
Setelah kedua wanita itu masuk, Alina pun segera menutup pintunya kembali. Kini Nyonya Afiqa dan Olivia menatap tajam ke arahnya dan hal itu membuat Alina merasa sangat tidak nyaman.
"Duduklah, Nyonya, Nona ...." Alina mempersilakan kedua wanita itu untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Nona Olivia Karenina Fernandez, istri sah Erlan Ardinasa Harrison!" tegas Olivia tersenyum sinis menatap Alina sembari mengulurkan tangannya kepada gadis itu.
Alina menyambutnya sambil tersenyum kecut. Walaupun benar Erlan sudah mengucapkan talak kepada Olivia secara lisan, tetapi secara hukum negara Olivia masih istri sahnya Erlan.
Sementara Olivia enggan duduk di sofa tersebut, Nyonya Afiqa sudah duduk di sana sambil menatap lekat Alina. Saat ini penampilan Alina terlihat jauh lebih baik dari pertama kali Nyonya Afiqa melihatnya. Ya, sekarang pakaian yang dikenakan oleh Alina terlihat lebih bagus dan cukup modis. Sesuai dengan usainya yang masih sangat muda.
Pilihan Sean memang mantap, tapi bukan Sean juga sih sebenarnya. Ketika Sean membeli pakaian untuk Alina, ia meminta seorang karyawan toko yang sudah berpengalaman dan mengetahui model serta trend pakaian saat ini. Sean meminta wanita itu untuk membantunya memilih pakaian yang tepat buat Alina kenakan. Termasuk cd dan braa cantik tersebut.
"Nyonya dan Nona Olivia mau minum apa? Biar nanti saya buatkan," tanya Alina sembari mencoba mencairkan suasana saat itu. Suasana yang terasa sangat tidak nyaman bagi Alina.
"Tidak perlu! Aku ke sini hanya ingin melihat secara langsung wanita yang sudah berani mengganggu kehidupan rumah tanggaku bersama Erlan. Aku kira wanita yang berhasil merebut hati suamiku adalah wanita yang berkelas, cantik dan juga modis, tetapi ternyata aku salah. Ternyata wanita yang sudah berani mengganggu rumah tanggaku hanyalah seorang gadis kampung biasa yang tidak ada istimewanya sama sekali," sahut Olivia dengan wajah menekuk dan kedua tangan menyilang di dada.
Alina kembali tersenyum. Ia tidak peduli apapun yang akan dikatakan oleh Olivia kepadanya. Walaupun wanita itu menghina hingga mulutnya berbusa pun Alina tidak mau ambil pusing, selama wanita itu tidak menyentuh tubuhnya terlebih bayi dalam kandungannya.
"Alina ... ehm, Alina 'kan namamu?" tanya Nyonya Afiqa.
Sekarang tatapan Alina beralih kepada Nyonya Afiqa. Ekspresi wajah wanita paruh baya tersebut terlihat lebih tenang jika dibandingkan disaat pertama kali mereka bertemu.
"Ya, Nyonya."
Nyonya Afiqa menghembuskan napas berat kemudian kembali membuka suaranya. "Begini, Alina. Aku hanya ingin bertanya padamu, apa benar bayi yang kamu kandung itu anaknya Erlan?"
Alina bingung harus menjawab apa. Ia sendiri tidak tahu persis siapa yang sudah menidurinya waktu itu. Namun, Erlan begitu yakin bahwa bayi yang ia kandung adalah miliknya dan pengakuan lelaki itu sudah lebih dari cukup bagi Alina.
"Menurut Mas Erlan bayi ini adalah miliknya, Nyonya."
"Menurut Mas Erlan?! Lalu, menurutmu sendiri bayi itu milik siapa? Eh, jangan-jangan kamu ingin menjebak Erlan, ya? Jangan-jangan bayi yang ada di dalam perutmu ini adalah bayi sejuta lelaki, lalu dengan sengaja kamu manfaatkan kepolosan Erlan agar ia mengakui bahwa bayi ini adalah miliknya. Iya 'kan?! Mengaku saja," sela Olivia dengan wajah kesal.
Wanita itu bahkan menghampiri Alina dengan tergesa-gesa hingga membuat Alina memundurkan tubuhnya beberapa langkah ke belakang. Nyonya Afiqa bergegas bangkit dari posisi duduknya kemudian menghampiri Olivia yang sudah emosi. Nyonya Afiqa menahan tubuh Olivia agar wanita itu tidak melakukan apapun terhadap Alina.
"Mommy bilang apa sama kamu, Olivia? Jangan buat keributan! Mommy tidak ingin bermasalah sama Erlan hanya gara-gara kamu bikin ulah sama gadis ini," tegas Nyonya Afiqa dengan wajah serius menatap Olivia.
"Tapi, aku kesal, Mom! Bagaimana jika benar ia hanya memanfaatkan kepolosan Erlan? Dan Mommy ... apa Mommy juga akan diam saja dan malah ikut-ikutan mengakui bahwa bayi itu adalah cucunya Mommy, begitu?!" kesal Olivia.
"Itulah sebabnya Mommy ingin melakukan tes DNA terhadap bayi ini, Olivia. Tapi Erlan terus menolak dan Mommy tidak tahu apa alasan Erlan menolak keinginan Mommy."
"Ya, Mommy benar dan aku sangat setuju! Kita lakukan tes DNA, biar semuanya jelas dan gadis ini tidak bisa lagi membohongi kita," ketus Olivia.
Olivia melepaskan pegangan tangan Nyonya Afiqa kemudian kembali menghampiri Alina. "Kamu dengar itu, Alina? Sebaiknya kita lakukan lakukan tes DNA pada bayimu agar semuanya jelas!"
Alina menghela napas berat sembari menatap kedua wanita yang sedang berdiri di hadapannya secara bergantian. Setelah berpikir keras, akhirnya ia pun setuju dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, saya setuju."
...***...