
Baru saja Erlan tiba di kediaman Alina, hujan pun turun dengan derasnya. Mau tidak mau, Erlan terpaksa berteduh untuk sementara. Karena takut akan tuduhan dari tetangga-tetangganya, Alina tidak berani mempersilakan Erlan untuk masuk ke dalam rumah.
Mereka hanya duduk di teras, di mana para tetangga julidnya masih bisa memantau kegiatan mereka. Padahal cuaca saat itu benar-benar tidak bersahabat. Guntur dan petir saling bergantian menyapa bumi. Alina bahkan beberapa kali memekik dan wajahnya pun memucat karena ketakutan.
"Maafkan aku, Tuan Erlan. Aku tidak bisa mengizinkanmu masuk ke dalam rumah. Aku takut mereka menuduh kita melakukan hal yang tidak senonoh itu lagi."
Erlan tersenyum. "Tidak apa-apa, Alina. Aku bisa mengerti dan bahkan sampai saat inipun aku masih bisa melihat tetanggamu mengintip kita dari balik kaca jendela mereka."
"Benarkah?"
Alina mengedarkan pandangannya ke sisi kanan dan kiri, di mana rumah tetangga julidnya berada. Ternyata apa yang dikatakan oleh Erlan benar, Alina bahkan bisa melihat bayangan para tetangganya dari balik horden yang tertutup.
"Kamu benar, Tuan. Entah mengapa mereka sangat membenciku padahal aku tidak pernah berbuat salah kepada mereka. Bahkan mereka sangat membenci janinku yang tidak berdosa ini," lirih Alina dengan kepala tertunduk.
Lagi-lagi hati Erlan tercubit dengan keras. Semua yang terjadi pada Alina adalah karena dirinya. Walaupun sebenarnya ia juga tidak sengaja dan sama sekali tak ada keinginan untuk melakukan itu.
"Ya Tuhan, bantu aku agar bisa mengakui semua perbuatanku pada Alina," batin Erlan.
Menit berganti menit, baik Erlan maupun Alina hanya terdiam sambil memperhatikan derasnya air hujan yang jatuh membasahi bumi. Hingga akhirnya Erlan merasakan bahwa dirinya harus segera ke kamar mandi.
Erlan beberapa kali melirik Alina yang masih terdiam dalam pikirannya sendiri. Lelaki itu ingin sekali meminta izin ke kamar mandi. Namun, ucapan Alina sebelumnya membuat Erlan harus berpikir ulang. Setelah cukup lama menahan, akhirnya Erlan pun harus melakukannya.
"Alina, boleh aku ingin numpang ke kamar mandi? Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi." Wajah Erlan memelas ketika menatap Alina hingga membuat gadis itu tidak tega melihatnya.
Alina nampak berpikir sejenak. Jika ia biarkan Erlan masuk ke rumahnya, pasti para tetangga julid tersebut akan kembali berpikiran negatif tentangnya. Namun, ia pun tidak tega menolak keinginan Erlan saat itu.
Akhirnya Alina pun mengangguk dan bangkit dari posisi duduknya. "Baiklah, mari ikuti aku."
Erlan pun segera menyusul dan mengikutinya dari belakang. Alina menunjukan jalan menuju kamar mandi kemudian mempersilakan lelaki itu untuk masuk.
"Maaf jika kamar mandinya jelek, Tuan. Karena aku yakin sekali kamar mandimu jauh lebih bagus dari rumahku." Alina nampak malu-malu ketika mengatakannya.
"Kamu ini, bisa saja." Erlan terkekeh kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.
Ternyata kesempatan itu tidak disia-siakan oleh para tetangga julidnya. Di tengah derasnya hujan yang masih mengguyur kampung mereka, mereka memutuskan untuk menggerebek Alina dan Erlan yang masih berada di dalam rumah.
"Ayo! Ini kesempatan kita menggerebek Alina dan lelaki itu. Kita harus usir dia dari kampung ini. Kalau tidak, bisa-bisa kampung kita akan terus-terusan sial akibat perbuatan gadis itu."
"Ya, Ibu benar! Ayo, kita usir Alina dari kampung ini," sambung yang lainnya.
