
Setelah beberapa saat kemudian, Imelda dan Sean pun berpamitan kepada Pak Agung karena si kecil Rendra sudah mulai bosan berada di tempat itu dan ingin segera pulang. Setelah berpamitan kepada Pak Agung, Imelda kembali menghampiri kaca dan melambaikan tangan si kecil Rendra kepada Chandra dan Bu Kirana yang sedang berada di dalam ruangan itu.
"Bye, Daddy!" ucap Rendra sambil menyunggingkan senyumannya kepada Chandra. Tak lupa tangan kecilnya yang terus melambai ke arah lelaki yang sedang tergolek lemah tersebut.
"Bye, Rendra! Daddy pasti akan merindukanmu," sahut Chandra dengan suara yang terdengar sangat lemah.
Setelah Imelda dan Sean pergi dari tempat itu, Chandra pun kembali berbincang bersama Sang Ibu.
"Tadi aku melihat ada yang aneh pada kaki Rendra. Memangnya kaki si kecil Rendra itu kenapa sih, Mi? Apa dia punya masalah pada kakinya?" tanya Chandra kepada Bu Kirana ketika ia mengingat bagaimana kondisi kaki anak laki-lakinya yang terlihat berbeda dari kondisi kaki anak-anak lainnya.
Bu Kirana kembali bersedih. Ia lupa mengatakan yang sebenarnya kepada Chandra tentang Rendra yang terlahir sebagai bayi yang istimewa. "Dia mengalami kelumpuhan, Nak. Tulang serta otot-otot kakinya tidak tumbuh dengan sempurna karena kelahirannya yang terlalu dini."
Mendengar penuturan dari Bu Kirana, tiba-tiba Chandra teringat akan kejadian di mana ia menghukum Imelda di saat wanita itu tengah mengandung Rendra. "Ke-kelahiran yang terlalu dini? Maksudnya Rendra lahir sebelum waktunya, di saat ia masih dalam pertumbuhan, begitu?" pekik Chandra dengan mata membulat menatap Bu Kirana.
Bu Kirana sama sekali tidak tahu kisah sebenarnya di balik kelahiran si kecil Rendra yang sebelum waktunya. Ia hanya tahu bahwa cucunya terlahir di saat kandungan Imelda baru berusia enam bulan.
"Ya, menurut yang Mami dengar dari Bu Dita ya, begitu. Memangnya kenapa, Nak?" tanya Bu Kirana heran.
Sebenarnya, Bu Dita dan Pak Heri pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Imelda saat itu hingga membuat ia melahirkan sebelum waktunya. Yang tahu persis kejadian itu hanya Imelda, Chandra dan Sean, lelaki yang sudah menyelamatkan dirinya dari amukan Chandra.
"Ya, Tuhan!" pekik Chandra yang kembali menitikkan air matanya. Bayangan itu kembali terlintas di pikirannya. Di mana ia mengamuk dan ingin menyakiti Imelda yang tengah mengandung Rendra saat itu.
"Itu salahku, Mi! Rendra lahir sebelum waktunya itu pasti karena perbuatanku, Mi!" lirih Chandra dengan air mata berderai.
"Apa maksudmu, Chandra? Mami tidak mengerti," sahut Bu Kirana dengan wajah heran menatap anak lelakinya itu.
"Kenapa, Nak?!" sela Bu Kirana.
"Aku selalu mengajak wanita lain ke kediaman kami, Mi. Bahkan aku sudah lupa siapa saja yang pernah aku ajak menginap dan tidur bersamaku. Hari itu kami bertengkar hebat dan aku yang sudah kalap, mendorongnya hingga jatuh. Bahkan tidak cukup sampai di sana, saat itu aku seperti kerasukan dan ingin menghabisinya! Beruntung seseorang menyelamatkannya dari amukanku. Dia adalah lelaki yang sekarang menjadi suaminya, Tuan Sean," tutur Chandra dengan air mata bercucuran.
Mata Bu Kirana membulat sempurna. Ia tidak menyangka bahwa anak kesayangannya bisa berbuat sekejam itu kepada Imelda yang tengah hamil si kecil Rendra. "Astaga, Chandra! Ja-jadi ... kamu lah yang menyebabkan Imelda melahirkan sebelum waktunya, Chandra?! Ya, Tuhan!" pekiknya.
"Maafkan aku, Mi!" Sesal Chandra.
"Sekarang kamu lihat bagaimana kondisi anakmu, Chandra! Dia harus menanggung akibat dari perbuatanmu seumur hidupnya," ucap Bu Kirana dengan wajah kusut menatap anak semata wayangnya itu.
"Aku menyesal, Mi! Sangat menyesal," sahut Chandra.
"Sudah terlambat, Chandra!"
Sementara itu.
Setibanya di kediaman kedua orang tuanya, Imelda, Sean dan si kecil Rendra segera membersihkan diri mereka dengan menggunakan air hangat.
Sean begitu telaten memandikan Rendra. Ia begitu menyayangi si bocah tampan itu tanpa membeda-bedakan kasih sayangnya antara Rendra dan Kamil Abraham, anak lelakinya bersama Imelda.
***