My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Mengatur Rencana Baru



"Mommy, sudah pulang?" Alina menghampiri Erlan yang masih terdiam di depan pintu utama, memperhatikan Nyonya Afiqa yang melangkah dengan cepat meninggalkan apartemennya.


Erlan menoleh kepada Alina kemudian merengkuh pundak gadis itu sambil tersenyum. "Ya, dan Mommy titip salam buat kamu."


"Benarkah?" Alina tersenyum bahagia mendengarnya. "Lalu kenapa Mas tidak memanggilku saat Mommy ingin pulang?" tanya Alina sedikit heran.


"Aku dan Mommy tahu kalau kamu masih sibuk di dapur, makanya aku tidak kasih tau ke kamu kalau Mommy ingin pulang. Maafkan aku, ya," lirih Erlan seraya menuntun Alina berjalan menghampiri sofa setelah ia menutup kembali pintu utama.


"Oh ya, bagaimana nasi uduknya? Apa Mommy menyukainya?" tanya Alina dengan wajah serius menatap Erlan.


"Ya, Sayang. Mommy sangat menyukainya. Dan aku yakin Mommy pasti ketagihan dengan nasi uduk buatanmu," sahut Erlan, mencoba menghibur Alina.


"Serius, Mas? Wah, aku sangat senang mendengarnya," sahut Alina dengan senyum merekah di wajah cantiknya. Ia memeluk tubuh besar Erlan dari samping sembari membenamkan kepalanya di dada lelaki itu.


"Ya, Sayang. Aku serius." Erlan mengelus puncak kepala Alina dengan lembut dan sesekali ia melabuhkan ciuman hangat di sana.


Mata lelaki itu nampak berkaca-kaca. Ia begitu terharu, tidak perlu hal yang mewah untuk membuat Alina bahagia. Cukup dengan ucapan yang menyenangkan, Alina sudah bahagia walaupun sebenarnya ucapannya hanyalah kebohongan semata.


Sementara itu.


Nyonya Afiqa melangkahkan kakinya dengan raut wajah kusut keluar dari apartemen tersebut. Ia pulang dengan membawa kekesalan di dalam hati. Ia kesal karena Erlan tetap kekeh pada pendiriannya.


Mempersunting Alina tanpa berkeinginan melakukan tes DNA terlebih dahulu terhadap bayi yang ada di kandungan gadis itu. Dan yang lebih mengejutkan bagi Nyonya Afiqa, pernikahan Erlan dan Alina yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.


Di perjalanan menuju kediaman mewahnya, Nyonya Afiqa hanya diam dengan pikiran terus tertuju pada Putra semata wayangnya itu. Walaupun wanita paruh baya tersebut sangat kesal dan tidak setuju dengan keputusan Erlan yang menurutnya begitu tergesa-gesa, tetapi ia tetap berdoa yang terbaik untuk anaknya itu.


"Semoga ini adalah pilihan yang terbaik untukmu, Nak."


Tiba-tiba Nyonya Afiqa teringat akan Olivia yang pergi begitu saja, meninggalkan dirinya bersama Erlan tadi pagi. Ia meraih ponselnya kemudian menghubungi wanita itu.


"Ya, Mom?!" Terdengar suara Olivia dari seberang telepon.


"Olivia, kamu di mana?" tanya Nyonya Afiqa penasaran.


"Ehm ... aku sudah berada di rumah. Oh ya, Mom, maafkan aku! Aku terpaksa meninggalkan Mommy di sana karena aku takut Erlan mengetahui rencana kita yang sebenarnya berkunjung ke tempat itu.


"Heh, memang dia sudah tahu semuanya!" sahut Nyonya Afiqa sembari mendengus kesal.


"Tuh 'kan! Aku yakin sekali, pasti Alina yang mengadu ke Erlan, biar kita berdua dapat masalah!" sahut Olivia dari seberang telepon dengan wajah menekuk.


"Bukan, Olivia! Bukan gadis itu yang mengadu, tetapi Erlan mengetahui semuanya dari CCTV yang ia pasang di setiap sisi kamarnya."


"Oh, my God!" seru Olivia dengan wajah kusut setelah mendengar ucapan Nyonya Afiqa barusan. "Itu artinya images-ku di hadapan Erlan semakin buruk," batinnya.


