia untuk memastikan bahwa dia tidak salah tuju.
"Benar kok ini, tapi ... siapa yang merawat makam Ibu, ya? gumam Alina.
"Sudah, jangan bingung. Ini Sean punya kerjaan, ia sengaja menyewa seseorang khusus untuk merawat makam Ibu," ucap Erlan sembari merengkuh pundak Alina.
"Benarkah?" Alian menengadah kepada Erlan dengan penuh haru.
"Ya," sahut Erlan.
"Terima kasih, Tuan Sean. Aku berhutang budi padamu," ucap Alina dengan mata berkaca-kaca menatap Sean yang juga ikut bersama mereka menjenguk makam Bu Nadia.
"Sama-sama, Nona."
Beberapa menit kemudian.
"Sekarang kita kemana lagi?" tanya Erlan kepada Alina ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
Alina terdiam sejenak sambil berpikir. Ia ingin sekali mengunjungi rumah sederhana miliknya, tetapi ia ragu. Alina ingin memastikan bahwa harta peninggalan orang tuanya itu baik-baik saja dan tidak dihancurkan oleh warga sekitar.
"Sebenarnya aku ingin mengunjungi rumahku, Mas. Tapi ... aku takut." Alina tertunduk sedih sambil meremass kedua jari-jemarinya secara bergantian.
"Sean, meluncur!" titah Erlan tanpa memperhatikan ekspresi Alina saat itu.
"Eh, aku belum memutuskan loh, Mas!" pekik Alina.
"Tapi, aku sudah." Erlan tersenyum kemudian memeluk tubuh Alina yang masih menatapnya dengan mata membulat.
Hanya beberapa menit dari pemakaman umum, merekapun akhirnya tiba di depan kediaman Alina. Alina sontak terkejut karena rumah sederhana miliknya berubah menjadi bangunan yang begitu megah.
Tanpa menunggu Sean membukakan pintu mobil untuknya, Alina keluar lebih dulu sambil menitikkan air matanya.
"Ini kenapa? Siapa yang sudah menjual rumahku," pekik Alina sambil terisak.
Erlan yang kini berada di belakang Alina hanya bisa tersenyum simpul seraya memperhatikan ekspresi Alina. Ternyata saat itu Alina beranggapan bahwa rumahnya sudah dijual oleh warga tanpa sepengetahuan dirinya.
"Kemarilah," ucap Erlan seraya menarik tangan Alina yang masih panik di depan rumah mewah itu.
Alina menyeka air matanya kemudian menatap Erlan yang kini menuntunnya menuju pintu rumah tersebut. Kebingungan Alina semakin bertambah karena Erlan dengan beraninya membuka pintu tersebut dan menuntunnya masuk ke dalam rumah mewah itu.
"Loh, Mas?!"
Bukannya menjelaskan yang sebenarnya kepada Alina, Erlan malah tersenyum sambil memperhatikan ekspresi wajah Istri kecilnya itu. "Bagaimana menurutmu?"
Alina memperhatikan sekeliling ruangan itu dan ia menemukan sebuah foto tua berukuran besar terpajang di dinding ruang utama bangunan tersebut.
"Ayah, Ibu!" lirih Alina dengan air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Rumahnya bagus 'kan?" tanya Erlan sekali lagi.
Alina tak kuasa menahan tangis bahagianya. Ia menghambur ke pelukan Erlan kemudian terisak disana. "Terima kasih, Mas. Terima kasih," ucap Alina di sela isak tangisnya.
"Sama-sama." Erlan pun membalas pelukan Alina.
...***...