My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Bertemu Edgar



Bu Dita melangkah gontai menuju ruang NICU, di mana cucu pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Harapan hidup yang hanya 17% saja, membuat bayi dengan berat badan di bawah satu kilo tersebut harus bergantung pada alat-alat medis.


Bu Dita kembali menitikkan air matanya ketika menatap bayi mungil tersebut dari balik kaca inkubator. Selang oksigen, infus dan berbagai peralatan medis lainnya tertancap di tubuhnya yang sangat mungil tersebut. Tak ada tangisan yang terdengar, sama seperti bayi normal pada umumnya.


"Panjang umur ya, Sayang. Biar bisa bermain bersama Nenek, Kakek dan Ibumu," gumam Bu Dita seraya menyeka air mata yang mengalir di kedua pipinya.


"Bagaimana keadaannya, Bu?" tanya Pak Heri yang baru saja tiba.


"Bapak lihatlah sendiri. Aku benar-benar tidak tega melihat kondisinya, Yah. Semoga saja dia panjang umur dan bisa berkumpul bersama kita apapun keadaannya," sahut Bu Dita.


"Amin." Pak Heri merengkuh pundak Bu Dita kemudian mengelus-ngelusnya dengan lembut.


Sementara itu di Hotel XX, di mana Sean menginap. Hari ini adalah hari terakhir Sean berada di kota tersebut. Masa jalan-jalannya sudah habis dan ia harus kembali pada kesibukannya bersama Tuan Erlan.


Namun, sebelum kembali ke kotanya, Sean memutuskan menjenguk Imelda yang masih berada di Rumah Sakit. Ketika berjalan di lobby hotel, tidak sengaja Sean berpapasan dengan Sang Manager Hotel, Edgar.


Edgar mengenali sosok Sean yang sedang berjalan dengan gagahnya dan lelaki itu pun segera menyapa asisten pribadi Erlan tersebut.


"Tuan Sean?"


Sean menoleh ke arah Edgar kemudian menatap lelaki itu dengan lekat. "Tuan Edgar?!" Sean mengangkat kedua alisnya karena terkejut bisa bertemu dengan lelaki yang sudah menjadi orang ke tiga di kehidupan Erlan dan Olivia.


"Selamat siang, Tuan Sean. Apa kabar?" Edgar tanpa canggung mengulurkan tangannya kepada Sean dan Sean pun bergegas menyambut uluran tangan lelaki itu.


"Baik, Tuan Edgar. Anda?"


"Saya baik. Ehm, bisa kita bicara sebentar?" ajak Edgar seraya menunjuk ke arah kursi tunggu yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Edgar pun mulai berbasa-basi bersama Sean di tempat itu. Hingga akhirnya, Edgar memiliki kesempatan untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Sean bahwa di antara dirinya dan Olivia tidak ada hubungan apapun.


Kejadian memalukan itu terjadi hanya karena kesalahan pahaman dan ia juga meminta maaf karena dirinya, pernikahan Olivia dan Erlan hanya bertahan dalam hitungan jam saja.


"Tuan Sean, saya sangat menyesal dan saya ingin sekali menjelaskan hal ini kepada Tuan Erlan. Namun, sayangnya hingga saat ini saya tidak memiliki kesempatan untuk bicara langsung kepadanya."


Sean menarik napas dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan, sembari tersenyum hangat kepada lelaki yang duduk di hadapannya.


"Sebenarnya Tuan Erlan sudah tahu semuanya, Tuan Edgar. Namun, ia memang enggan kembali bersama Nona Olivia. Ya, mungkin memang mereka tidak berjodoh," sahut Sean dengan wajah tenangnya menatap Edgar.


"Saat ini Tuan Erlan sudah bahagia dengan pernikahannya bersama wanita yang begitu ia cintai. Jadi, jika Anda masih ingin berjuang mendapatkan hati Nona Olivia, maka berjuanglah. Saya dan Tuan Erlan pasti mendukung Anda," lanjut Sean.


Tersungging sebuah senyuman hangat di wajah tampan Edgar. "Terima kasih banyak, Tuan Sean. Akhirnya saya bisa bernapas dengan lega setelah mendengar jawaban dari Anda. Sejak kejadian itu, saya merasa hidup saya tidak pernah tenang dan selalu di hantui rasa bersalah yang amat sangat. Namun, jika saya tidak melakukannya, mungkin Tuan Erlan akan mendapatkan kekecewaan dari Olivia."


"Tuan Erlan bahkan sangat berterima kasih kepada Anda Tuan Edgar. Karena Anda sudah jujur dengan mengirimkan video tersebut di hari pernikahannya bersama Olivia. Oh ya, hampir saja saya lupa. Persidangan perceraian Tuan Erlan dan Nona Olivia akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Ya, semoga saja Nona Olivia tidak akan mempersulit persidangan kali ini," tutur Sean.


"Ya, semoga semuanya berjalan dengan lancar," ucap Edgar.


Sean melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. "Sepertinya saya harus pergi, Tuan Edgar. Ada seseorang yang harus saya temui hari ini." Sean tersenyum kemudian mengulurkan tangannya kepada Edgar.


"Oh, baiklah kalau begitu. Terima kasih atas waktunya, Tuan Sean. Senang bisa berbicara bersama Anda."


"Ya, sama-sama, Tuan Edgar. Saya pun senang bisa berbicara bersama Anda di sini," sahut Sean seraya melepaskan jabatan tangannya bersama lelaki itu. Sean segera keluar dari tempat tersebut menuju tempat parkir, di mana mobilnya berada.


...***...