My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Ikut Ke Kantor



Sekarang Alina dan Erlan sudah tidak tinggal di apartemen lagi. Melainkan di kediaman baru mereka yang pastinya jauh lebih nyaman dan lebih besar.


Seperti yang pernah diucapkan oleh Erlan sebelumnya bahwa dia ingin mengajak Alina ke kantor dan memperkenalkan istri mungilnya itu kepada seluruh karyawan dan para staff.


Alina tengah asik berdiri di depan cermin sambil menatap bayangannya. Ia terlihat begitu berbeda hari ini. Dengan menggunakan kemeja serta rok formal sama seperti wanita karier pada umumnya.


Alina memutar-mutarkan tubuhnya sambil tersenyum dan tanpa ia sadari Sang Suami sudah sejak tadi memperhatikan dirinya. Erlan yang sudah rapi dengan setelan jas mahalnya, perlahan menghampiri Alina.


Cuit ... cuitt! Erlan bersiul kecil sambil tersenyum menggoda Alina yang terlihat seperti seorang wanita yang bekerja di kantoran. Sadar Erlan sudah menggodanya, Alina menghampiri lelaki itu kemudian memeluknya.


"Apa kamu tau, Mas. Ketika aku masih sekolah, aku sangat suka memperhatikan wanita-wanita karier dengan berpakaian rapi seperti ini. Ketika memperhatikan mereka, dalam hati aku selalu berdoa agar suatu saat bisa seperti mereka. Namun ... sayangnya hal itu tidak menjadi kenyataan," ungkap Alina dengan raut wajah sedih.


"Hei, kenapa kamu bicara seperti itu, Sayang. Kamu salah jika kamu bilang bahwa cita-citamu tidak menjadi kenyataan." Erlan mencubit pelan hidung Alina. Sedangkan Alina terlihat bingung dengan jawaban lelaki itu.


"Lalu?" tanya Alina sambil menautkan kedua alisnya menatap Erlan.


"Apa yang sudah kamu gapai saat ini bahkan lebih dari apa yang pernah kamu cita-citakan. Jika dulu cita-citamu hanya sebatas menjadi seorang wanita karier yang bekerja di sebuah perusahaan besar, tapi sekarang kamu adalah istri dari seorang laki-laki di mana perusahaan itu adalah miliknya yang artinya juga milikmu," jawab Erlan gemas.


"Beda lah, Mas." Alina menekuk wajahnya.


"Lah trus, kamu maunya apa? Menjadi Sekretarisku? Atau menjadi asisten pribadiku, menggantikan Sean?" goda Erlan.


"Jangan, Mas. Kasihan Sean jika nanti posisinya aku gantikan. Bisa-bisa rencana pernikahannya bersama Imelda gagal lagi karena dia jadi pengangguran. Ih, amit-amit jabang bayi!" jawab Alina.


"Ha, dasar kamu! Ya sudah, sebaiknya kita berangkat. Mumpung Arkana anteng sama Mommy. Oh ya, apa asi buat Arkana sudah kamu siapkan?" ucap Erlan seraya menuntun Alina keluar dari kamar utama.


"Sudah, Mas."


"Nah, itu Mommy dan Daddy udah mau berangkat. Arkana pinter-pinter ya sama Oma," ucap Nyonya Afiqa.


"Mom, kami berangkat dulu, ya." Erlan meraih tangan kanan Nyonya Afiqa kemudian melabuhkan ciuman hangatnya di sana, begitu pula Alina.


"Iya, hati-hati di jalan." Nyonya Afiqa mengusap puncak kepala Erlan dan Alina dengan lembut. "Eh, Alina sayang. Kamu terlihat cantik sekali hari ini," sambungnya sambil memperhatikan penampilan Alina yang memang terlihat berbeda.


"Terima kasih, Mom. Mommy, titip Arkana, ya," sahut Alina yang tampak merasa tidak nyaman karena harus menitipkan bayinya bersama Nyonya Afiqa.


"Ah, kamu tenang saja kalau soal cucuku ini. Dia anteng, kok. Malahan dia lebih nyaman sama Mommy dari pada sama Babysitternya," tutur Nyonya Afiqa.


Setelah selesai berpamitan kepada Nyonya Afiqa, Erlan dan Alina pun segera berangkat menuju kantor Erlan bersama Sean yang ternyata sudah menunggu mereka di halaman depan.


"Selamat pagi, Tuan." Sean menyapa pasangan itu dengan wajah semringah. Ia sempat memperhatikan Alina yang terlihat cantik dengan pakaian formalnya.


"Selamat pagi, Sean. Apa kamu tidak ingin menyapa Nyonya CEO kita? Bukankah dia terlihat sangat cantik hari ini?" goda Erlan sembari menuntun Alina masuk ke dalam mobil.


"Ehm, iya. Maafkan saya. Selamat pagi, Nyonya Alina," ucap Sean sembari membungkuk hormat.


"Ish, kalian ini kenapa sih!" Wajah Alina memerah menahan malu. Ia mencubit pelan perut Erlan yang sudah duduk di sampingnya.


"Kamu lihat, Sean. Tidak pernah ada yang berani padaku selain Nyonya CEO baru kita. Apa kamu lihat, jarinya bahkan masih menempel di perutku." Erlan tertawa pelan karena merasa geli ketika Alina mencubitnya.


...***...