Benar saja, derasnya guyuran hujan saat itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk mengusir Alina dari kampung mereka.
"Usir, usir, usir!" teriak mereka.
"Heh, buka pintu!" ucap seorang Ibu-Ibu yang mengepalai penggerebekan itu. Wanita paruh baya tersebut menggedor pintu rumah Alina dengan keras.
Alina terperanjat dan wajahnya langsung memucat. Ia tahu bahwa yang berada di depan rumahnya adalah para warga kampung yang ingin menggerebeknya.
"Ya Tuhan, mereka benar-benar melakukannya! Sekarang aku harus bagaimana? Aku takut," gumam Alina ketakutan.
"Cepat, buka pintunya! Dasar jallang!"
Perlahan Alina membuka pintu dan benar saja, di depan rumahnya nampak wajah-wajah yang memerah menatap dirinya. Bahkan kali ini jumlah Ibu-Ibu yang berkumpul dua kali lipat dari kemarin.
"Sini kamu!" Wanita itu meraih tangan Alina dengan kasar kemudian menariknya keluar dari rumah. Ia mendorong Alina hingga gadis itu jatuh di samping mobil milik Erlan yang masih terparkir.
"Sekarang tinggalkan kampung ini! Kami tidak ingin kamu tinggal di sini lagi!" ucapnya kasar.
"Ini rumah saya, Bu. Saya lahir dan besar di sini! Kalian tidak bisa mengusir saya begitu saja," jawab Alina tidak mau kalah.
Alina bangkit dan kini ia berdiri di hadapan para warga kampung dengan tubuh basah kuyup akibat guyuran hujan.
"Kenapa tidak bisa? Kamu itu jallang yang sudah mengotori kampung ini. Kamu bahkan tidak malu membawa para lelaki hidung belang berkantong tebal masuk ke dalam rumahmu. Seperti sekarang ini, apa kamu masih ingin mengelaknya?"
"Demi Tuhan, apa yang kalian tuduhkan padaku itu tidak benar!"
"Tidak benar, bagaimana? Lalu dari mana kamu mendapatkan perut buncit itu jika tidak dengan hasil melacurr? Bahkan lelaki yang menghamilimu saja tidak ingin bertanggung jawab. Karena apa, ha? Karena kamu seorang jallang!" sambungnya.
Sebagian warga lainnya masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Erlan. Tepat di saat itu Erlan baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung disergap oleh warga.
"Apa-apaan ini?" pekik Erlan ketika warga menggiringnya keluar dari rumah Alina.
"Diam, kamu! Dasar lelaki hidung belang. Tampan-tampan tapi kelakuan bejat sekali!"
Erlan terkejut ketika ia tiba di depan rumah. Ia melihat Alina yang sedang mengigil di bawah guyuran hujan sambil terisak. Para warga bahkan tidak membiarkan ia masuk dan malah meleparinya dengan barang-barang miliknya.
"Alina!" pekik Erlan seraya berlari kemudian memeluk tubuh Alina yang menggigil.
Erlan benar-benar marah dan menatap para warga dengan emosi yang berapi-api. "Kalian sudah keterlaluan! Menuduh seseorang tanpa bukti!"
"Bukti apa lagi yang harus kami buktikan? Buktinya kami sudah dua kali memergoki kalian berduaan di dalam rumah ini!"
"Sebaiknya kita pergi dari sini, Alina. Kampung ini memang tidak baik untukmu," ucap Erlan seraya menuntun Alina masuk ke dalam mobilnya.
"Ya, pergilah! Kami malah senang jika kamu membawa jallang itu pergi dari kampung ini," sahut mereka dengan wajah semringah.
Setelah berhasil memasukkan Alina ke dalam mobilnya, Erlan pun segera melajukan mobil tersebut meninggalkan kampung itu.
"Sekarang aku harus kemana, Tuan?" ucap Alina dengan bibir bergetar.
"Kamu tenang saja, Alina. Aku akan membawamu bersamaku dan aku berjanji, aku akan segera menikahimu," jawab Erlan sambil terus fokus pada stir mobilnya.
Alina membulatkan matanya, ia tidak percaya dengan apa yang baru diucapkan oleh Erlan padanya. "Ta-tapi ...."
...***...