
Setelah Bu Kirana keluar dari kamarnya, Chandra pun segera bangkit dan duduj di posisinya semula. Sekarang tatapan lelaki itu fokus pada ponsel miliknya yang ia letakkan di atas nakas.
"Aku harus memberitahu Imelda," gumamnya. Perlahan Chandra meraih ponsel tersebut dan mencoba menghubungi nomor ponsel milik Imelda.
Sementara itu.
Imelda sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter sejak beberapa hari yang lalu dan hari ini ia dan Bu Dita berencana akan kembali ke Rumah Sakit untuk mengunjungi si kecil yang masih dirawat di ruangan NICU.
"Mari, Nak." Bu Dita sudah berdiri di depan pintu mobil dan menunggu Imelda yang masih merapikan barang-barang keperluan bayinya.
"Ya, Bu."
Setelah selesai merapikan barang-barang bawaannya, Imelda pun segera memasuki mobil tersebut dan menyusul Bu Dita yang sudah memasuki mobil tersebut terlebih dahulu.
Baru saja Imelda merilekskan tubuhnya di jok mobil bagian belakang, tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Dengan cepat Imelda meraih ponsel tersebut kemudian menatap layarnya.
Ekspresi wajah Imelda mendadak berubah ketika ia tahu siapa yang sedang mencoba menghubunginya saat ini. Bu Dita pun ternyata menyadari perubahan raut wajah putri semata wayangnya itu.
"Siapa?" tanya Bu Dita.
"Chandra," jawab Imelda dengan wajah malas.
Ia benar-benar sudah malas harus berurusan dengan lelaki itu lagi. Baik itu Chandra atau apapun yang berhubungan dengannya, termasuk kedua orang tuanya yang sombong tersebut.
"Mau apa lagi dia?" kesal Bu Dita sembari membuang pandangannya ke arah luar.
"Entahlah," sahut Imelda sembari mengangkat kedua bahunya.
Imelda membiarkan panggilan itu hingga berakhir dengan sendirinya. Namun, ternyata Chandra tidak akan menyerah begitu saja. Ia kembali mencoba menghubungi nomor ponsel Imelda dan tidak akan berhenti menghubunginya hingga wanita itu menerima panggilannya.
"Hhh, mau apa lagi lelaki itu! Tidak puaskah dia sudah membuatmu menjadi seperti ini?! Ingat ya, Ibu tidak akan pernah membiarkan Chandra ataupun kedua orang tuanya yang sombong itu bertemu dengan bayimu. Bayi itu bukanlah siapa-siapa mereka lagi! Anak dan Cucu mereka sudah mati ketika mereka memerintahkan dirimu menggugurkan kandunganmu, Imelda," kesal Bu Dita sambil menekuk wajahnya. Sedangkan Imelda hanya diam saja tanpa berkeinginan menjawab ucapan Bu Dita ataupun menerima panggilan dari lelaki tersebut.
Namun, sesaat kemudian akhirnya Imelda pun menyerah dan menerima panggilan itu. Ia sangat kesal karena Chandra tidak berhenti mencoba menghubungi nomor ponselnya saat itu.
"Mel, maafkan aku karena sudah mengganggumu. Ehm, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu yang penting untukmu dan juga bayi kita."
Imelda tersenyum sinis saat mendengar Chandra berkata 'Bayi kita'. "Bayi kita? Sejak kapan kamu punya bayi bersamaku?!" ketusnya.
Chandra terdiam sejenak setelah mendengar ucapan Imelda saat itu. Entah mengapa ia merasa sedih ketika Imelda berkata seperti itu kepadanya. "Maafkan aku, Mel."
"Sudah, sudah, jangan terlalu berbasa-basi! Sekarang langsung saja katakan apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku," sahut Imelda.
"Baiklah." Chandra menghembuskan napas berat. "Mel, terakhir kita bertemu di Rumah Sakit, saat itu aku sedang memeriksakan penyakitku," tutur Chandra.
Imelda memutarkan kedua bola matanya. Ia benar-benar tidak peduli apapun yang dilakukan oleh Chandra saat itu. "Apa peduliku," gumam Imelda tanpa terdengar hingga ke telinga lelaki itu.
"Dan hasilnya positif, Mel!" Terdengar Chandra menangis lirih di seberang telepon dan hal itu membuat Imelda kebingungan. Ini pertama kalinya ia mendengar lelaki itu terisak.
"Positif?!"
"Ya, Mel. Aku positif HIV AIDS."
Jawaban Chandra saat itu membuat mata Imelda terbelalak. "HIV AIDS?! lalu ...." Tiba-tiba saja Imelda merasa khawatir akan kesehatannya bersama bayi mungilnya yang sama sekali tak berdosa itu. Walaupun ia dan Chandra tidak pernah melakukan hal 'itu' lagi, tetapi ia tetap merasa was-was.
"Aku sarankan sebaiknya kamu dan bayi kita melakukan pemeriksaan. Aku tidak pernah berharap siapapun terhangkit penyakit ini dariku, Mel. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu dan bayi kita bersih dari penyakit ini," sahut Chandra yang masih terdengar sesenggukan.
"Ya, Tuhan!" Imelda kehilangan kata-kata. Ia benar-benar shok saat itu.
"Mel, kamu kenapa?" tanya Bu Dita terheran-heran melihat reaksi Imelda ketika bicara bersama Chandra.
"Chandra, Bu! Chandra positif mengidap penyakit HIV AIDS!" pekik Imelda.
"Apa?!" Bu Dita pun tak kalah shok-nya mendengar berita buruk itu.
...***...