Kedua wanita itu salah paham. Erlan bahkan belum tahu apa yang mereka lakukan terhadap Alina. Namun, lelaki itu tahu bahwa Mommy dan mantan istrinya sudah melakukan hal yang tidak menyenangkan terhadap Alina hingga membuat gadis itu terlihat cemas beberapa hari ini.


"Oh ya, Olivia. Mommy juga punya berita yang mengejutkan untukmu. Tinggal beberapa hari lagi Erlan dan gadis itu akan segera melangsungkan pernikahan mereka," sambung Nyonya Afiqa.


"Olivia, apa kamu kira Mommy tidak berusaha meyakinkan anak Mommy, begitu? Mommy sudah mencoba meyakinkan Erlan, tetapi Erlan tetap teguh pada pendiriannya. Walaupun tanpa restu Mommy, ia akan tetap menikahi gadis itu," sahut Mommy.


Terdengar helaan napas berat yang keluar dari mulut Olivia. Wanita itu sangat kesal dan ia pun memutuskan untuk mengakhiri percakapannya bersama Nyonya Afiqa.


"Sudah dulu ya, Mom. Aku mau istirahat," ucapnya dengan wajah malas.


"Ehm, baiklah, Nak."


Setelah memutuskan panggilannya bersama Nyonya Afiqa, Olivia mencoba menghubungi seseorang yang mungkin saja bisa membantunya mempertahankan hubungannya bersama Erlan.


Di saat Lelaki itu tengah sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan suara panggilan dari ponsel yang ia letakkan di atas meja kerja. Mata lelaki itu sempat membulat sempurna setelah tahu bahwa yang menghubunginya saat ini adalah Olivia.


Wanita yang selama ini membuatnya tergila-gila. Ini merupakan moment langka buat Edgar. Jangankan menghubunginya, Olivia bahkan selalu menolak menerima panggilan darinya.


"Olivia?! Ehm, tumben," Edgar meraih ponsel tersebut sembari tersenyum hangat kemudian meletakkannya ke samping telinga.


"Ya, Olivia?"


"Edgar! Aku ingin bertemu denganmu," ketus Olivia.


"Benarkah? Serius kamu ingin bertemu denganku?" Edgar terus menyunggingkan senyumnya, ia terlihat bahagia walaupun saat itu Olivia terdengar ketus ketika bicara dengannya.


"Sudahlah, Edgar! Jangan ge'er dulu, deh! Aku mengajakmu bertemu karena ada yang ingin aku bicarakan padamu dan ini sangat penting!" sahut Olivia dengan wajah malas.


"Oke, oke ... baiklah. Kapan?" tanya Edgar sambil tertawa pelan karena Olivia selalu saja bersikap seperti itu padanya.


"Sekarang!" tegas Olivia.


"Ya ampun, Olivia. Apa kamu sudah lupa bahwa sekarang aku bekerja di kota X di mana jarak kota ini dengan kota mu lumayan jauh. Seandainya aku pulang sekarang pun, mungkin nanti malam baru tiba di sana," jawab Edgar sembari menjelaskan posisinya sekarang ini.


Huft! Terdengar suara hembusan napas Olivia yang sepertinya sangat kesal setelah mendengar jawaban dari Edgar. "Terserah kamu lah, yang pasti aku ingin kita bertemu, titik!"


"Baiklah, nanti aku hubungi lagi jika aku sudah berada di sana dan--" Belum habis Edgar berbicara, Olivia sudah memutuskan panggilannya.


Edgar tersenyum tipis sambil memperhatikan layar ponselnya. Walaupun Olivia terus menolak, tetapi lelaki itu tidak pernah berhenti berharap bahwa suatu saat Olivia bisa menerima dirinya apa adanya.


Sementara itu Olivia semakin kesal. Ia melemparkan ponsel yang ia genggam ke atas tempat tidur kemudian turut menjatuhkan dirinya ke atas kasur yang empuk tersebut.


Pikirannya kembali menerawang, mengingat kesalahan fatal yang pernah ia lakukan sehingga membuat Erlan marah serta kecewa kemudian menggugat cerai dirinya.


"Ya Tuhan, seandainya itu tidak pernah terjadi, mungkin aku dan Erlan sudah berbahagia," gumamnya sambil menitikkan air mata.


Sebenarnya Erlan dan Olivia dulunya memang sepasang kekasih yang saling mencintai dan Olivia benar, jika seandainya ia tidak melakukan kesalahan itu, mungkin saja mereka sudah hidup bahagia sekarang ini.