My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Perselingkuhan Chandra



Imelda terisak di depan pintu kamar ke dua, di mana Chandra dan kekasihnya sedang menikmati percintaan panas mereka. Suara desahann itu terdengar semakin jelas di kedua telinganya. Semakin lama semakin panas, bahkan Imelda sampai menutup kedua telinganya dengan tangan karena tidak sanggup lagi mendengarnya.


Hingga beberapa menit kemudian, percintaan panas mereka pun selesai. Chandra yang kelelahan nampak tersengal-sengal dengan keringat yang membanjiri seluruh tubuhnya. Begitupula sang kekasih, ia pun kelelahan dan jatuh tepat di atas tubuh Chandra dengan napas tersengal-sengal pula.


"Sekarang bagaimana, Sayang?" tanya wanita itu sambil mendongak menatap Chandra.


"Halah, jangan takut. Wanita itu tidak akan berani macam-macam padaku," sahutnya dengan bangga.


Wanita itu tersenyum puas kemudian mengecup bibir Chandra sebelum ia bangkit kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sementara Sang Kekasih membersihkan diri, Chandra segera menghampiri daun pintu setelah berhasil mengenakan celana boxer miliknya.


Ceklek!


Pintu pun terbuka. Imelda yang masih terisak di depan pintu ruangan itu, terkejut dan segera bangkit. Ia menatap Chandra yang kini berdiri di hadapannya dengan tubuh yang masih bercucuran keringat. Lelaki itu bahkan menatapnya dengan tatapan malas.


"Apa?!" ketusnya, tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Hati Imelda semakin sakit mendengar ucapan Chandra yang seolah-olah tidak terjadi apapun saat itu.


"Kamu benar-benar menjijikkan, Chandra! Ini rumahku dan kamu berani-beraninya membawa perempuan lain dan berbuat mesum di kamar ini!"


Imelda yang sudah tidak dapat menahan emosinya, mendorong tubuh besar Chandra kemudian menerobos masuk ke dalam kamar tersebut. "Di mana jallang itu?! Akan ku beri pelajaran wanita itu karena sudah berani mengganggu rumah tanggaku!" teriak Imelda dengan air mata yang masih bercucuran di kedua pipinya.


"Heh, keluar kamu!"


Imelda mengobrak-abrik kamar tersebut untuk mencari keberadaan kelasih Chandra yang ternyata masih berada di dalam kamar mandi. Karena mendengar suara ribut-ribut, wanita itu pun akhirnya keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di tubuh seksinya.


Ketika pintu kamar mandi terbuka, mata Imelda langsung tertuju pada wanita itu. Imelda sempat terpelongo ketika melihatnya. Bagaimana tidak, ternyata wanita yang sedang bersama Chandra saat ini bukanlah wanita yang dulu sempat bersama Chandra.


Chandra yang sejak tadi hanya memperhatikan reaksi Imelda sambil tersenyum sinis, segera menghampiri kekasihnya kemudian menjaganya dari Imelda.


"Sini kamu, Jallang! Biar aku kasih pelajaran kamu!"


Imelda mencoba menyerang wanita itu, tetapi Chandra begitu melindunginya. Chandra menghalau tangan Imelda yang ingin menarik tubuh wanita itu dari pelukannya, kemudian mendorong Imelda dengan sangat kasar.


"Pergi sana kamu! Apa kamu sudah lupa, Imelda? Mobil serta rumah ini di beli atas namaku. Itu artinya rumah serta mobil yang diberikan oleh Ibumu yang bodoh itu adalah milikku. Jadi, jika kamu ingin tetap tinggal di rumah ini, bersikaplah dengan baik! Kalau tidak, aku akan menyeretmu keluar dari tempat ini sekaligus mengusirmu!" ancamnya dengan wajah memerah menatap Imelda.


Setelah mengucapkan hal itu Chandra melepaskan pelukannya bersama Sang Kekasih hati. Lelaki itu berjongkok kemudian menarik tangan Imelda yang masih meringis kesakitan di lantai ruangan itu dengan air mata yang masih mengalir di kedua pipinya.


"Sekarang kembali ke kamarmu dan jangan pernah ikut campur dengan urusanku lagi! Terserah aku mau apa karena ini adalah hidupku, kamu dengar itu!" tegas Chandra sembari menyeret tubuh Imelda dengan kasar kemudian mengeluarkan wanita itu dari kamarnya.


Lagi-lagi tubuh Imelda jatuh ke lantai dengan sangat keras. Ia kembali meringis kesakitan karena saat ini Imelda benar-benar merasakan sakit di perutnya akibat terjengkang ke lantai untuk kedua kalinya.


Setelah berhasil mengeluarkan Imelda dari kamarnya, Chandra segera mengunci pintu kamar tersebut kemudian mengajak Sang Kekasih hati untuk kembali ke tempat tidurnya.


"Kurang ajar kamu, Chandra!" umpat Imelda sembari menyeka air matanya.


Perlahan Imelda mencoba bangkit dari posisinya dengan bertumpu di dinding ruangan. Rasa sakit yang amat sangat pada perutnya membuat Imelda berjalan dengan posisi meringkuk sambil memeluk perut.


"Ya, Tuhan! Perutku ...."


Dengan tertatih-tatih, Imelda melangkahkan kakinya menuju kamar dan setibanya di sana, ia segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Namun, rasa sakit itu masih saja menguasai bagian perutnya hingga membuat ia terjaga di malam itu.


Imelda sempat berniat menghubungi nomor ponsel Ibunya untuk meminta bantuan. Namun, ia ingat bahwa Ibunya sudah berkorban banyak untuk dirinya dan ia tidak ingin menambah beban Bu Dita lagi. Imelda pun akhirnya mengurungkan niatnya dan memilih untuk menahan sakitnya sendirian di kamar tersebut.


"Aku pasti bisa! Aku tidak boleh membuat Ibu khawatir lagi!" gumam Imelda sembari mengelus perutnya yang sakit dengan lembut.


Rasa lapar yang tadi menguasai perutnya, kini hilang entah kemana. Perutnya mendadak kenyang setelah melihat apa yang dilakukan oleh suaminya bersama perempuan lain di kamar itu.


"Ingatlah, Chandra! Karma pasti berlaku dan aku sudah membuktikannya! Mungkin inilah karmaku karena sudah mengkhianati sahabatku demi dirimu," gumam Imelda sambil menitikan air matanya.


"Aku akan menemui Alina dan meminta maaf padanya. Kalau perlu, aku akan bersimpuh di hadapannya."


Sementara Imelda menahan sakitnya sendirian di dalam kamar tersebut sambil menyesali semua kesalahan yang sudah ia lakukan terhadap Alina. Berbeda dengan kamar sebelah, kamar di mana Chandra dan kekasih hatinya menikmati percintaan panas mereka sepanjang malam tanpa memikirkan bagaimana perasaan Imelda saat itu.


...***...